Keterangan Gambar : ilustrasi. foto/unsplash
Kota Metro, A1BOS.COM - Ada kalanya kita ingin melewati hari tanpa melakukan banyak hal. Bangun agak siang, menikmati secangkir kopi, membaca buku, atau duduk santai di rumah. Tidak ada target yang harus dikejar. Tidak ada pekerjaan yang mendesak.
Namun, di tengah kebiasaan hidup yang serba cepat, waktu seperti itu kadang justru membuat kita merasa bersalah.
Apalagi ketika melihat orang lain tampak sibuk dengan pekerjaannya, mengembangkan bisnis, berolahraga, atau membagikan pencapaian di media sosial. Kita pun mulai bertanya-tanya, apa yang sudah dilakukan hari ini?
Perasaan semacam itu sebenarnya cukup wajar. Kita terbiasa mengukur keberhasilan dari sesuatu yang bisa dilihat: pekerjaan yang selesai, uang yang diperoleh, atau target yang tercapai.
Padahal, hidup tidak selalu tentang menghasilkan sesuatu.
Ada hari ketika kita perlu bekerja keras. Ada pula hari ketika tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beristirahat. Keduanya sama-sama penting.
Tuntutan hidup memang tidak sedikit. Pekerjaan harus selesai, kebutuhan keluarga perlu dipenuhi, dan penghasilan sebisa mungkin terus meningkat. Belum lagi keinginan untuk belajar hal baru atau mencapai sesuatu yang selama ini diimpikan.
Tidak salah jika kita ingin terus berkembang. Masalahnya, keinginan itu bisa berubah menjadi beban ketika setiap hari harus diisi dengan pencapaian.
Kita merasa belum melakukan sesuatu yang berarti jika tidak menyelesaikan pekerjaan. Waktu luang pun dianggap kesempatan yang terbuang apabila tidak digunakan untuk menghasilkan uang atau mempelajari keterampilan baru.
Akibatnya, kehidupan sehari-hari terasa seperti daftar pekerjaan yang tidak pernah habis.
Bahkan ketika sudah berada di rumah, pikiran masih tertinggal di kantor. Saat berkumpul bersama keluarga, perhatian justru tertuju pada pekerjaan yang harus diselesaikan besok.
Kita sibuk mengejar banyak hal, tetapi kadang lupa menikmati apa yang sudah dimiliki.
Sesekali, tidak ada salahnya menjalani hari dengan lebih santai. Menyelesaikan pekerjaan yang memang perlu dilakukan, lalu menggunakan sisa waktu untuk diri sendiri.
Tidak semua waktu luang harus menghasilkan sesuatu. Tidak semua kegiatan harus memberikan keuntungan.
Kadang, duduk santai sambil menikmati kopi sudah cukup membuat hari terasa menyenangkan.
Sebagian orang menganggap istirahat sebagai kegiatan yang baru boleh dilakukan setelah semua pekerjaan selesai. Padahal, pekerjaan hampir selalu ada. Ketika satu tugas selesai, biasanya sudah menunggu tugas berikutnya.
Kalau harus menunggu semuanya beres untuk beristirahat, kapan kita punya waktu untuk diri sendiri?
Penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan bahwa jeda memiliki manfaat bagi kesejahteraan dan membantu mengurangi kelelahan.
Charlotte Fritz, psikolog industri-organisasi dari Portland State University, bersama sejumlah peneliti membahas pentingnya jeda dalam artikel Give Me a Break. Mereka menjelaskan bahwa melepaskan diri sejenak dari pekerjaan dapat membantu memulihkan energi dan memperbaiki suasana hati.
Temuan lain datang dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 2022. Penelitian yang menganalisis 22 sampel independen dengan total 2.335 peserta itu menemukan bahwa jeda singkat dapat membantu meningkatkan energi dan mengurangi kelelahan.
Meski demikian, pengaruhnya terhadap kinerja secara keseluruhan tidak terbukti signifikan secara statistik.
Artinya, kita tidak perlu menjadikan produktivitas sebagai satu-satunya alasan untuk beristirahat.
Kita boleh beristirahat karena memang lelah. Kita boleh berhenti sejenak karena pikiran terasa penuh. Tidak perlu selalu ada target yang ingin dicapai setelahnya.
Sebab, istirahat bukan hanya cara untuk kembali bekerja dengan lebih baik. Istirahat juga bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri.
Tentu saja, duduk santai selama beberapa menit belum tentu cukup untuk memulihkan kelelahan yang menumpuk selama berminggu-minggu. Ada kalanya kita membutuhkan waktu lebih panjang untuk benar-benar pulih.
Karena itu, penting untuk mengenali batas kemampuan diri sendiri.
Media sosial sering membuat kita merasa tertinggal.
Hari ini, ada teman yang mendapat promosi. Besok, seseorang mengumumkan keberhasilan bisnisnya. Orang lain membagikan foto liburan, rumah baru, atau pencapaian yang selama ini kita impikan.
Melihat semua itu, kita mungkin mulai membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan mereka.
Mengapa orang lain bisa sejauh itu, sedangkan saya belum ke mana-mana?
Pertanyaan seperti ini bisa muncul meskipun sebenarnya kita sudah berusaha keras. Pekerjaan berjalan, kebutuhan keluarga terpenuhi, dan berbagai persoalan berhasil dilewati. Namun, semua itu terasa kurang berarti ketika dibandingkan dengan pencapaian orang lain.
Padahal, kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan mereka.
Apa yang muncul di media sosial biasanya merupakan momen yang ingin dibagikan. Kita tidak selalu mengetahui berapa lama mereka berjuang, masalah apa yang dihadapi, atau pengorbanan yang harus dilakukan untuk mencapai sesuatu.
Kita pun memiliki perjalanan sendiri, lengkap dengan tanggung jawab dan persoalan yang tidak selalu diketahui orang lain.
Karena itu, tidak adil jika kita terus-menerus mengukur diri menggunakan pencapaian orang lain.
Tidak semua orang harus sampai di tempat yang sama pada waktu yang bersamaan. Ada yang berkembang pesat dalam karier, ada yang lebih banyak mencurahkan perhatian kepada keluarga, dan ada pula yang sedang berusaha menata kembali kehidupannya.
Semua memiliki cerita masing-masing.
Ketika merasa tertinggal, kita sering menjadi orang yang paling keras menghakimi diri sendiri.
Pekerjaan belum selesai, kita menyalahkan diri. Target tidak tercapai, kita merasa tidak becus. Saat membutuhkan istirahat, muncul pikiran bahwa kita kurang rajin dibandingkan orang lain.
Padahal, tidak setiap keadaan harus disikapi dengan menyalahkan diri sendiri.
Psikolog Kristin Neff mengembangkan konsep self-compassion, yang secara sederhana berarti memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan ketika menghadapi kesulitan atau kegagalan.
Dalam tinjauan ilmiahnya di Annual Review of Psychology, Neff menjelaskan bahwa konsep tersebut mencakup sikap baik terhadap diri sendiri, kesadaran terhadap pengalaman yang sedang dihadapi, serta pemahaman bahwa kesulitan merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Dengan kata lain, kita bisa mengakui kekurangan tanpa harus merendahkan diri sendiri.
Ketika suatu target belum tercapai, kita tetap bisa mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki. Namun, tidak perlu menganggap seluruh usaha selama ini sebagai kegagalan.
Begitu pula ketika tubuh membutuhkan istirahat. Kita tidak harus merasa bersalah hanya karena hari ini tidak seproduktif kemarin.
Berbaik hati kepada diri sendiri bukan berarti mencari alasan untuk berhenti berusaha. Kita hanya perlu memahami bahwa manusia memiliki batas kemampuan dan keadaan yang berbeda-beda.
Ada saatnya kita mampu bekerja dengan penuh semangat. Ada pula waktu ketika tenaga tidak sebanyak biasanya.
Keduanya tidak perlu menjadi alasan untuk membenci diri sendiri.
Memberikan waktu untuk diri sendiri tidak harus dilakukan dengan pergi berlibur atau mengeluarkan banyak uang.
Hal-hal sederhana pun bisa menyenangkan.
Kita bisa menyeduh kopi pada pagi hari, membaca beberapa halaman buku, menyiram tanaman, berjalan kaki di sekitar rumah, atau berbincang santai dengan keluarga.
Bagi sebagian orang, istirahat berarti menikmati suasana rumah yang tenang. Bagi yang lain, mungkin mendengarkan musik, memasak makanan kesukaan, bertemu teman lama, atau kembali melakukan hobi yang sudah lama ditinggalkan.
Tidak ada cara yang berlaku untuk semua orang.
Yang penting, kegiatan tersebut membuat kita punya kesempatan untuk menikmati waktu tanpa terus memikirkan pekerjaan dan tuntutan lainnya.
Cobalah sesekali melakukan sesuatu tanpa menetapkan target.
Jika ingin membaca buku, tidak perlu menghitung berapa halaman yang harus selesai. Jika ingin berjalan kaki, tidak harus selalu mengejar jumlah langkah tertentu. Jika ingin berkumpul bersama keluarga, tidak perlu membuat agenda yang padat.
Nikmati saja prosesnya.
Kita tidak harus mengubah setiap kegiatan menjadi pencapaian baru. Terkadang, sesuatu terasa menyenangkan justru karena kita tidak sedang mengejar apa-apa.
Mungkin selama ini kita terlalu terbiasa bertanya, apa manfaat kegiatan ini?
Sesekali, tidak ada salahnya mengganti pertanyaan itu menjadi, apakah saya menikmati apa yang sedang saya lakukan?
Tentu saja, memberikan waktu untuk diri sendiri bukan berarti kita boleh mengabaikan semua tanggung jawab.
Pekerjaan tetap perlu diselesaikan. Janji harus ditepati. Kebutuhan keluarga juga harus diperhatikan.
Namun, ada perbedaan antara menghindari tanggung jawab dan mengambil waktu untuk memulihkan tenaga.
Orang yang beristirahat belum tentu malas. Bisa jadi, ia sudah bekerja keras selama berhari-hari dan membutuhkan waktu untuk mengembalikan energinya.
Sebaliknya, terus memaksakan diri ketika tubuh sudah kelelahan juga tidak selalu menunjukkan kedisiplinan.
Kita perlu belajar mengenali kapan harus melanjutkan pekerjaan dan kapan sebaiknya berhenti sejenak.
Jika tubuh terasa lelah, berikan kesempatan untuk beristirahat. Jika pikiran mulai sulit berkonsentrasi, cobalah mengambil jeda. Jika sudah lama tidak melakukan kegiatan yang disukai, sisihkan waktu untuk kembali menikmatinya.
Tidak semua kelelahan harus dijawab dengan bekerja lebih keras.
Ada kalanya, kita justru perlu memperlambat langkah agar tidak terus-menerus menghabiskan tenaga tanpa sempat memulihkannya.
Bagi banyak orang, akhir pekan menjadi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, berbelanja kebutuhan mingguan, bertemu teman, atau pergi ke tempat wisata.
Semua itu tentu boleh dilakukan. Namun, hari libur tidak harus selalu diisi dengan banyak kegiatan.
Kita juga tidak perlu merasa rugi hanya karena memilih tinggal di rumah ketika orang lain pergi berlibur.
Jika ingin tidur lebih lama setelah melewati pekan yang melelahkan, silakan. Jika ingin berjalan-jalan sebentar mencari udara segar, tidak masalah. Jika ingin menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa agenda khusus, nikmati saja.
Tidak perlu memaksakan diri melakukan banyak hal hanya karena merasa akhir pekan harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Bila memungkinkan, kurangi pula kebiasaan memeriksa pesan pekerjaan di luar jam kerja. Berikan kesempatan kepada pikiran untuk beralih dari urusan profesional ke kehidupan pribadi.
Kita memang tidak selalu bisa melepaskan diri sepenuhnya dari pekerjaan. Ada tanggung jawab yang tetap harus diselesaikan, terutama jika berkaitan dengan hal mendesak.
Namun, bukan berarti kita harus selalu tersedia setiap saat.
Menetapkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi merupakan salah satu cara untuk menjaga keseimbangan.
Hari libur bukan sekadar waktu untuk mengisi tenaga agar siap kembali bekerja pada Senin pagi. Hari libur juga kesempatan untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.
Sebab, kita bekerja untuk menjalani kehidupan. Jangan sampai kesibukan justru membuat kita lupa menikmati hidup itu sendiri.
Istirahat memang penting, tetapi ada kalanya tidur lebih lama atau mengambil cuti belum cukup untuk mengatasi kelelahan.
Jika rasa lelah berlangsung lama, kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasanya disukai, mengalami gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, atau terus merasa tidak berharga hingga aktivitas sehari-hari terganggu, sebaiknya kondisi tersebut tidak diabaikan.
Beristirahat bisa membantu mengatasi kelelahan biasa. Namun, keluhan yang menetap mungkin memerlukan perhatian lebih lanjut.
Berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan dapat membantu mencari tahu penyebabnya dan menentukan langkah yang sesuai.
Mencari bantuan bukan berarti seseorang tidak mampu menghadapi masalahnya sendiri. Justru, itu merupakan salah satu cara untuk merawat diri.
Kita tidak harus menunggu sampai benar-benar tidak sanggup menjalani aktivitas sehari-hari untuk mulai memperhatikan kondisi diri sendiri.
Ada hari ketika kita berhasil menyelesaikan banyak pekerjaan. Ada pula hari ketika rencana berantakan dan sebagian besar waktu habis untuk menyelesaikan persoalan yang tidak terduga.
Begitulah kehidupan berjalan.
Tidak setiap hari memberikan hasil seperti yang kita harapkan. Namun, bukan berarti hari yang kurang produktif otomatis menjadi hari yang sia-sia.
Kita sering lupa bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan yang selesai, uang yang diperoleh, atau pencapaian yang bisa diperlihatkan kepada orang lain.
Ada banyak hal lain yang juga penting, seperti kesehatan, hubungan dengan keluarga, persahabatan, dan kesempatan menikmati waktu untuk diri sendiri.
Kita boleh memiliki ambisi dan terus berusaha mencapai sesuatu. Namun, tidak perlu menjadikan kesibukan sebagai ukuran utama untuk menilai apakah hidup kita sudah berjalan dengan baik.
Jika hari ini tidak banyak pekerjaan yang selesai, bukan berarti semua usaha sebelumnya kehilangan arti.
Mungkin kita memang sedang lelah. Mungkin ada urusan keluarga yang membutuhkan perhatian lebih. Atau mungkin, kita hanya membutuhkan satu hari untuk menjalani semuanya dengan lebih pelan.
Besok masih ada kesempatan untuk melanjutkan apa yang belum selesai.
Untuk hari ini, cobalah berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: kapan terakhir kali menikmati waktu tanpa merasa harus melakukan sesuatu?
Jika jawabannya sudah lama, mungkin sudah waktunya memberikan sedikit ruang untuk diri sendiri.
Tidak harus pergi jauh. Tidak harus mengeluarkan banyak uang. Bahkan, tidak harus melakukan sesuatu yang istimewa.
Mulailah dari hal sederhana yang membuat kita merasa nyaman.
Sebab, hidup bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling sibuk atau paling cepat mencapai sesuatu.
Ada hari untuk bekerja keras, ada waktu untuk mengejar impian, dan ada saatnya kita perlu beristirahat.
Kita tidak harus produktif setiap hari untuk menjalani kehidupan yang berarti. Terkadang, memberi diri sendiri kesempatan untuk berhenti sejenak justru merupakan hal yang paling kita butuhkan.
Tulis Komentar