Kota Metro, A1BOS.COM – UPTD SD Negeri 11 Metro Pusat menggelar sosialisasi dan pendidikan parenting bertajuk “Sinergi Rumah dan Sekolah: Membangun Komunikasi Efektif antara Wali Murid dan Guru Kelas”, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara orang tua dan sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang serta melindungi anak.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–10.00 WIB di Aula SD Negeri 11 Metro tersebut diikuti kepala sekolah, dewan guru, pengurus Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kota Metro, serta orang tua dan wali murid kelas 1.
Kepala SD Negeri 11 Metro, Yuliana, S.Pd., M.Pd., mengatakan edukasi parenting penting untuk menyamakan pemahaman antara orang tua dan guru dalam mendampingi anak. Menurutnya, orang tua perlu memahami karakter anak sekaligus dinamika yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Sinergi ini sangat penting agar orang tua dan pihak sekolah memiliki pemahaman yang sama dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Selain memahami karakter anak, orang tua juga diharapkan dapat memahami peran serta dinamika yang dihadapi para guru di sekolah,” ujar Yuliana.
Materi parenting disampaikan Gatot Subroto, S.H., yang juga menjabat Ketua Komisi Kajian dan Analisis Standar Pelayanan Hak Anak LPAI Kota Metro. Dalam kegiatan tersebut, ia didampingi pengurus LPAI Kota Metro, Wandi.
Gatot menekankan, keberhasilan pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh proses belajar di sekolah, tetapi juga oleh pola pengasuhan dan komunikasi yang dibangun di lingkungan keluarga. Karena itu, orang tua dan guru perlu menempatkan diri sebagai mitra yang saling mendukung, bukan pihak yang saling menyalahkan ketika anak menghadapi masalah.
“Anak membutuhkan lingkungan yang aman dan nyaman, baik di rumah maupun di sekolah. Karena itu, komunikasi antara orang tua dan guru harus dibangun atas dasar saling percaya, saling menghargai, dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak,” jelas Gatot.
Dalam pemaparannya, Gatot juga menjelaskan bahwa siswa kelas 1 sekolah dasar tengah menjalani masa transisi dari pendidikan anak usia dini menuju lingkungan belajar yang lebih terstruktur. Pada tahap ini, anak perlu beradaptasi dengan jadwal belajar, meningkatkan kemandirian, serta belajar mengelola emosi dan membangun hubungan dengan teman sebaya.

Lebih lanjut Gatot menyampaikan, tantangan yang kerap muncul pada masa awal sekolah antara lain kelelahan fisik, rentang konsentrasi yang masih terbatas, serta perselisihan kecil dengan teman. Kondisi tersebut perlu dipahami orang tua agar tidak langsung dianggap sebagai bentuk kenakalan atau kegagalan anak dalam menyesuaikan diri.
Gatot juga mengingatkan pentingnya menghindari kesalahpahaman antara orang tua dan guru. Cerita anak yang belum utuh, pesan singkat yang berpotensi disalahartikan, hingga penyampaian keluhan di grup percakapan kelas dapat memicu ketegangan apabila tidak disikapi secara bijak.
Ia mendorong orang tua untuk mengutamakan klarifikasi secara pribadi dengan guru kelas sebelum mengambil kesimpulan. Jika muncul persoalan, orang tua disarankan menenangkan diri, mendengarkan cerita anak, menghubungi guru melalui jalur pribadi, kemudian mengatur pertemuan untuk mencari solusi bersama.
“Ketika muncul persoalan di sekolah, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan berdasarkan cerita sepihak. Dengarkan anak, klarifikasi kepada guru dengan tenang, lalu sepakati langkah penyelesaian yang terbaik bagi anak,” imbuhnya.
Selain komunikasi, materi parenting juga menyoroti perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Anak berhak mendapatkan perlindungan dari kekerasan fisik dan verbal, memperoleh kesempatan tumbuh dan belajar sesuai tahap perkembangannya, serta didengar ketika menyampaikan perasaan.
Orang tua dan guru diingatkan untuk menghindari pemberian label negatif seperti “bodoh”, “lamban”, atau “nakal”, hukuman fisik, serta sikap yang meremehkan kesedihan dan kecemasan anak. Sebaliknya, anak perlu mendapatkan apresiasi atas proses belajar, kesempatan mengembangkan kemandirian, dan ruang untuk menceritakan pengalaman mereka tanpa takut dihakimi.
Dalam lingkup keluarga, orang tua juga didorong membangun kebiasaan belajar yang konsisten, menyediakan suasana rumah yang kondusif, serta mendampingi anak tanpa mengambil alih tugasnya. Sementara itu, sekolah berperan membimbing proses belajar, memfasilitasi interaksi yang sehat, dan menyampaikan perkembangan anak secara objektif kepada orang tua.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab. Para wali murid antusias menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan narasumber serta pihak sekolah mengenai berbagai persoalan pengasuhan dan pendampingan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, SD Negeri 11 Metro Pusat bersama LPAI Kota Metro berharap terbangun komunikasi yang lebih terbuka dan konstruktif antara keluarga dan sekolah. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, serta mendukung perkembangan karakter dan kemandirian peserta didik.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama yang diikuti kepala sekolah, dewan guru, narasumber, pengurus LPAI Kota Metro, serta orang tua dan wali murid yang hadir. (Wandi)
Tulis Komentar