Kota Metro, A1BOS.COM - Isu gagal bayar yang membayangi
pelaksanaan proyek-proyek Pemerintah Kota Metro sepanjang tahun 2025 akhirnya
ditanggapi langsung oleh Walikota Metro, Bambang Iman Santoso.
Namun alih-alih memberikan kepastian waktu penyelesaian
orang nomor satu di Bumi Sai Wawai itu lebih menekankan pentingnya kewajaran,
mekanisme aturan, serta meminta media dan LSM menyajikan pemberitaan yang
dinilainya berimbang.
Pernyataan tersebut disampaikan Bambang usai menghadiri
kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Kelurahan
Rejomulyo, Kecamatan Metro Selatan, Selasa (06/01/2026).
Menanggapi pertanyaan terkait isu gagal bayar yang dikeluhkan sejumlah penyedia jasa konstruksi Bambang menyebut persoalan tersebut masih berada dalam batas kewajaran selama tidak melanggar aturan perundang-undangan.
"Kalau misalkan hal yang demikian itu memang masih
dalam tahap kewajaran seandainya tidak menyalahi aturan perundang-undangan dan
bisa diselesaikan sebaik-baiknya insyaallah begitu sudah termin dimulainya
anggaran 2026 bisa diselesaikan," kata Bambang di hadapan awak media.
Namun ketika didesak soal kepastian waktu pembayaran yang
konkret Walikota mengaku belum dapat memastikan kapan kewajiban tersebut akan
diselesaikan. Ia beralasan bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) tidak semata-mata bergantung pada kebijakan Pemerintah Kota
Metro.
"Ya kita lihat kadang-kadang kalau sudah bicara
tentang APBD itu kan bicara tentang aturan. Ada mekanisme yang kadang-kadang
juga harus dikoordinasikan bukan hanya sekedar kebijakan Pemerintah Kota Metro tetapi
juga provinsi," katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hingga memasuki awal
2026 persoalan gagal bayar belum memiliki tenggat waktu penyelesaian yang jelas
meskipun dampaknya telah dirasakan langsung oleh kontraktor dan pelaku usaha
lokal.
Dalam kesempatan itu Bambang juga secara terbuka meminta
dukungan media dan menyinggung peran LSM agar tidak hanya menyoroti sisi
negatif pemerintah daerah. Ia menyebut jumlah paket pekerjaan fisik di Kota
Metro pada 2025 cukup besar dan tidak semuanya bermasalah.
"Pada tahun 2025 ini kawan-kawan juga tahu bahwasanya
di Kota Metro ada paket pekerjaan fisik yang tidak sedikit. Kalau misalkan ada
98 proyek dan ada kendala satu, dua, atau mungkin 10 saja, itu kan masih bisa
dimaklumi," ujarnya.
Menurut Bambang pemberitaan yang hanya menyoroti kendala
dinilai tidak mencerminkan keseluruhan kinerja pemerintah daerah. Ia pun
meminta media melakukan "counter" terhadap informasi yang dianggap
menyudutkan pemerintah.
"Tolong juga di-counter. Jika memang ada kawan-kawan
segelintir yang tidak bertanggung jawab dan hanya menyudutkan pemerintah tanpa
melihat berapa yang dikerjakan dan berapa yang menjadi kendala, mestinya harus
ada keseimbangan pemberitaan," tegasnya.
Ia menambahkan masyarakat jangan hanya disuguhi informasi
mengenai kekurangan tetapi juga perlu mengetahui dampak positif dari program
yang telah dijalankan Pemkot Metro.
"Supaya masyarakat jangan tahunya sesuatu yang
sifatnya jelek saja kekurangannya saja tetapi juga sampaikan hal-hal yang
berdampak positif yang sudah kami lakukan," imbuhnya.
Ketika ditanya apakah media tetap perlu menjalankan fungsi
pengawasan sebagai bentuk kontrol publik dan bukti bahwa pemerintah tidak
antikritik Bambang menekankan konsep kolaborasi dan simbiosis mutualisme antara
pemerintah dan media.
"Kita harus benar-benar berkolaborasi bekerja sama.
Pemerintah daerah juga ketika bekerja sama dengan kawan-kawan media harus ada simbiosis
mutualisme," katanya.
Bambang bahkan menyinggung soal dukungan anggaran bagi
media melalui APBD selama tidak melanggar aturan yang berlaku dan
dikoordinasikan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
"Misalkan ada anggaran yang harus disiapkan lewat APBD
selama itu tidak melanggar aturan perundang-undangan maka itu kami siapkan.
Apakah itu lewat Kominfo itu yang mesti menjadi satu koordinasi yang
baik," ungkapnya.
Ia juga mengakui sempat menyentil Kepala Dinas Kominfo
dalam forum tersebut meski diklaim hanya dalam bentuk kelakar namun memiliki
pesan penting terkait penguatan komunikasi dengan media.
"Walaupun itu hanya kelakar tapi ada makna di balik
itu semuanya untuk menjalin hubungan dan komunikasi yang baik. Kadis yang kami
percayakan untuk mengoordinasikan dan berkomunikasi dengan kawan-kawan media
adalah Kominfo," tandasnya.
Meski demikian pernyataan wali kota ini masih menyisakan
tanda tanya besar di tengah publik khususnya para penyedia jasa yang menunggu
kepastian pembayaran.
Hingga kini belum ada kejelasan jadwal penyelesaian gagal bayar sementara pemerintah daerah justru meminta ruang pemakluman serta keseimbangan pemberitaan atas persoalan yang berdampak langsung pada roda ekonomi lokal.
(Taklika)
Tulis Komentar