Kota Metro, A1BOS.COM - Negara kembali kalah cepat dari
sekop dan gotong royong rakyat di Jalan Pattimura, Kelurahan Banjarsari,
Kecamatan Metro Utara, Jum'at (09/01/2026) puluhan warga bersama perusahaan
swasta dan pemerintah kecamatan menimbun jalan berlubang parah sebuah ironi
telanjang di tengah klaim pembangunan infrastruktur Pemerintah Provinsi
Lampung.
Aksi yang dilakukan gerakan Rakyat Banjarsari Bersatu ini
bukan kerja bakti seremonial. Gerakan tersebut adalah protes politik terbuka
terhadap Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan jajaran Pemerintah
Provinsi yang hingga kini tak kunjung memperbaiki jalan provinsi yang rusaknya
sudah melampaui batas kewajaran.
Lubang besar yang menganga dengan kedalaman tak biasa telah
menjadi perangkap maut, memakan korban kecelakaan, merusak kendaraan, dan
melumpuhkan aktivitas warga.
Ketika pemerintah provinsi masih berkutat pada laporan,
proposal, dan janji anggaran, warga memilih bertindak. Dengan alat seadanya dan
bantuan lima truk fuso batu kriting dari PT Sinar Jaya Inti Mulya (Pabrik Tomo)
rakyat secara simbolik mengambil alih fungsi negara dengan memastikan
keselamatan warganya sendiri.
Camat Metro Utara Heri Hendarto secara terbuka menyampaikan
kekecewaan warganya atas lambannya respons Pemprov Lampung. Ia menegaskan bahwa
seluruh prosedur administratif telah ditempuh namun hasilnya masih menunggu
waktu.
"Kami sudah reses dengan DPR Provinsi melalui Pak
Tondi di Komisi IV. Proposal sudah kami titipkan. Ini jalan kewenangan provinsi
dan sangat urgent. Karena jalan ini sudah sangat parah kami mohon ke pak
gubernur agar merealisasikan perbaikan jalan ini di tahun 2026 ini," kata
dia saat ditemui di lokasi gotong royong, Jumat (09/01/2026).
Pernyataan itu menampar keras wajah birokrasi provinsi.
Jalan Pattimura bukan jalan desa bukan pula jalan lingkungan. Jalur tersebut
merupakan jalan provinsi di wilayah kota, namun kondisinya jauh dari layak.
"Kondisi jalan ini sudah sangat parah. Kami mohon
kepada Pak Gubernur agar perbaikan jalan ini direalisasikan di 2026. Bahkan
kalau perlu Pak Gubernur turun langsung ke sini jangan hanya menerima laporan dari
anak buahnya," tegas Heri.
Sindiran itu mengandung pesan jelas bahwa ada jarak yang
lebar antara laporan di atas meja dan realitas di lapangan.
"Ini tidak layak disebut jalan kota. Jalan kota itu
harusnya mulus. Metro ini kota masyarakat Metro sudah tahu semua kondisi jalan
ini," ujarnya.
Nada kritik itu seolah menegaskan kegagalan Pemprov dalam
menjalankan kewenangan dasar dan menyediakan infrastruktur yang aman. Ironisnya
di tengah absennya negara justru sektor swasta yang bergerak lebih dulu. Perwakilan
PT Sinar Jaya Inti Mulya Suyono mengakui bahwa perusahaan turun tangan karena
dorongan kemanusiaan bukan karena kewajiban.
"Ini hanya penimbunan sementara. Lubangnya sudah
sangat dalam dan banyak laporan kecelakaan. Kami terpanggil untuk membantu
sambil menunggu pemerintah membangun jalan ini," ucapnya.
Pernyataan tersebut menjadi tamparan lanjutan bagi Pemprov.
Ketika perusahaan dan warga bisa cepat merespons bahaya di lapangan publik pun
bertanya di mana negara saat warga jatuh satu per satu di jalan rusak. Suyono
berharap langkah ini tidak justru menjadi alasan bagi pemerintah untuk terus
menunda.
"Harapannya setelah masyarakat bergerak pemerintah
bisa secepatnya membangun jalan ini. Jangan sampai gotong royong dijadikan
pembenaran untuk pembiaran," ungkapnya.
Dari sisi warga kekecewaan bercampur dengan rasa syukur.
Mbah Bejo warga setempat mengucapkan terima kasih atas bantuan batu kriting
sembari menyiratkan kritik yang lebih dalam.
"Kami berterima kasih tapi seharusnya ini bukan tugas
warga dan perusahaan. Ini jalan provinsi," katanya singkat.
Peristiwa di Jalan Pattimura menjadi potret buram wajah
pembangunan Lampung. Ketika jalan rusak dibiarkan bertahun-tahun dan perbaikan
justru digerakkan oleh rakyat maka yang rusak bukan hanya aspal melainkan juga
kepercayaan publik.
Kini bola panas berada di tangan Gubernur Lampung. Akankah Pemprov turun langsung memperbaiki jalan ini secara permanen dan menjawab protes rakyat atau membiarkan gotong royong menjadi tameng dari kegagalan sementara lubang-lubang lain menunggu korban berikutnya. Jalan Pattimura telah berbicara dan pertanyaannya apakah Gubernur mau mendengar atau tetap nyaman dari balik laporan.
(Taklika)
Tulis Komentar