08117992581

Bekerja Demi Gaji: Apakah Salah Jika Tidak Menyukai Pekerjaan?

$rows[judul] Keterangan Gambar : ilustrasi/unsplash

Kota Metro, A1BOS.COM - Tidak semua orang berangkat kerja dengan perasaan senang. Ada yang memang menikmati pekerjaannya, tetapi ada juga yang menjalaninya karena alasan yang lebih sederhana: membutuhkan gaji.

Bagi sebagian orang, pekerjaan bukan soal passion atau cita-cita. Gaji dibutuhkan untuk membayar cicilan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai sekolah anak, dan berbagai keperluan lain.

Jadi, tidak menyukai pekerjaan bukan berarti seseorang malas bekerja.

Tiga Cara Memandang Pekerjaan

Psikolog organisasi Amy Wrzesniewski bersama sejumlah peneliti memperkenalkan tiga cara orang memandang pekerjaan, yakni job, career, dan calling.

Orang dengan orientasi job cenderung melihat pekerjaan sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Orientasi career lebih berkaitan dengan pencapaian, perkembangan, dan posisi profesional. Sementara calling melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang memberikan makna dan kepuasan pribadi.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa cara seseorang memandang pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh profesinya. Dua orang yang bekerja di bidang yang sama bisa memiliki pandangan yang sangat berbeda terhadap pekerjaan mereka.

Artinya, bekerja terutama karena membutuhkan gaji bukan tanda seseorang tidak punya ambisi.

Tidak Semua Orang Harus Mencintai Pekerjaannya

Ada anggapan bahwa pekerjaan yang ideal adalah pekerjaan yang disukai. Nasihat untuk mengikuti passion juga sering diberikan kepada orang yang sedang memilih karier.

Namun, kebutuhan hidup tidak selalu mengikuti teori tersebut.

Tagihan datang setiap bulan. Kebutuhan keluarga juga terus berjalan. Karena itu, memilih pekerjaan yang mungkin tidak terlalu disukai tetapi memberikan penghasilan stabil bisa menjadi keputusan yang masuk akal.

Pekerjaan tersebut mungkin tidak membuat seseorang bersemangat setiap Senin pagi. Tetapi pekerjaan itu bisa memberikan rasa aman karena kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.

Di satu kantor pun, cara orang melihat pekerjaannya bisa berbeda.

Seorang staf administrasi mungkin bekerja terutama untuk mendapatkan penghasilan. Rekannya bisa melihat posisi yang sama sebagai batu loncatan menuju jabatan yang lebih tinggi. Ada pula yang merasa pekerjaannya memberikan manfaat bagi orang lain.

Pekerjaannya sama. Alasannya berbeda.

Ketika Gaji Menjadi Alasan Utama

Persoalan mulai muncul ketika seseorang tidak hanya tidak menyukai pekerjaan, tetapi juga merasa terkuras hampir setiap hari.

Senin terasa berat. Jam kerja terasa panjang. Bahkan Minggu sore bisa terasa kurang menyenangkan karena besok harus kembali bekerja.

Lalu datanglah tanggal gajian.

Untuk sementara, semua terasa lebih masuk akal.

Kondisi seperti ini tidak otomatis membuat seseorang menjadi pekerja yang buruk. Selama tugas tetap dikerjakan dengan baik, seseorang tidak harus mencintai pekerjaannya untuk bisa bersikap profesional.

Ada orang yang bekerja terutama untuk membangun kehidupan di luar kantor.

Gaji digunakan untuk keluarga. Setelah pulang kerja, waktunya dihabiskan bersama anak, pasangan, teman, atau digunakan untuk olahraga dan hobi.

Dalam kondisi seperti itu, pekerjaan memang bukan bagian yang paling menyenangkan dalam hidup. Tetapi pekerjaan memungkinkan seseorang menjalani bagian hidup yang justru dianggap lebih penting.

Kapan Kondisi Ini Mulai Menjadi Masalah?

Tidak menyukai pekerjaan sebenarnya bukan masalah besar.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa tidak puas tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Misalnya, seseorang terus merasa tertekan, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, mudah marah, mengalami gangguan tidur, atau merasa tidak memiliki masa depan di tempat kerja.

Jika sudah seperti itu, masalahnya mungkin bukan sekadar tidak menyukai pekerjaan.

Bisa jadi ada persoalan lain yang lebih mendasar. Beban kerja terlalu berat, hubungan dengan atasan tidak sehat, lingkungan kerja tidak nyaman, kesempatan berkembang terbatas, jam kerja terlalu panjang, atau penghasilan yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab.

Cara seseorang melihat pekerjaan juga bisa berubah.

Kondisi ekonomi, kebutuhan keluarga, pengalaman hidup, dan usia dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam bekerja. Orang yang saat ini bekerja terutama demi gaji belum tentu memiliki pandangan yang sama lima atau sepuluh tahun mendatang.

Tidak Harus Langsung Resign

Ketika pekerjaan sudah terasa tidak cocok, mengundurkan diri memang terlihat sebagai jalan keluar paling sederhana.

Tetapi bagi banyak orang, resign bukan keputusan yang bisa dilakukan begitu saja.

Jika gaji menjadi sumber utama penghasilan keluarga, meninggalkan pekerjaan tanpa persiapan justru bisa menimbulkan persoalan baru.

Karena itu, perubahan bisa dilakukan perlahan.

Sambil tetap bekerja, seseorang dapat mulai mempelajari keterampilan baru, memperluas jaringan profesional, memperbarui CV dan portofolio, mencari lowongan yang lebih sesuai, atau mencoba usaha sampingan.

Dana darurat juga penting disiapkan.

Dengan begitu, keputusan untuk pindah pekerjaan tidak muncul hanya karena sedang kesal setelah mendapat teguran dari atasan atau mengalami hari kerja yang buruk.

Ada perhitungan yang lebih matang.

Pekerjaan Bukan Seluruh Identitas

Dunia kerja juga sering membuat orang merasa bahwa pekerjaan adalah bagian utama dari identitasnya.

Pertanyaan seperti “kerja di mana?” atau “profesinya apa?” bahkan sering menjadi pembuka percakapan.

Padahal, seseorang tidak berhenti menjadi dirinya sendiri ketika jam kerja berakhir.

Ada keluarga, teman, kesehatan, hobi, komunitas, dan berbagai hal lain yang juga penting dalam kehidupan.

Karena itu, tidak semua orang harus menjadikan pekerjaan sebagai sumber utama kebahagiaan.

Ada yang memang mencintai profesinya. Ada yang mengejar karier dan jabatan. Ada pula yang bekerja delapan jam sehari supaya bisa menikmati waktu bersama keluarga setelah pulang kantor.

Tidak ada satu pilihan yang berlaku untuk semua orang.

Konsep job, career, dan calling yang diperkenalkan Wrzesniewski dan koleganya juga menunjukkan bahwa orang dapat memiliki orientasi yang berbeda terhadap pekerjaan.

Jangan Sampai Gaji Dibayar Terlalu Mahal

Bekerja karena membutuhkan gaji bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Yang lebih penting adalah melihat apa yang harus dikorbankan untuk mendapatkan gaji tersebut.

Jika pekerjaan tidak terlalu disukai tetapi masih bisa dijalani dengan sehat, memberikan penghasilan yang layak, dan menyisakan waktu untuk kehidupan pribadi, mungkin situasinya masih bisa diterima.

Sebaliknya, jika pekerjaan mulai membuat kesehatan memburuk, hubungan dengan keluarga terganggu, atau kehidupan terasa sepenuhnya habis untuk bekerja, sudah waktunya melakukan evaluasi.

Jawabannya pun tidak selalu harus resign.

Mungkin yang diperlukan adalah membatasi jam kerja, membicarakan beban pekerjaan dengan atasan, pindah divisi, mencari lingkungan kerja baru, atau memperbaiki kondisi keuangan sebelum mengambil keputusan.

Pada akhirnya, bekerja memang bertujuan mendapatkan penghasilan.

Tetapi gaji seharusnya membantu seseorang menjalani kehidupan, bukan membuat seluruh kehidupannya habis untuk mendapatkan gaji.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)