Keterangan Gambar : ilustrasi/unsplash
Kota Metro, A1BOS.COM - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa kemudahan dalam kehidupan digital. Namun, teknologi ini juga membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan, mencuri data pribadi, hingga mengambil alih akun digital.
Dengan bantuan AI, pelaku dapat meniru suara seseorang, membuat video palsu, menyusun pesan penipuan yang personal, bahkan menyamar sebagai anggota keluarga atau pimpinan perusahaan.
Modus tersebut semakin sulit dikenali karena hasil manipulasi AI dapat menyerupai komunikasi asli. Masyarakat tidak lagi cukup mengandalkan kemampuan membedakan pesan palsu dari kesalahan tata bahasa atau tampilan yang mencurigakan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengingatkan bahwa ancaman keamanan digital kini tidak hanya menyasar sistem teknologi, tetapi juga identitas, informasi, dan kepercayaan manusia.
Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kemkomdigi Raden Wijaya Kusumawardhana menyampaikan hal tersebut dalam National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (28/10).
Menurutnya, ancaman digital tidak selalu dimulai dengan upaya membobol sistem. Pelaku juga dapat memanipulasi manusia yang menggunakan sistem tersebut.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan memverifikasi identitas, mengenali informasi mencurigakan, serta memahami risiko penyalahgunaan AI.
Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah deepfake. Teknologi ini memungkinkan seseorang membuat gambar, video, atau suara palsu yang menyerupai orang sungguhan.
Pelaku dapat memanfaatkan foto dan rekaman suara yang tersedia di internet untuk membuat identitas palsu. Hasilnya bisa digunakan untuk meminta uang, memperoleh informasi rahasia, atau meyakinkan korban agar memberikan akses ke akun digital.
Ancaman lainnya adalah voice cloning, yaitu teknologi AI yang mampu meniru suara seseorang berdasarkan sampel rekaman.
Modus ini dapat digunakan untuk menghubungi korban dengan mengaku sebagai anggota keluarga, teman, atau rekan kerja. Pelaku biasanya menciptakan situasi darurat agar korban segera mengirimkan uang tanpa melakukan verifikasi.
Laporan Internet Crime Complaint Center (IC3) FBI tahun 2025 mencatat 22.364 pengaduan yang memuat informasi terkait penggunaan AI dalam kejahatan siber. Kerugian yang disesuaikan (adjusted losses) dari pengaduan tersebut mencapai USD 893.346.472 atau sekitar USD 893,3 juta.
Laporan itu mengelompokkan berbagai jenis kejahatan yang memiliki keterkaitan dengan AI, termasuk penipuan investasi, business email compromise, penipuan percintaan, dan penyamaran identitas.
Angka tersebut bukan seluruhnya kerugian akibat deepfake atau peniruan suara. FBI menggunakan kategori AI-related untuk mencatat pengaduan yang menyebut keterlibatan teknologi AI dalam kejahatan.
Data tersebut juga berasal dari pengaduan yang diterima FBI di Amerika Serikat, sehingga tidak dapat digunakan sebagai gambaran langsung jumlah kejahatan AI di Indonesia.
Menghadapi ancaman tersebut, masyarakat perlu menerapkan kebiasaan keamanan digital yang lebih disiplin. Berikut sejumlah langkah untuk melindungi data pribadi dan akun digital.
Jangan langsung percaya ketika menerima telepon atau panggilan video dari seseorang yang meminta transfer uang, kode OTP, maupun informasi rahasia.
Suara dan wajah yang terlihat familiar belum tentu berasal dari orang sebenarnya. Pelaku dapat memanfaatkan teknologi AI untuk menirunya.
Lakukan konfirmasi melalui nomor telepon lain yang sudah tersimpan. Jika mengatasnamakan anggota keluarga, hubungi langsung orang tersebut melalui saluran komunikasi berbeda.
Masyarakat juga dapat membuat kata sandi khusus bersama keluarga untuk memverifikasi permintaan bantuan dalam situasi darurat.
Autentikasi dua faktor atau two-factor authentication (2FA) memberikan lapisan perlindungan tambahan pada akun digital.
Dengan fitur ini, seseorang membutuhkan verifikasi tambahan selain kata sandi untuk masuk ke akun.
Aktifkan 2FA pada email, media sosial, layanan perbankan, dan penyimpanan cloud.
Jika tersedia, gunakan aplikasi autentikator atau passkey. Hindari memberikan kode OTP kepada siapa pun, termasuk orang yang mengaku sebagai petugas layanan pelanggan.
Menggunakan satu kata sandi untuk banyak akun meningkatkan risiko pencurian data.
Jika satu layanan mengalami kebocoran data, pelaku dapat mencoba menggunakan kombinasi email dan kata sandi yang sama untuk mengakses akun lainnya.
Teknik ini dikenal sebagai credential stuffing. AI juga dapat membantu pelaku menyusun pesan phishing yang lebih personal untuk memperoleh kredensial korban.
Gunakan kata sandi panjang, unik, dan sulit ditebak. Manfaatkan password manager untuk menyimpan serta mengelola kata sandi.
Hindari menggunakan tanggal lahir, nama anggota keluarga, atau nomor telepon sebagai kata sandi.
Layanan AI generatif dapat membantu pekerjaan sehari-hari. Namun, pengguna perlu berhati-hati ketika memasukkan informasi pribadi ke dalam platform tersebut.
Hindari mengunggah foto KTP, paspor, nomor rekening, informasi kartu pembayaran, kata sandi, maupun dokumen pekerjaan yang bersifat rahasia.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:
Samarkan informasi pribadi sebelum mengunggah dokumen.
Jangan mengunggah dokumen lengkap jika hanya membutuhkan sebagian informasi.
Periksa pengaturan penggunaan percakapan untuk pelatihan model jika tersedia.
Hapus riwayat percakapan atau unggahan sensitif jika layanan menyediakan fitur tersebut.
Ikuti kebijakan keamanan perusahaan ketika menggunakan AI untuk mengolah dokumen pekerjaan.
Pengguna juga perlu memahami bahwa pengaturan privasi berbeda pada setiap layanan AI.
Phishing merupakan modus penipuan yang bertujuan memperoleh informasi sensitif melalui pesan atau situs palsu.
Dengan bantuan AI, pelaku dapat menyusun pesan menggunakan bahasa profesional, meniru gaya komunikasi perusahaan, bahkan menyesuaikan isi pesan dengan identitas calon korban.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain permintaan pembaruan data rekening, tautan verifikasi akun, lampiran yang tidak pernah diminta, serta instruksi transfer dengan batas waktu mendesak.
Jangan langsung mengeklik tautan dalam pesan. Periksa alamat pengirim dan alamat situs sebelum memasukkan informasi apa pun.
Lebih aman membuka layanan melalui aplikasi resmi atau mengetik sendiri alamat situs yang dituju.
Informasi yang diunggah ke media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyusun profil seseorang.
Nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah, tempat bekerja, hingga foto keluarga bisa menjadi bahan bagi pelaku untuk membuat penipuan yang lebih meyakinkan.
Batasi informasi pribadi yang ditampilkan secara publik.
Periksa juga pengaturan privasi pada setiap platform media sosial. Hindari mengunggah dokumen identitas, informasi keluarga yang sensitif, dan detail perjalanan secara real time.
Semakin sedikit informasi pribadi yang tersedia secara terbuka, semakin kecil pula bahan yang dapat dimanfaatkan pelaku untuk menyamar.
Pembaruan sistem operasi dan aplikasi penting untuk menjaga keamanan perangkat.
Pengembang perangkat lunak secara berkala merilis pembaruan untuk memperbaiki celah keamanan yang berpotensi dimanfaatkan penyerang.
Pastikan ponsel, komputer, browser, dan aplikasi menggunakan versi terbaru.
Unduh aplikasi hanya melalui toko resmi. Hapus aplikasi yang tidak lagi digunakan dan hindari memasang program dari sumber yang tidak jelas.
Langkah ini membantu mengurangi risiko pencurian data melalui perangkat yang memiliki celah keamanan.
Jaringan Wi-Fi publik tidak otomatis berbahaya. Namun, pengguna perlu mewaspadai jaringan palsu dan risiko penyadapan informasi melalui jaringan yang tidak aman.
Gunakan kata sandi kuat pada jaringan Wi-Fi rumah dan aktifkan enkripsi WPA2 atau WPA3 jika tersedia.
Jika menggunakan Wi-Fi publik, pastikan nama jaringan benar-benar milik penyedia tempat tersebut.
Jangan memasukkan kata sandi, kode OTP, atau data kartu pembayaran melalui tautan mencurigakan yang diterima ketika menggunakan jaringan publik.
Untuk transaksi keuangan penting, lebih aman menggunakan data seluler atau hotspot pribadi.
Selain pencurian informasi, pengguna juga perlu mewaspadai ransomware, yaitu perangkat lunak berbahaya yang dapat mengunci atau mengenkripsi file korban.
Pelaku biasanya meminta tebusan agar korban bisa memperoleh kembali akses ke data tersebut.
Lakukan pencadangan data secara berkala ke penyimpanan eksternal atau layanan cloud tepercaya.
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah prinsip 3-2-1, yaitu memiliki tiga salinan data, menyimpannya pada dua jenis media berbeda, dan menempatkan satu salinan di lokasi terpisah.
Pastikan salinan cadangan tidak selalu terhubung ke komputer utama agar tidak mudah ikut terkena serangan.
Jika menemukan aktivitas mencurigakan, segera lakukan tindakan pengamanan.
Ganti kata sandi melalui perangkat yang aman dan keluarkan seluruh sesi masuk yang tidak dikenal.
Aktifkan kembali autentikasi dua faktor. Jika berkaitan dengan rekening atau kartu pembayaran, segera hubungi bank melalui kanal resmi.
Simpan bukti berupa tangkapan layar, pesan, email, nomor rekening, tautan, dan riwayat transaksi.
Beri tahu kontak jika akun media sosial atau WhatsApp digunakan pelaku untuk menghubungi orang lain.
Jangan menghapus bukti komunikasi sebelum menyimpannya untuk keperluan pelaporan.
Masyarakat yang menjadi korban penipuan berbantuan AI perlu segera mengambil tindakan. Kecepatan pelaporan, terutama dalam kasus penipuan transaksi keuangan, dapat membantu proses penelusuran dan upaya pemblokiran dana.
Ada beberapa jalur yang dapat dimanfaatkan:
1. Indonesia Anti-Scam Centre (IASC)
Korban penipuan transaksi keuangan dapat melaporkan kejadian melalui Indonesia Anti-Scam Centre yang dikoordinasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Layanan ini menghubungkan laporan korban dengan lembaga keuangan terkait untuk mempercepat penanganan dan upaya pemblokiran rekening yang digunakan pelaku.
Pelaporan dapat dilakukan melalui https://iasc.ojk.go.id.
2. Bank atau penyedia layanan pembayaran
Jika terjadi transaksi mencurigakan, segera hubungi bank atau penyedia layanan pembayaran melalui nomor resmi yang tercantum pada aplikasi atau situs resminya.
Minta bantuan untuk mengamankan rekening dan menindaklanjuti transaksi yang tidak dikenal.
3. Kepolisian
Korban juga dapat membuat laporan polisi dengan membawa bukti transaksi, percakapan, nomor telepon, rekening tujuan, dan informasi lain yang berkaitan dengan kejadian.
4. Layanan aduan Kemkomdigi
Untuk melaporkan nomor telepon yang terindikasi digunakan dalam penipuan, masyarakat dapat memanfaatkan https://aduannomor.id.
Sementara itu, laporan mengenai situs web, akun media sosial, atau konten digital bermuatan negatif dapat disampaikan melalui https://aduankonten.id.
Perkembangan AI membuat video, gambar, dan suara buatan semakin sulit dibedakan dari konten asli.
Kemkomdigi bahkan tengah mengkaji aturan pelabelan konten AI untuk membantu masyarakat mengetahui asal-usul konten digital.
Namun, pengguna internet tidak sebaiknya hanya mengandalkan kemampuan visual atau pendengaran untuk mengenali manipulasi.
Ketika menerima permintaan uang, informasi rahasia, atau tindakan mendesak, lakukan verifikasi melalui saluran komunikasi yang berbeda.
Jangan mengambil keputusan finansial hanya berdasarkan panggilan telepon, pesan suara, atau video konferensi.
Pada akhirnya, perlindungan data pribadi di era AI tidak cukup hanya mengandalkan antivirus dan perangkat keamanan. Kesadaran pengguna dalam menjaga informasi, membatasi jejak digital, serta memverifikasi identitas menjadi bagian penting untuk menghadapi kejahatan siber berbantuan AI.
Tulis Komentar