Bandar Lampung, A1BOS.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung. Metode open dumping perlahan dialihkan ke sistem controlled landfill. Namun, realisasi di lapangan masih jauh dari ideal.
“Dari total 14,1 hektar luas lahan, baru sekitar 3 hektar yang menggunakan metode controlled landfill,” ujar Sekretaris Daerah Kota Bandar Lampung, Iwan Gunawan, Kamis (07/08/2025).
TPA Bakung saat ini menampung hingga 800 ton sampah per hari. Sistem open dumping yang selama ini digunakan dinilai sudah tak relevan karena berisiko tinggi terhadap pencemaran lingkungan, baik tanah, udara, maupun air.
Metode controlled landfill menawarkan sistem pengelolaan yang lebih tertata, mulai dari pemadatan sampah, pelapisan tanah, hingga penggunaan geomembran dan pipa pengalir air lindi agar tidak mencemari lingkungan.
“Sampah dipadatkan, ditutup lapisan tanah, lalu dilapisi geomembran agar air lindi tak meresap ke tanah,” jelas Iwan.
Langkah ini, kata dia, merupakan bagian dari komitmen Pemkot menuju pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan sesuai standar lingkungan hidup.
Namun, di sisi lain, Anggota Komisi VII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan, menyoroti masih minimnya TPA di Lampung yang meninggalkan sistem open dumping. Dari sekitar 10 TPA di provinsi ini, sebagian besar masih menggunakan metode lama tersebut.
“Open dumping itu berbahaya jika terus dipertahankan. Bisa mencemari air tanah, udara, bahkan memicu penyebaran penyakit,” tegas Putri.
Sebagai perbandingan, Putri menyebut pengelolaan sampah di TPA Bantar Gebang, Jakarta, yang sudah menerapkan sanitary landfill dan pemanfaatan gas metana (LLFG) untuk energi.
“Lampung perlu belajar dari sana. Tidak bisa terus bertahan dengan sistem lama,” ujarnya.
Putri juga menekankan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Peran aktif masyarakat, terutama dalam memilah sampah dari rumah, dinilai sangat penting.
“Sampah makanan dan plastik adalah penyumbang terbesar. Maka perubahan perilaku masyarakat adalah kunci,” kata Putri. (JJ)
Tulis Komentar