08117992581

Tak Punya Gelar Tinggi, Chris Gardner Menembus Dunia Finansial dari Titik Terendah

$rows[judul] Keterangan Gambar : Chris Gardner. foto/pinterest

Kota Metro, A1BOS.COM - Tidak semua karier besar lahir dari bangku universitas ternama. Ada orang yang justru menemukan jalan hidupnya ketika keadaan sedang tidak memberi banyak pilihan. Chris Gardner adalah salah satu contohnya.

Sebelum dikenal sebagai pengusaha dan pembicara motivasi, ia pernah menjalani kehidupan yang jauh dari gambaran sukses. Bersama anaknya, Gardner bahkan pernah tidak memiliki tempat tinggal tetap.

Kisah tersebut kemudian dikenal luas melalui memoarnya, The Pursuit of Happyness. Buku yang terbit pada 2006 itu mengisahkan perjalanan Gardner melewati masa-masa sulit hingga masuk ke dunia finansial. Ceritanya kemudian diangkat menjadi film dengan judul yang sama dan dibintangi Will Smith sebagai Gardner.

Awal Karier yang Tidak Mudah

Gardner lahir di Milwaukee, Amerika Serikat pada 9 Februari 1954. Setelah keluar dari Angkatan Laut AS, ia sempat bekerja sebagai tenaga medis angkatan laut dan kemudian menjadi penjual alat kesehatan. Saat itu, ia belum memiliki gambaran bahwa dirinya kelak akan membangun karier di industri keuangan.

Salah satu titik balik dalam hidupnya datang dari sebuah pertemuan sederhana. Gardner melihat seorang pria mengendarai Ferrari merah dan penasaran dengan pekerjaannya. Pria tersebut ternyata seorang pialang saham. Dari percakapan itu, Gardner mulai melihat kemungkinan lain dalam hidupnya. Ia kemudian tertarik mempelajari dunia pialang saham dan mencari kesempatan untuk masuk ke industri tersebut.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika Gardner diterima dalam program pelatihan di Dean Witter Reynolds, sebuah perusahaan pialang saham. Namun, kesempatan tersebut tidak serta-merta membuat hidupnya menjadi lebih mudah. Ia justru harus menjalani masa pelatihan ketika kondisi ekonominya sedang sangat buruk.

Sempat Hidup Tanpa Rumah

Gardner mengikuti pelatihan tanpa memperoleh penghasilan tetap. Pada saat yang sama, ia harus mengurus anaknya seorang diri. Kondisi keuangan yang semakin sulit membuat mereka kehilangan tempat tinggal dan harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ada masa ketika Gardner dan anaknya tinggal di tempat penampungan. Mereka juga pernah tidur di ruang publik dan bahkan menggunakan toilet umum sebagai tempat berlindung. Di tengah keadaan seperti itu, Gardner tetap berusaha menjalani pelatihan dan mengejar pekerjaan yang diyakininya bisa mengubah masa depan.

Rutinitasnya bukan perkara mudah. Ia harus mencari calon klien, mempelajari pekerjaan sebagai pialang saham, sekaligus memastikan kebutuhan anaknya tetap terpenuhi. Waktu dan tenaga yang dimilikinya terbatas, tetapi kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan tetap di industri keuangan terlalu penting untuk dilepaskan.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Gardner berhasil mendapatkan posisi sebagai pialang saham penuh waktu. Dari titik tersebut, kehidupannya mulai bergerak ke arah yang berbeda.

Dari Pialang Menjadi Pengusaha

Setelah menjalani karier di Dean Witter Reynolds, Gardner kemudian bergabung dengan Bear Stearns. Di perusahaan tersebut, kemampuannya berkembang dan ia menjadi salah satu tenaga penjual yang menonjol.

Pengalaman bertahun-tahun di industri keuangan kemudian membawanya mengambil keputusan yang lebih besar. Pada 1987, Gardner mendirikan perusahaan pialang sahamnya sendiri, Gardner Rich & Co. Langkah itu membuatnya tidak lagi hanya bekerja untuk perusahaan lain, tetapi mulai membangun bisnis dengan namanya sendiri.

Karier Gardner kemudian berkembang ke berbagai bidang. Ia dikenal sebagai pengusaha, penulis dan pembicara motivasi. Pengalaman hidupnya menjadi bagian penting dari materi yang ia sampaikan kepada banyak orang, terutama tentang bagaimana seseorang menghadapi kesulitan dan tetap berusaha mencari kesempatan.

Ia juga mendirikan Chris Gardner Foundation dan menjalankan program Back-2-School yang mendorong anak-anak serta generasi muda untuk memiliki tujuan dan berani memikirkan masa depan mereka.

Gelar Bukan Satu-Satunya Jalan

Kisah Gardner tidak berarti pendidikan tinggi tidak penting. Justru pendidikan tetap menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kemampuan seseorang. Namun, perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa seseorang bisa memiliki jalan karier yang berbeda dari jalur yang selama ini dianggap ideal.

Gardner masuk ke dunia finansial bukan melalui jalan yang mudah. Ia tidak memulai dengan kehidupan yang mapan atau jaringan bisnis yang kuat. Ia memulai dari sebuah kesempatan sebagai peserta pelatihan, ketika kebutuhan hidup sehari-hari saja menjadi persoalan besar.

Yang membuat kisahnya menarik adalah bagaimana ia memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia belajar, bekerja, mencari klien, dan bertahan melewati masa yang sangat sulit. Perlahan, pengalaman itu berubah menjadi keterampilan dan kemudian menjadi karier.

Dari seorang ayah yang pernah tidak memiliki rumah, Gardner akhirnya membangun perusahaan sendiri dan dikenal luas karena kisah hidupnya. Perjalanannya menunjukkan bahwa titik terendah dalam kehidupan seseorang belum tentu menjadi tempat ia berhenti.

Kadang-kadang, justru dari kondisi paling sulit itulah seseorang menemukan keberanian untuk mengambil jalan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)