08117992581

Metro Lampung Memang Kecil, tetapi Aktivitas Kotanya Tak Kecil

$rows[judul] Keterangan Gambar : Metro dalam angka. ilustrasi: dibuat dengan bantuan AI

Kota Metro, A1BOS.COM - Kota Metro hanya punya lima kecamatan. Penduduknya 182.293 jiwa. BPS mencatat, pada 2025 jumlah penduduk laki-laki di Metro mencapai 91.701 jiwa. Perempuan 90.592 jiwa.

Dibandingkan sejumlah kabupaten di Lampung, angka itu tentu kecil. Kabupaten Lampung Tengah, misalnya, memiliki penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa.

Metro punya cerita lain. Kota ini tidak besar dari sisi wilayah maupun jumlah penduduk. Namun, aktivitas di dalamnya cukup lengkap. Ada kampus, sekolah, pusat perdagangan, industri pengolahan, usaha jasa, sampai lahan pertanian.

Yang menarik, beberapa indikator pembangunan Metro justru berada di antara yang tertinggi di Lampung.

IPM Metro Tembus 81,22

Lihat saja Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Pada 2024, IPM Metro tercatat 80,41. Setahun kemudian naik menjadi 81,22.

Dengan angka itu, Metro sejajar dengan Bandar Lampung sebagai daerah ber-IPM tertinggi di Lampung, keduanya masuk kategori sangat tinggi.

Umur harapan hidup saat lahir di Metro mencapai 75,86 tahun. Harapan lama sekolah 14,97 tahun. Rata-rata lama sekolah 11,19 tahun. Pengeluaran riil per kapita juga terus meningkat.

IPM Lampung pada 2025 berada di angka 73,98.

Kota dengan penduduk 182 ribu jiwa ini memiliki angka pembangunan manusia yang cukup jauh di atas rata-rata provinsi.

Lima Kecamatan, Banyak Aktivitas

Lima kecamatan itu adalah Metro Pusat, Metro Barat, Metro Timur, Metro Utara, dan Metro Selatan.

Pusat perdagangan berada di kawasan kota. Sekolah dan kampus tersebar di beberapa wilayah. Permukiman terus berkembang. Usaha kecil tumbuh mengikuti kebutuhan warga.

Di sisi lain, pertanian masih bisa ditemui. Di Metro, pemandangan seperti ini biasa: beberapa ratus meter dari ruko dan kedai kopi, mata masih bisa melihat hamparan sawah dan aktivitas petani.

Batas antara kota dan desa di sini tidak selalu terasa tegas.

Mahasiswa Ikut Menghidupkan Kota

Metro punya identitas kuat sebagai kota pendidikan.

Universitas Muhammadiyah Metro dan IAIN Metro menjadi dua perguruan tinggi yang ikut membentuk aktivitas kota. Pelajar dan mahasiswa dari luar daerah datang dan tinggal di Metro selama menempuh pendidikan.

Mereka membutuhkan tempat tinggal, makan, transportasi, fotokopi, laundry, sampai tempat nongkrong.

Maka kos-kosan bermunculan. Warung makan ikut tumbuh. Kedai kopi mendapat pasar. Usaha fotokopi dan laundry juga hidup.

Kelompok usia 15–24 tahun terlihat menonjol dalam data penduduk tidak tetap. Mereka antara lain pelajar dan mahasiswa yang tinggal di kos atau asrama.

Tingkat literasi penduduk Metro mendekati 100 persen. Rata-rata lama sekolahnya juga lebih tinggi dibanding rata-rata Lampung.

Bagi Metro, kampus bukan sekadar bangunan pendidikan. Aktivitasnya ikut menghidupkan usaha di sekitarnya.

Perdagangan Besar, Sawah Masih Ada

Ekonomi Metro juga tidak hanya mengandalkan perdagangan. BPS mencatat tiga sektor penting dalam struktur ekonomi Metro, yakni perdagangan, industri pengolahan, serta pertanian.

Pada 2025, perdagangan menyumbang 18,29 persen terhadap PDRB Metro. Industri pengolahan berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 16,80 persen.

Beberapa sektor mencatat pertumbuhan tinggi.

Industri pengolahan tumbuh 9,24 persen. Akomodasi dan makan minum tumbuh 10,85 persen. Pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 9,11 persen.

Di Metro, aktivitas perdagangan dan pertanian memang bisa berjalan berdekatan.

Kota ini belum sepenuhnya meninggalkan sawah.

Kemiskinan Turun

Data kemiskinan juga menunjukkan pergerakan positif.

Pada 2024, persentase penduduk miskin Metro tercatat 6,78 persen, turun dari 7,18 persen setahun sebelumnya. Jumlahnya sekitar 12,07 ribu orang.

Tren ini berlanjut pada 2025, ketika angka kemiskinan kembali turun menjadi 6,44 persen atau sekitar 11,58 ribu jiwa. Bandingkan dengan 2021, ketika jumlah penduduk miskin masih sekitar 15,32 ribu jiwa.

Indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) juga menurun.

Garis kemiskinan Metro pada 2025 mencapai Rp503.161 per kapita per bulan.

Angka kemiskinan memang belum nol. Arahnya dalam beberapa tahun terakhir justru menurun.

Ekonomi Menembus Rp9 Triliun

Ukuran kota tidak menghalangi pertumbuhan ekonomi.

PDRB atas dasar harga berlaku Metro naik dari Rp6,29 triliun pada 2020 menjadi sekitar Rp8,48 triliun pada 2024.

Pada 2025, nilainya mencapai Rp9,19 triliun.

Ekonomi Metro tumbuh 5,20 persen pada 2025. Lebih tinggi dibanding pertumbuhan 2024 yang sebesar 4,88 persen.

PDRB per kapita ikut naik. Dari Rp48,26 juta pada 2024 menjadi Rp51,74 juta pada 2025.

BPS kemudian menerbitkan publikasi PDRB Kota Metro 2021–2025 pada April 2026. Dalam publikasi tersebut, sebagian angka 2025 masih bersifat sangat sementara dan dapat berubah setelah dilakukan penyempurnaan.

Kota Daratan di Tengah Lampung

Ada satu hal yang membuat Metro cukup berbeda dibanding kota lain di Lampung.

Metro tidak punya pantai.

Kota ini merupakan satu-satunya kota administratif di Lampung yang sepenuhnya berada di daratan. Wilayahnya berbatasan dengan Lampung Tengah di utara dan barat, serta Lampung Timur di selatan dan timur.

Posisinya berada di tengah provinsi. Aktivitas ekonominya pun berkembang sebagai kota daratan dan simpul pergerakan antardaerah. Tidak ada pelabuhan. Tidak ada garis pantai. Metro tetap punya aktivitas perdagangan yang cukup kuat.

Dari Kolonisasi Menjadi Kota Terencana

Metro juga bukan kota yang tumbuh tanpa rancangan.

Sejarah kota ini berkaitan dengan program kolonisasi pada masa Belanda sekitar 1936–1937. Waktu itu, kawasan ini dikenal dengan nama “Meterm”.

Sejak awal, permukiman dirancang dengan pola jalan grid, pembagian wilayah yang jelas, dan sistem irigasi yang diperhitungkan.

Irigasi Way Sekampung kemudian mendukung pengembangan pertanian. Kawasan yang sebelumnya berupa hutan berubah menjadi wilayah pertanian.

Jejak rancangan lama itu masih bisa dilihat dari pola jalan dan tata kawasan Metro sekarang, yang terasa lebih teratur dibanding banyak kota yang tumbuh “liar”.

Ini pula yang membuat sejumlah bagian Metro terasa berbeda dibanding kota yang tumbuh tanpa perencanaan awal.

Jawa dan Lampung Bertemu di Metro

Penduduk Metro juga membawa cerita sendiri.

Program kolonisasi membawa banyak penduduk Jawa ke wilayah tersebut. Di sisi lain, mereka hidup berdampingan dengan masyarakat Lampung.

Pertemuan itu kemudian memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Bahasa Indonesia digunakan bersama bahasa Jawa dan Lampung. Kesenian Jawa dan Lampung juga berkembang berdampingan.

Ada Kuda Lumping dan Wayang Kulit. Ada pula Tari Sembah atau Sigeh Penguten yang merupakan bagian dari budaya Lampung.

Kuliner pun ikut berbaur. Begitu pula batik.

Batik Metro antara lain menggabungkan ikon kota seperti Menara Masjid Taqwa dengan ornamen Lampung, termasuk motif pucuk rebung.

Metro Tidak Perlu Menjadi Bandar Lampung

Metro memang kecil jika dihitung dari penduduknya. Hanya 182.293 jiwa. Hanya lima kecamatan. Angka itu tidak menceritakan seluruh kehidupan kota.

Ada kampus dan sekolah. Ada perdagangan. Ada industri. Ada pertanian. Ada usaha jasa yang tumbuh mengikuti aktivitas pendidikan.

IPM mencapai 81,22 pada 2025. Ekonomi tumbuh 5,20 persen. Persentase penduduk miskin turun menjadi 6,44 persen.

Di saat yang sama, Metro tetap mempertahankan jejak kota pertanian dan permukiman yang terbentuk dari sejarah kolonisasi.

Kombinasi inilah yang memberi Metro karakter berbeda dari kota-kota lain di Lampung. Tidak perlu gedung pencakar langit. Tidak perlu jutaan penduduk.

Metro cukup menjadi Metro: kota kecil dengan aktivitas yang tidak kecil.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)