Keterangan Gambar : Huda Kattan, pendiri merek kosmetik Huda Beauty, mengatakan bahwa dia telah menerima ancaman karena pendiriannya yang pro-Palestina. foto/pinterest
Kota Metro, A1BOS.COM - Berawal dari kehilangan pekerjaan di Dubai, Huda Kattan justru menemukan jalan menuju kesuksesan. Perempuan keturunan Irak-Amerika itu membangun Huda Beauty dari sebuah blog kecantikan menjadi merek kosmetik global bernilai miliaran dolar. Namun, perjalanan bisnisnya tidak selalu mulus. Pada awal 2026, mereknya menghadapi gelombang boikot setelah unggahan Huda tentang situasi politik Iran memicu kemarahan konsumen.
Huda Kattan membuktikan bahwa peluang bisnis bisa muncul dari pengalaman pribadi, bahkan ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit. Dia pernah bekerja di bidang rekrutmen, belajar makeup di Los Angeles, kemudian membangun bisnis kecantikan bersama kedua saudarinya.
Kini, namanya dikenal luas di industri kecantikan internasional. Namun, kisahnya juga memperlihatkan bagaimana reputasi pribadi seorang pendiri bisa memengaruhi bisnis yang dibangun selama bertahun-tahun.
Huda Heidi Kattan lahir di Oklahoma City, Amerika Serikat, pada 2 Oktober 1983. Kedua orang tuanya merupakan imigran asal Irak yang pindah ke Amerika Serikat pada 1980.
Huda tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang budaya Timur Tengah. Dia kemudian menempuh pendidikan di University of Michigan-Dearborn dan lulus pada 2008 dengan gelar di bidang keuangan.
Meski berlatar belakang keuangan, Huda tidak langsung bekerja di industri tersebut. Setelah lulus, dia pindah ke Dubai dan bekerja di perusahaan perekrutan tenaga kerja Robert Half Recruitment.
Namun, krisis ekonomi global 2008 turut mengubah perjalanan kariernya. Huda kehilangan pekerjaan di perusahaan tersebut.
Peristiwa itu menjadi titik balik. Dia kemudian pindah ke Los Angeles untuk belajar makeup artistry di Joe Blasco Makeup Academy.
Keputusan tersebut bukan berarti Huda sudah memiliki rencana membangun perusahaan kosmetik. Saat itu, dia lebih tertarik mendalami dunia kecantikan yang selama ini menjadi minatnya.
Setelah sekitar satu tahun di Los Angeles, Huda kembali ke Dubai. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai makeup artist eksklusif Revlon untuk kawasan Timur Tengah.
Pengalaman bekerja dengan berbagai merek dan klien membuat pengetahuannya tentang industri kecantikan semakin berkembang.
Pada April 2010, Huda mulai membangun blog kecantikan bernama Huda Beauty. Ide tersebut muncul setelah mendapat dorongan dari saudarinya, Alya Kattan.
Melalui blog tersebut, Huda membagikan tutorial makeup, tips kecantikan, dan rekomendasi produk. Dia juga mengembangkan konten melalui YouTube.
Pada awalnya, membangun pembaca bukan pekerjaan mudah. Huda harus konsisten membuat konten agar blognya dikenal.
Dia bahkan pernah mengunggah tulisan hingga lima kali sehari. Kontennya tidak hanya membahas kecantikan, tetapi juga selebritas dan berbagai topik populer.
Perkembangan mulai terlihat ketika Huda lebih banyak membagikan tips kecantikan yang praktis dan bisa diterapkan pembaca.
Pengalaman sebagai makeup artist menjadi modal penting. Dia memahami teknik penggunaan kosmetik sekaligus mengetahui produk seperti apa yang dibutuhkan konsumen.
Perlahan, blog tersebut berkembang menjadi komunitas penggemar kecantikan. Pengikutnya bertambah melalui berbagai platform media sosial.
Namun, Huda sempat ragu untuk membangun bisnis sendiri. Dia bahkan tidak langsung merasa cocok menjadi pengusaha.
Dukungan keluarga, terutama kedua saudarinya, kemudian mendorongnya mengambil langkah lebih jauh.
Huda tidak memulai bisnisnya dengan modal besar dari investor.
Pada 2012, Alya memberikan pinjaman sebesar 6.000 dolar AS untuk membantu Huda mengembangkan produk bulu mata palsu.
Ayahnya juga memberikan pinjaman sekitar 60.000 dolar AS. Dana tersebut berasal dari hasil penjualan rumah keluarga di Baghdad.
Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam tahap awal pembangunan bisnis.
Pada 2013, Huda bersama Alya dan Mona Kattan mendirikan lini produk kosmetik Huda Beauty.
Ide produk pertamanya muncul dari pengalaman pribadi. Huda kesulitan menemukan bulu mata palsu berkualitas yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dia kemudian mulai membuat bulu mata untuk teman-teman Mona sebelum mengembangkannya menjadi produk komersial.
Produk pertama Huda Beauty berupa rangkaian bulu mata palsu yang dipasarkan melalui Sephora di Dubai Mall.
Produk tersebut mendapat perhatian konsumen. Popularitasnya semakin meningkat setelah dikenakan sejumlah selebritas, termasuk Kim Kardashian.
Dari produk sederhana itu, Huda Beauty mulai membangun pasar.
Peran keluarga juga tidak berhenti pada pemberian modal. Mona dan Alya terlibat dalam pengembangan serta operasional bisnis. Keduanya menjadi bagian penting dalam perjalanan perusahaan.
Setelah produk pertamanya mendapatkan perhatian pasar, Huda Beauty mulai memperluas lini bisnis.
Pada 2014, perusahaan mengembangkan produk lain, termasuk kosmetik kuku. Namun, tidak semua produk awal berhasil di pasaran.
Huda kemudian memperkuat bisnis melalui kategori kosmetik yang lebih dekat dengan keahliannya.
Pada 2016, Huda Beauty meluncurkan Lip Contour Pencil melalui Sephora Dubai Mall. Produk tersebut terjual sekitar 55.000 unit dalam tiga minggu.
Dua bulan kemudian, perusahaan memperkenalkan Innovative Liquid Matte Lipstick. Produk lipstik cair tersebut kemudian menjadi salah satu produk andalan Huda Beauty.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengandalkan popularitas pendirinya. Produk yang dikembangkan juga mendapat respons pasar.
Huda memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Tutorial, ulasan, dan demonstrasi penggunaan kosmetik membuat konsumen mengenal produk secara lebih dekat.
Strategi tersebut menjadi keunggulan Huda Beauty dibandingkan sejumlah merek kosmetik konvensional.
Perusahaan memiliki komunitas pengikut yang sudah terbentuk sebelum produk komersial diluncurkan.
Pada 2017, perusahaan investasi TSG Consumer Partners masuk dengan mengambil saham minoritas. Investasi tersebut membuat valuasi Huda Beauty mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS.
Angka itu merupakan valuasi perusahaan saat transaksi investasi, bukan harga jual perusahaan ataupun kekayaan pribadi Huda.
Masuknya investor membantu perusahaan memperbesar operasional dan memperluas pasar internasional.
Huda Beauty kemudian berkembang dengan berbagai produk, mulai dari eyeshadow, foundation, concealer, lipstik, hingga produk perawatan kulit.
Dalam perjalanan bisnisnya, Huda juga mengalami perubahan posisi kepemimpinan.
Pada 2020, dia mundur dari jabatan CEO. Setahun kemudian, Huda kembali terlibat dalam kepemimpinan perusahaan sebagai co-CEO bersama suaminya, Chris Goncalo.
Pada Februari 2024, Huda kembali menjabat sebagai CEO.
Dia ingin lebih terlibat dalam pengembangan produk dan menentukan arah merek yang dibangunnya.
Perubahan besar kembali terjadi pada 2025. Huda Beauty mengakhiri kemitraan delapan tahun dengan TSG Consumer Partners dan kembali menjadi perusahaan yang sepenuhnya berada di bawah kepemilikan pihak pendiri.
Proses tersebut berkaitan dengan transaksi penjualan merek parfum KAYALI kepada Mona Kattan dan General Atlantic pada Februari 2025. Transaksi itu memungkinkan pemilik Huda Beauty membeli kembali saham yang sebelumnya dimiliki TSG.
Pada Juni 2025, Huda Beauty mengumumkan kembalinya kepemilikan penuh sebagai perusahaan independen.
Langkah tersebut menjadi babak baru bagi Huda dalam mengembangkan bisnis tanpa keterlibatan investor minoritas sebelumnya.
Pencapaian bisnisnya juga mendapat pengakuan internasional. Forbes Middle East menempatkan Huda Kattan di peringkat ke-11 dalam daftar 100 Most Powerful Businesswomen 2025.
Di tengah keberhasilan membangun bisnis kosmetik global, Huda Kattan menghadapi persoalan yang tidak berkaitan langsung dengan kualitas produknya.
Pada akhir Januari 2026, dia menjadi sorotan setelah mengunggah ulang sebuah video demonstrasi pendukung pemerintah Iran.
Video tersebut memperlihatkan demonstran yang membakar gambar Reza Pahlavi, Donald Trump, dan Benjamin Netanyahu.
Unggahan itu memicu reaksi keras dari masyarakat Iran, termasuk mereka yang berada di luar negeri. Sejumlah pengguna media sosial menilai video tersebut menggemakan narasi pemerintah Iran di tengah gelombang demonstrasi dan tindakan keras terhadap para pengunjuk rasa.
Kontroversi kemudian meluas ke bisnis Huda Beauty.
Sejumlah konsumen dan influencer Iran menyerukan boikot terhadap produk kosmetik tersebut. Video orang-orang membuang, merusak, bahkan menghancurkan palet eyeshadow dan lipstik Huda Beauty beredar di media sosial.
Salah satu influencer Iran yang ikut menyerukan boikot adalah Naz Golrokh. Dia mengunggah foto dan video produk kosmetik Huda Beauty yang dihancurkan sebagai bentuk protes.
Aksi serupa dilakukan sejumlah figur publik dan pengguna media sosial lainnya. Mereka mengajak pengikutnya berhenti membeli produk Huda Beauty.
Gelombang protes tersebut memperlihatkan bagaimana kontroversi pribadi seorang pendiri dapat merembet ke perusahaan yang memiliki pasar internasional.
Huda kemudian memberikan klarifikasi melalui Instagram. Dia secara terbuka membantah tudingan mendukung pemerintahan Iran.
Dalam penjelasannya, Huda mengatakan tidak cukup memahami persoalan politik internal Iran untuk mengambil posisi. Dia juga menjelaskan bahwa unggahannya berkaitan dengan penolakannya terhadap perang dan kekhawatiran terhadap intervensi asing.
Namun, penjelasan tersebut tidak langsung meredakan kemarahan sebagian masyarakat Iran.
Pada awal Februari 2026, Huda kembali menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Iran. Dia menegaskan tidak mendukung rezim Iran dan mengakui seharusnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan.
Peristiwa itu menjadi salah satu ujian reputasi bagi Huda Beauty. Meski demikian, belum ada data resmi yang menunjukkan seberapa besar dampak boikot tersebut terhadap penjualan perusahaan secara keseluruhan.
Kisah Huda Kattan memberikan sejumlah pelajaran bagi pengusaha yang ingin membangun bisnis dari awal.
Pertama, peluang usaha bisa muncul dari masalah yang dialami sendiri. Huda memulai bisnis kosmetik karena kesulitan menemukan bulu mata palsu yang sesuai dengan kebutuhannya. Masalah sederhana itu kemudian berkembang menjadi produk komersial.
Kedua, membangun komunitas sebelum menjual produk. Blog Huda Beauty yang dikembangkan sejak 2010 membuatnya memiliki basis pengikut sebelum meluncurkan lini kosmetik pada 2013. Komunitas tersebut menjadi salah satu kekuatan pemasaran perusahaan.
Ketiga, dukungan keluarga dapat menjadi modal awal. Huda mendapatkan pinjaman dari Alya dan ayahnya. Mona dan Alya juga ikut membangun perusahaan. Artinya, kesuksesan Huda Beauty bukan hasil kerja satu orang saja.
Keempat, memahami pasar dan mengembangkan produk secara bertahap. Huda tidak langsung meluncurkan puluhan produk. Dia memulai dari bulu mata palsu, kemudian memperluas bisnis setelah memperoleh respons konsumen.
Kelima, reputasi pendiri perlu dikelola dengan hati-hati. Kontroversi Iran menunjukkan bahwa pengaruh seorang pengusaha di media sosial bisa menjadi kekuatan pemasaran, tetapi juga membawa risiko bagi merek yang dibangunnya.
Perjalanan Huda Kattan memperlihatkan dua sisi dunia bisnis. Di satu sisi, keberanian memulai dari hal sederhana, dukungan keluarga, dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen dapat mengantarkan seseorang membangun perusahaan berskala global.
Di sisi lain, kesuksesan bisnis tidak membuat sebuah merek kebal terhadap kontroversi. Ketika identitas perusahaan melekat kuat pada sosok pendirinya, setiap pernyataan pribadi bisa ikut memengaruhi kepercayaan konsumen.
Dari kehilangan pekerjaan di Dubai hingga membangun kerajaan kosmetik bernilai miliaran dolar, Huda Kattan telah melewati perjalanan panjang. Kisahnya bukan hanya tentang keberhasilan membangun bisnis, tetapi juga tentang tantangan mempertahankan kepercayaan pasar ketika reputasi pendiri dipertaruhkan.
Tulis Komentar