Keterangan Gambar : Ilustrasi dibuat degan bantuan AI.
Jakarta, A1BOS.COM - Cuaca panas masih melanda sejumlah wilayah Indonesia meskipun November 2026 mulai memasuki periode musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara maksimum di beberapa daerah bahkan menembus 37 derajat Celsius.
Berdasarkan hasil pengamatan BMKG pada periode 29 Oktober hingga 1 November 2026, suhu udara maksimum lebih dari 37 derajat Celsius tercatat di Lampung, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.
Kondisi tersebut terjadi di tengah cuaca Indonesia yang masih menunjukkan perbedaan antardaerah. Sejumlah wilayah mengalami hujan lebat, sedangkan daerah lainnya masih menghadapi cuaca panas dengan curah hujan yang relatif minim.
BMKG menjelaskan, kondisi panas dan kering tersebut dipengaruhi fenomena El Niño yang berada pada kategori sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kedua fenomena iklim tersebut cenderung mengurangi potensi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Dalam prakiraan cuaca periode 3–10 November 2026, BMKG menyebutkan bahwa sejumlah wilayah Indonesia mulai memasuki awal musim hujan secara bertahap.
Di sisi lain, BMKG memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 berlangsung secara bertahap. Pada November 2026, sebanyak 185 Zona Musim (ZOM) diprakirakan mulai memasuki musim hujan. Wilayah tersebut mencakup sekitar 24,66 persen luas daratan Indonesia.
Sementara itu, pada Desember 2026, jumlah ZOM yang diprakirakan mulai memasuki musim hujan bertambah menjadi 266. Namun, luas daratan yang tercakup justru sekitar 17,31 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa jumlah ZOM tidak selalu berbanding lurus dengan luas wilayah. Sebab, setiap ZOM memiliki cakupan geografis yang berbeda.
Meski demikian, peningkatan curah hujan belum berlangsung merata. Pengaruh El Niño sangat kuat dan IOD positif masih mendukung kondisi lebih kering di sejumlah wilayah.
BMKG juga mengingatkan bahwa dinamika atmosfer regional tetap berpotensi memicu hujan di tengah kondisi tersebut.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Karena itu, cuaca panas tidak serta-merta berarti seluruh wilayah Indonesia bebas dari potensi hujan lebat.
Kondisi panas yang disertai minimnya curah hujan meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pemantauan citra satelit selama 10 hari terakhir, BMKG mendeteksi sejumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Papua Selatan mencatat jumlah titik panas terbanyak, yakni 685 titik. Disusul Sumatera Selatan sebanyak 168 titik dan Sulawesi Tenggara sebanyak 167 titik.
BMKG menegaskan, titik panas tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran. Namun, temuan tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat mengindikasikan potensi kejadian karhutla, terutama di wilayah yang mengalami kondisi kering.
Masyarakat diimbau tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di kawasan hutan, semak belukar, dan lahan gambut.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, menggunakan tabir surya, serta mengurangi paparan langsung sinar matahari ketika beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat diminta terus memantau perkembangan cuaca melalui laman resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg.
Sumber: BMKG, Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan Periode 3–10 November 2026, 5 November 2026.
Tulis Komentar