08117992581

DKM Metro Pamerkan 43 Karya Pelajar se-Lampung, Lanjutkan dengan Festival Teater Remaja

$rows[judul]

Kota Metro, A1BOS.COM – Dewan Kesenian Metro (DKM) membuka Gelar Karya Sepekan 2026 melalui Pameran Seni Rupa Pelajar se-Lampung di Gedung Nuwo Budayo, Kota Metro, Senin (19/10/2026). Sebanyak 43 karya seni rupa pelajar dipamerkan dalam kegiatan yang menjadi ruang apresiasi sekaligus wadah regenerasi seniman muda tersebut.

Kegiatan yang berlangsung pada 19–24 Oktober 2026 ini merupakan program DKM yang didukung Pemerintah Kota Metro melalui Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro.

Gelar Karya Sepekan 2026 terdiri dari dua agenda utama, yakni Pameran Seni Rupa Pelajar se-Lampung pada 19–22 Oktober dan Festival Teater Remaja pada 23–24 Oktober. Kedua kegiatan tersebut melibatkan pelajar, mahasiswa, komunitas seni, serta pegiat seni budaya dari Kota Metro dan sejumlah daerah di Lampung.

Ketua Dewan Kesenian Metro, Solihin Utjok, mengatakan Gelar Karya Sepekan 2026 lahir dari gagasan pengurus DKM, terutama Komite Seni Rupa dan Komite Teater. Program ini sekaligus menghidupkan kembali kegiatan pameran dan pertunjukan seni pelajar yang pernah diselenggarakan sekitar delapan hingga sebelas tahun lalu.

Menurut Solihin, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan dan pameran, tetapi juga bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus di bidang kesenian.

“Program ini juga merupakan bagian dari kaderisasi seniman, mengingat semakin banyak seniman yang mulai beranjak tua, bahkan telah berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Solihin dalam sambutannya.


Ia menilai keberlanjutan aktivitas seni dan budaya menjadi tantangan tersendiri bagi Kota Metro. Karena itu, keterlibatan generasi muda dan dukungan berbagai pihak diperlukan agar ekosistem kesenian tetap tumbuh.

Solihin juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap sektor kebudayaan di tengah keterbatasan anggaran. Meski demikian, ia optimistis Kota Metro memiliki daya tarik bagi seniman, termasuk dari luar daerah maupun luar negeri.

DKM, lanjut dia, juga terus membangun kolaborasi untuk memperluas ruang kreativitas. Salah satunya melalui kegiatan Zona Inspirasi Pemuda yang dijadwalkan berlangsung pada 2 November 2026 di UIN Jurai Siwo Lampung, dengan melibatkan sejumlah kolaborator dari Jakarta.

“Semoga mimpi kita untuk mewujudkan visi Kota Metro yang berbudaya dapat tercapai,” katanya.


Dorong Pemajuan Kebudayaan di Lampung

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Lampung yang diwakili Kepala Subbagian Umum, Jaka Perbawa, S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa keberadaan BPK di setiap provinsi diharapkan menjadi penghubung dalam upaya pemajuan kebudayaan.

Ia mengajak para pemangku kepentingan untuk bekerja bersama dalam mengembangkan aktivitas seni budaya, termasuk menjadikan Gedung Nuwo Budayo sebagai ruang publik yang aktif bagi masyarakat.

“Kota Metro ini menjadi salah satu lumbung aktivasi seni budaya di daerah melalui DKM. Mari kita dorong Nuwo Budayo menjadi pilihan ruang publik untuk kegiatan seni budaya, sekaligus bersama-sama membangun kebebasan berekspresi melalui jiwa yang merdeka,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro, Dr. Agus Muhammad Septiana, S.IP., M.H., mengapresiasi konsistensi DKM dalam menggelar berbagai kegiatan seni dan budaya.


Ia mengakui masih terdapat tantangan dalam pengembangan kebudayaan. Namun, aktivitas yang terus berjalan dinilai menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan kesenian di Kota Metro.

Agus juga menyampaikan harapan agar Festival Putri Nuban dapat kembali digelar pada 2027 setelah sempat vakum.

Menurutnya, berbagai bentuk ekspresi dan inovasi kebudayaan perlu terus didukung melalui kolaborasi pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat.


43 Karya Pelajar Dipamerkan

Setelah pembukaan, para peserta dan pengunjung mengikuti tur pameran di Metro Fine Art Galeri, lantai satu Gedung Nuwo Budayo. Sebanyak 43 karya seni rupa ditampilkan dalam pameran yang terbuka untuk masyarakat umum tersebut.

Pembukaan pameran ditandai dengan pemotongan pita oleh perwakilan BPK Lampung, didampingi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro serta para peserta.

Karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil seleksi atau kurasi terhadap pelajar dari berbagai daerah di Lampung. Para peserta yang lolos kurasi di antaranya Adinda Vasya, Veftiana Andrea, Bagaskara Shakeil, Arenga Aretha, Fazila Akhda, Ayra Sriyathara, Zaradejah Bintang, Nala Bilqis, Naura Clarissa, Renata Danis, Fania Aisha, dan Sakhi Giancinta.


Peserta lainnya meliputi Queena Anjanetta, Grisela Putri, Mesyha Habsi Al Katiri, Hillary Intan Nathania, Ida Ayu Putu Cheka, Iasya Liya Zafira, Lathisya Balqis Nugroho, Lulu Atul Khoiriyah, M. Ghazali Al Ghassan, Marcelinus Weliarta, Meilan Oktafia, Nabila Faiza, dan Naura Alifa Azahlia.

Selain itu, terdapat Naya Tabita Salsabila, Nimas Ainun Pradya, Naura Syahbani, Queisah Fay Annya Wijaya, Shakira Maulida Widyastari, Soenasa Sungkai, Syakira Azahra, Tiara Serina, Vivian Azura Al Ain, Zivanna Maylova, serta Putri Syarif Azam Habibie.

Pameran tersebut menjadi kesempatan bagi pelajar untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik sekaligus memperoleh apresiasi dan tanggapan dari pengunjung.


Tradisi Lampung Bertemu Kreativitas Generasi Muda

Rangkaian kegiatan pembukaan dilanjutkan dengan seminar seni rupa bertajuk “Mula Ra’i: Mengurai Corak, Meretas Batas—Dari Jejak yang Diwariskan Menuju Bahasa Rupa yang Sedang Tumbuh.”

Seminar menghadirkan kurator pameran Ahmad Muzakki, M.Pd.; praktisi seni sekaligus akademisi UIN Jurai Siwo Lampung, Muhamad Iqbal Saputra, S.Sn., yang juga menjabat Ketua Komite Seni Rupa DKM; serta praktisi seni rupa Baktiono, S.Sn. Diskusi dipandu M. Khaidir C.P., S.Pd.

Dalam pengantar kuratorialnya, Ahmad Muzakki memandang karya seni rupa pelajar sebagai cara generasi muda menafsirkan identitas dan pengalaman mereka di tengah perubahan zaman.

Tradisi Lampung, kehidupan sehari-hari, alam, hingga pengalaman personal hadir melalui beragam objek, warna, bentuk, dan medium yang digunakan para pelajar.

Menurut Ahmad, tradisi bukan sekadar warisan yang dipertahankan, melainkan sesuatu yang terus ditafsirkan melalui pengalaman dan kreativitas generasi baru.

Karena itu, pelajar perlu diposisikan sebagai subjek kreatif yang memiliki pengalaman dan bahasa visualnya sendiri, bukan hanya sebagai peniru karya seniman dewasa.

Pameran juga diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyaksikan perkembangan artistik para pelajar sekaligus membangun percakapan antara seniman muda dan publik.

Dalam diskusi, Baktiono menekankan pentingnya ketekunan dan pemahaman teknis dalam berkarya. Menurutnya, pelukis perlu memahami karakter bahan, jenis cat, penggunaan kanvas, serta teknik yang sesuai dengan karya yang ingin dihasilkan.

“Kita tidak boleh asal bikin, nanti kita akan bingung sendiri, selain didukung referensi,” kata Baktiono.

Sementara itu, Iqbal menilai pameran seni rupa pelajar memiliki peran penting sebagai jembatan kreatif bagi perupa muda sekaligus bagian dari proses regenerasi seniman.

“Kegiatan yang jarang ada di Kota Metro ini harus kita maksimalkan ruangnya,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pihak yang telah mendukung penyelenggaraan pameran tersebut.

Masyarakat dapat mengunjungi Pameran Seni Rupa Pelajar se-Lampung pada 19–22 Oktober 2026, pukul 09.00–16.00 WIB, di Gedung Nuwo Budayo, Kota Metro.


10 Kelompok Teater Siap Tampil

Setelah pameran seni rupa, Gelar Karya Sepekan 2026 dilanjutkan dengan Festival Teater Remaja pada 23–24 Oktober 2026. Sebanyak 10 kelompok teater dari Kota Metro dan sejumlah daerah di Lampung dijadwalkan menampilkan karya mereka di Gedung Nuwo Budayo.

Pada Jumat (23/10/2026), lima kelompok akan tampil, yakni Teater Meraki Lampung Timur dengan naskah Penagih Hutang; Teater Perintis SMK Negeri 2 Metro dengan Sebambangan; Teater Kapook dari UKM IMPAS UIN Jurai Siwo Lampung dengan Prahara Alas Prajanjen; Teater Mentari Universitas Muhammadiyah Metro dengan Orde Tabung; serta Sanggar Kaliptra Lampung Timur dengan Malam Jahanam.

Sementara itu, pada Sabtu (24/10/2026), pertunjukan akan diisi UKM IMPASI Universitas Ma’arif Lampung dengan Sang Mandor; Teater SMAK SMA Kristen Metro dengan Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan; Teater Pena SMA Negeri 1 Metro dengan Bu, Tolong Ada Maling; Teater Akal Lampung Tengah dengan Padang Bulan; serta Sanggar Satu Kata Metro dengan Senja dengan Dua Kelelawar.

Melalui pameran seni rupa dan festival teater, DKM berupaya mempertemukan pelajar, mahasiswa, perupa, kelompok teater, dan masyarakat dalam satu ruang apresiasi seni.

Pameran menjadi wadah bagi perupa muda untuk menampilkan karya, sedangkan festival teater membuka kesempatan bagi kelompok teater untuk mengembangkan kreativitas dan mempertunjukkan karya di hadapan penonton.

Dukungan Pemerintah Kota Metro melalui Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan kegiatan seni budaya sekaligus mendorong lahirnya generasi baru seniman di Kota Metro dan Lampung. (Rilis/Red)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)