Keterangan Gambar : Ilustrasi dibuat degan bantuan AI.
Kota Metro, A1BOS.COM -Bekerja keras sering dianggap sebagai kunci untuk membuat karier berkembang. Datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan, mengambil tugas tambahan, bahkan rela pulang lebih malam.
Semua dilakukan karena ada harapan kerja keras tersebut suatu hari akan membawa promosi atau posisi yang lebih baik. Namun, kenyataannya tidak selalu begitu.
Ada orang yang sudah bertahun-tahun bekerja keras tetapi kariernya berjalan di tempat. Sementara orang lain yang masa kerjanya lebih singkat justru mendapat tanggung jawab lebih besar.
Bukan berarti kerja keras tidak penting. Masalahnya, kerja keras bukan satu-satunya hal yang diperhitungkan dalam perkembangan karier.
Kesibukan kadang membuat seseorang merasa sudah melakukan banyak hal. Padahal, banyak bekerja belum tentu sama dengan menghasilkan dampak.
Misalnya, seorang karyawan setiap hari menyelesaikan puluhan pekerjaan rutin. Semua selesai tepat waktu. Namun, tidak ada perubahan berarti yang dihasilkan dari pekerjaannya.
Di sisi lain, ada karyawan yang mengerjakan lebih sedikit tugas tetapi berhasil memperbaiki proses kerja, menghemat waktu tim, mendapatkan pelanggan baru, atau menyelesaikan persoalan yang selama ini menghambat pekerjaan.
Michael Wenderoth, executive coach dan penulis buku Get Promoted, mengatakan perkembangan karier tidak hanya bergantung pada pencapaian pekerjaan. Kemampuan membangun hubungan dan memahami cara organisasi bekerja juga ikut menentukan bagaimana seseorang berkembang.
Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar apakah pekerjaan sudah selesai. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang berubah setelah pekerjaan itu selesai?
Ada pekerja yang sebenarnya memiliki kontribusi besar, tetapi kontribusinya tidak banyak diketahui orang yang memiliki kewenangan dalam pengembangan karier.
Bukan karena ia tidak bekerja dengan baik. Ia hanya tidak pernah membicarakan hasil pekerjaannya. Padahal, menyampaikan pencapaian tidak selalu berarti membanggakan diri.
Nicole D. Smith dan Angela Cheng-Cimini dari Harvard Business Publishing menjelaskan pentingnya visibilitas di tempat kerja. Kontribusi yang memberikan dampak perlu terlihat agar seseorang membangun kredibilitas profesional.
Caranya bisa sederhana. Ketika menyelesaikan sebuah proyek, misalnya, jangan hanya mengatakan bahwa proyek tersebut sudah selesai. Sampaikan juga hasilnya.
“Proses yang sebelumnya membutuhkan tiga hari sekarang bisa selesai dalam satu hari.”
Kalimat seperti itu memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kontribusi seseorang.
Kesalahan lain yang sering dilakukan pekerja adalah berusaha memperbaiki semua kelemahannya sekaligus.
Padahal, perkembangan karier juga bisa datang dari kemampuan yang sudah menjadi kekuatan seseorang.
Gallup, lembaga riset dan konsultasi yang banyak meneliti dunia kerja, mengembangkan pendekatan pengembangan karyawan berbasis kekuatan. Salah satu gagasannya adalah membantu orang menggunakan kemampuan terbaiknya secara lebih konsisten dalam pekerjaan.
Ini bukan berarti kelemahan boleh dibiarkan. Tetapi seseorang perlu tahu, kemampuan apa yang membuatnya memiliki nilai lebih dibandingkan orang lain.
Orang yang kuat dalam komunikasi, misalnya, bisa mengembangkan karier melalui presentasi, negosiasi, atau hubungan dengan klien.
Sementara orang yang kuat dalam analisis mungkin lebih cocok mengambil pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan pengolahan data.
Karier tidak selalu berkembang karena seseorang semakin bisa melakukan semuanya.
Kadang justru berkembang ketika seseorang semakin dikenal karena satu atau beberapa kemampuan yang memang dibutuhkan.
Ada anggapan bahwa hasil kerja seharusnya berbicara sendiri.
Dalam kenyataannya, orang tetap bekerja bersama orang lain. Karena itu, hubungan profesional ikut memengaruhi bagaimana seseorang mendapatkan informasi, kesempatan, dan pengalaman baru.
Rob Cross, profesor praktik di Babson College yang banyak meneliti jaringan dan kolaborasi di tempat kerja, menekankan pentingnya hubungan profesional dalam membantu seseorang menjalankan peran dan berkembang dalam organisasi.
Hubungan profesional tentu bukan berarti harus mencari muka kepada atasan.
Bisa dimulai dari hal sederhana: berdiskusi dengan rekan dari divisi lain, meminta masukan dari orang yang lebih berpengalaman, atau sesekali berbicara dengan atasan mengenai pekerjaan yang sedang dikerjakan.
Dari percakapan seperti itu, seseorang bisa mengetahui kebutuhan organisasi yang sebelumnya tidak terlihat dari meja kerjanya sendiri.
Hal lain yang sering terlewat adalah membicarakan arah karier.
Sebagian pekerja memilih diam dan berharap kerja keras mereka suatu hari diperhatikan.
Tidak ada yang salah dengan bekerja tanpa banyak bicara. Tetapi jika ingin berkembang, seseorang juga perlu mengetahui kemampuan apa yang harus ditambah.
Misalnya dengan bertanya kepada atasan:
“Kalau saya ingin mengambil tanggung jawab yang lebih besar, apa yang masih perlu saya tingkatkan?”
Pertanyaan tersebut bisa membuka pembicaraan yang lebih konkret. Pekerja menjadi tahu apa yang kurang. Atasan juga mengetahui bahwa orang tersebut memiliki keinginan untuk berkembang.
Menurut Gallup, percakapan mengenai pengembangan karier sebaiknya tidak hanya dilakukan saat evaluasi kinerja tahunan. Pembicaraan yang lebih rutin membantu pekerja mengetahui perkembangan dan langkah berikutnya.
Pada akhirnya, kerja keras tetap penting.
Tetapi ada perbedaan antara bekerja keras dan bekerja keras ke arah yang tepat.
Seseorang bisa sangat sibuk setiap hari, tetapi jika pekerjaannya tidak menambah kemampuan, tidak menghasilkan dampak yang jelas, tidak memperluas pengalaman, dan tidak membawanya mendekati tujuan karier, lima tahun pun bisa berlalu tanpa perubahan berarti.
Karena itu, sesekali ada baiknya berhenti sebentar dan melihat kembali perjalanan karier.
Apa kemampuan baru yang sudah dimiliki?
Apa masalah yang sekarang bisa diselesaikan?
Apakah tanggung jawab sudah bertambah?
Apakah hasil kerja diketahui orang yang tepat?
Dan yang tidak kalah penting, apakah pekerjaan yang dilakukan hari ini membawa kita lebih dekat ke posisi yang ingin dicapai?
Jika jawabannya belum, mungkin persoalannya bukan karena kurang bekerja keras.
Bisa jadi yang perlu diubah adalah cara mengarahkan kerja keras tersebut.
Sebab, karier tidak hanya dibangun dari berapa lama seseorang bekerja atau berapa banyak tugas yang diselesaikan.
Karier juga dibangun dari nilai yang diberikan, kemampuan yang berkembang, hubungan yang terbentuk, dan arah yang dipilih.
Tulis Komentar