08117992581

Kopi dan Kesehatan Usus: Penelitian Ungkap Pengaruhnya pada Otak

$rows[judul] Keterangan Gambar : ilustrasi. foto/pixabay

Kota Metro, A1BOS.COM - Selama ini kopi paling sering dikenal sebagai minuman yang membantu tubuh tetap terjaga. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengaruh kopi mungkin jauh lebih luas, termasuk terhadap mikrobioma usus dan komunikasi antara usus dengan otak.

Menariknya, efek tersebut tidak hanya ditemukan pada kopi berkafein. Kopi tanpa kafein juga dikaitkan dengan perubahan mikrobioma usus serta perbedaan pada suasana hati dan tingkat stres.

Dikutip dan diadaptasi dari penelitian yang dipublikasikan dalam Nature Communications oleh tim peneliti APC Microbiome Ireland, University College Cork. Penelitian tersebut disponsori Institute for Scientific Information on Coffee (ISIC).

Kopi dan hubungan antara usus dengan otak

Para ilmuwan telah lama meneliti kemungkinan hubungan kopi dengan pencernaan, suasana hati, dan kesehatan secara umum. Namun, mekanisme yang mendasari hubungan tersebut belum sepenuhnya jelas.

Penelitian ini berfokus pada microbiota-gut-brain axis, yakni sistem komunikasi dua arah antara mikroorganisme di saluran pencernaan dan otak.

Komunikasi itu dapat berlangsung melalui aktivitas sistem kekebalan tubuh, hormon, saraf, hingga senyawa kimia yang dihasilkan mikroba di dalam usus.

Untuk melihat hubungan tersebut, peneliti melibatkan 31 orang yang rutin minum kopi dan 31 orang yang biasanya tidak minum kopi. Peserta menjalani penilaian psikologis serta mencatat konsumsi kafein dan pola makan mereka.

Peneliti juga mengambil sampel feses dan urine untuk melihat perubahan mikroba usus, metabolisme, suasana hati, dan tingkat stres yang dirasakan peserta.

Dalam penelitian ini, peminum kopi didefinisikan sebagai orang yang rutin mengonsumsi 3–5 cangkir kopi per hari. Jumlah tersebut mengacu pada batas konsumsi yang dinilai aman dan moderat bagi sebagian besar orang oleh European Food Safety Authority (EFSA).

Apa yang terjadi ketika konsumsi kopi dihentikan?

Peserta yang rutin minum kopi diminta berhenti mengonsumsinya selama dua minggu. Selama periode tersebut, mereka menjalani penilaian psikologis secara berkala dan memberikan sampel feses serta urine.

Ketika konsumsi kopi dihentikan, peneliti menemukan perubahan cukup besar pada profil metabolit di dalam tubuh peserta dibandingkan dengan kelompok yang memang tidak biasa minum kopi.

Metabolit merupakan molekul kecil yang terbentuk atau mengalami perubahan selama proses metabolisme. Sebagian di antaranya dihasilkan mikroba usus ketika memproses makanan dan berbagai zat lain.

Setelah dua minggu, kopi kembali diberikan kepada peserta tanpa mereka mengetahui apakah kopi yang diminum mengandung kafein atau tidak.

Separuh peserta mendapatkan kopi tanpa kafein, sedangkan separuh lainnya mendapatkan kopi berkafein.

Setelah kopi kembali masuk ke pola konsumsi mereka, kedua kelompok menunjukkan penurunan tingkat stres, depresi, dan impulsivitas yang mereka rasakan.

Temuan ini memberi petunjuk bahwa sebagian pengaruh kopi terhadap suasana hati mungkin tidak sepenuhnya bergantung pada kafein.

Kopi juga dikaitkan dengan perubahan bakteri usus

Peneliti menemukan perubahan pada sejumlah jenis bakteri di dalam usus peserta.

Bakteri seperti Eggertella sp. dan Cryptobacterium curtum ditemukan dalam jumlah lebih tinggi pada peminum kopi dibandingkan mereka yang tidak biasa minum kopi.

Eggertella sp. diduga berperan dalam sekresi asam di lambung dan usus. Sementara itu, Cryptobacterium curtum kemungkinan terlibat dalam produksi asam empedu.

Kedua proses tersebut berpotensi menciptakan lingkungan di dalam usus yang kurang mendukung pertumbuhan bakteri tertentu yang berbahaya maupun infeksi.

Peneliti juga menemukan jumlah bakteri dari kelompok Firmicutes yang lebih tinggi. Kelompok bakteri tersebut sebelumnya pernah dikaitkan dengan emosi positif pada perempuan.

Kopi tanpa kafein juga menunjukkan efek

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah kopi berkafein dan kopi tanpa kafein tidak memberikan efek yang sepenuhnya sama.

Peningkatan kemampuan belajar dan memori hanya ditemukan pada peserta yang mengonsumsi kopi tanpa kafein.

Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa senyawa selain kafein ikut berperan dalam pengaruh kopi terhadap fungsi kognitif.

Kopi mengandung ribuan senyawa kimia, termasuk polifenol. Senyawa yang berasal dari tumbuhan ini dapat bertindak sebagai antioksidan dan berinteraksi dengan mikroba di dalam usus. Interaksi tersebut berpotensi memengaruhi metabolisme dan berbagai proses biologis lainnya.

Sementara itu, kopi berkafein dikaitkan dengan berkurangnya rasa cemas serta meningkatnya kewaspadaan dan perhatian. Kafein juga dikaitkan dengan penurunan risiko peradangan.

Namun, penelitian ini melibatkan jumlah peserta yang relatif kecil. Karena itu, hasilnya belum dapat membuktikan bahwa kopi secara langsung menyebabkan perubahan pada suasana hati, kemampuan kognitif, atau kesehatan usus.

Temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai petunjuk baru mengenai jalur biologis yang mungkin menjelaskan sejumlah hubungan antara konsumsi kopi dan kesehatan yang pernah ditemukan dalam penelitian sebelumnya.

Kopi bukan sekadar soal kafein

Profesor John Cryan, Principal Investigator di APC Microbiome Ireland, University College Cork, sekaligus penulis utama penelitian, mengatakan perhatian masyarakat terhadap kesehatan usus terus meningkat.

Menurut Cryan, hubungan antara kesehatan pencernaan dan kesehatan mental juga semakin dipahami. Namun, mekanisme di balik pengaruh kopi terhadap hubungan usus dan otak masih belum jelas.

Penelitian ini menunjukkan adanya respons mikrobioma dan sistem saraf terhadap konsumsi kopi, sekaligus memberikan petunjuk mengenai kemungkinan manfaat jangka panjangnya terhadap mikrobioma.

Cryan menjelaskan bahwa kopi dapat mengubah aktivitas mikroba secara keseluruhan sekaligus memengaruhi metabolit yang digunakan mikroba tersebut.

Ia juga melihat kemungkinan kopi menjadi salah satu bagian dari pilihan pola makan yang mendukung keseimbangan pencernaan, selama tetap berada dalam pola makan sehat dan seimbang.

Dengan demikian, kopi tidak sesederhana minuman berkafein untuk mengusir kantuk. Berbagai senyawa di dalamnya dapat berinteraksi dengan mikrobioma, metabolisme, dan sistem saraf melalui mekanisme yang berbeda.

“Coffee is more than just caffeine,” kata Cryan. Menurut dia, kopi, baik berkafein maupun tanpa kafein, dapat memengaruhi kesehatan melalui cara yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Ringkasnya

Penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan kopi dengan tubuh kemungkinan jauh lebih kompleks daripada sekadar efek kafein. Konsumsi kopi dikaitkan dengan perubahan mikrobioma usus, metabolisme, suasana hati, stres, perhatian, hingga fungsi belajar dan memori.

Namun, karena jumlah peserta penelitian masih terbatas, temuan tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat. Penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memahami bagaimana berbagai senyawa dalam kopi bekerja melalui hubungan antara usus dan otak.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)