08117992581

Anda Tidak Harus Hebat di Semua Hal untuk Punya Karier yang Bagus

$rows[judul] Keterangan Gambar : Ilustrasi dibuat degan bantuan AI.

Kota Metro, A1BOS.COM - Ada anggapan bahwa orang yang punya karier bagus adalah mereka yang mampu melakukan hampir semua hal. Pintar berkomunikasi, menguasai teknologi, bisa memimpin, cepat belajar, sekaligus mampu menyelesaikan berbagai persoalan. 

Padahal, karier tidak selalu dibangun dengan cara seperti itu.

Seseorang bisa berkembang justru karena memiliki beberapa kemampuan yang sangat kuat dan terus mengembangkannya. Tidak semua kelemahan harus berubah menjadi keahlian.

Karier Bisa Dibangun dari Kekuatan

Jim Clifton, Chairman Gallup dan mantan CEO Gallup selama lebih dari tiga dekade, merupakan salah satu tokoh yang banyak menulis tentang kekuatan individu, kepemimpinan, dan dunia kerja. Ia juga merupakan penulis sejumlah buku, termasuk It’s the Manager, Wellbeing at Work, Born to Build, dan The Coming Jobs War.  

Dalam tulisan Gallup berjudul Build Your Career Around Your Strengths, Not Your Weaknesses, Clifton menjelaskan bahwa pengembangan karier sebaiknya dibangun berdasarkan kekuatan, bukan hanya berusaha memperbaiki kelemahan.

Menurut Clifton, seseorang perlu memahami kekuatan yang dimiliki dan mengembangkannya sehingga bisa digunakan pada situasi yang tepat.  

Pandangan ini cukup relevan bagi pekerja yang merasa harus menguasai semuanya. Sebab, kemampuan seseorang memang tidak harus sama dengan kemampuan rekan kerjanya.

Setiap Orang Punya Kombinasi Kemampuan Berbeda

Dean Jones, Global Talent Development Architect di Gallup dan pakar senior dalam bidang pembelajaran serta pengembangan berbasis kekuatan, memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan talenta dan strategi pembelajaran.

Di Gallup, Jones memimpin strategi bisnis untuk komunitas lebih dari 32.000 coach CliftonStrengths di seluruh dunia. Ia juga pernah memimpin strategi pembelajaran global Gallup dan terlibat dalam pengembangan berbagai program pembelajaran berbasis kekuatan.  

Jones bersama Jessica Buono pernah menulis tentang cara mengelola kelemahan melalui kekuatan. Menurut mereka, kelemahan tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang harus diubah menjadi kekuatan. Kelemahan dapat dikelola dengan memanfaatkan bakat dan kekuatan yang sudah dimiliki seseorang.  

Artinya, seseorang yang kurang kuat dalam satu bidang tidak otomatis memiliki masalah dalam kariernya.

Yang penting adalah memahami batas kemampuan tersebut dan mencari cara untuk mengelolanya.

Tidak Semua Kelemahan Harus Menjadi Keahlian

Brian J. Brim, Ed.D., Senior Practice Consultant di Gallup, telah bekerja selama puluhan tahun dalam riset dan pengembangan berbasis kekuatan. Ia juga merupakan co-author buku Strengths Based Selling dan berkontribusi pada sejumlah karya Gallup, termasuk First, Break All the Rules dan Strengths Based Leadership.  

Brim banyak membahas bagaimana kekuatan individu dapat digunakan untuk menghadapi perubahan, meningkatkan performa, dan membangun keterlibatan di tempat kerja.

Dalam salah satu tulisannya di Gallup, Brim menjelaskan bahwa pendekatan berbasis kekuatan dapat membantu meningkatkan engagement dan pengalaman karyawan.  

Bagi pekerja, prinsip tersebut bisa diterapkan dalam pengembangan karier.

Misalnya, seseorang sangat kuat dalam analisis tetapi kurang percaya diri ketika berbicara di depan banyak orang.

Kemampuan presentasi tetap perlu dilatih. Namun, tidak berarti orang tersebut harus menjadikan kemampuan berbicara sebagai keahlian utamanya.

Kemampuan analisis yang sudah kuat justru bisa terus diperdalam.

Fokus pada Kemampuan yang Memberi Nilai

Mengetahui kekuatan diri bukan berarti berhenti belajar. Justru sebaliknya. Kekuatan yang sudah dimiliki perlu terus dikembangkan agar memberikan nilai yang lebih besar.

Seorang pekerja yang kuat dalam menulis, misalnya, bisa mengembangkan kemampuan riset, memahami data, mempelajari storytelling, atau mendalami bidang tertentu.

Begitu juga seseorang yang kuat dalam membangun relasi. Kemampuan tersebut bisa dikembangkan menjadi keahlian negosiasi, penjualan, komunikasi bisnis, atau kepemimpinan.

Dengan begitu, satu kekuatan dapat berkembang menjadi beberapa kemampuan yang saling mendukung.

Tidak Perlu Menjadi Versi Orang Lain

Di tempat kerja, membandingkan kemampuan dengan rekan tentu sulit dihindari. Ada rekan yang lebih cepat menguasai teknologi. Ada yang lebih percaya diri ketika presentasi. Ada yang lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari atasan.

Namun, perbedaan tersebut tidak otomatis menentukan kualitas seseorang. Setiap pekerjaan membutuhkan kombinasi kemampuan yang berbeda.

Programmer tidak harus memiliki kemampuan komunikasi yang sama dengan sales. Editor tidak harus memiliki kemampuan analisis data yang sama dengan analis bisnis. Seorang pemimpin juga tidak harus menjadi orang yang paling ahli secara teknis dalam timnya. Yang penting adalah mengetahui kontribusi apa yang bisa diberikan.

Kekuatan Bisa Menjadi Identitas Profesional

Ketika sebuah kemampuan terus diasah, lama-kelamaan kemampuan tersebut bisa menjadi identitas profesional.

Anda mungkin dikenal sebagai orang yang paling teliti ketika memeriksa data. Atau orang yang selalu bisa menemukan ide baru. Bisa juga dikenal sebagai orang yang mampu menjelaskan persoalan rumit dengan bahasa sederhana.

Ketika orang lain mulai mencari Anda untuk kemampuan tertentu, saat itulah keahlian tersebut mulai memiliki nilai yang lebih besar.

Karier pun tidak lagi hanya bergantung pada seberapa banyak hal yang bisa dilakukan.

Ada nilai dari seberapa baik seseorang melakukan sesuatu yang memang menjadi kekuatannya.

Tidak Harus Hebat dalam Segala Hal

Karier yang baik bukan berarti harus menjadi manusia yang bisa mengerjakan semuanya.

Kenali kemampuan yang menjadi kekuatan utama. Kembangkan kemampuan tersebut. Sementara itu, kelola kelemahan yang memang bisa menghambat pekerjaan.

Jika ada kemampuan yang belum dikuasai, tidak ada salahnya belajar. Tetapi tidak semua kekurangan harus dipaksa menjadi keunggulan.

Pada akhirnya, perjalanan karier bukan tentang menjadi hebat dalam segala hal.

Karier bisa tumbuh ketika seseorang tahu apa yang menjadi kekuatannya, bagaimana mengembangkannya, dan bagaimana menggunakan kekuatan itu untuk memberikan nilai bagi pekerjaannya.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)