Keterangan Gambar : Ilustrasi: Mengatur gaji bulanan, agar gaji bulanan tidak habis di akhir bulan. foto/pexels
KOTA METRO, A1BOS.COM– Gaji masuk memang melegakan. Masalah biasanya muncul setelah itu. Tanpa perencanaan, uang bisa menipis jauh sebelum tanggal gajian berikutnya.
Pengeluaran sehari-hari sering menjadi penyebabnya. Bukan hanya belanja besar, tetapi juga biaya kecil yang terus muncul. Kopi, ongkos, makan di luar, belanja daring, sampai berbagai tagihan yang dibayar otomatis bisa menggerus gaji tanpa terasa.
Karena itu, mengatur uang sejak awal bulan penting dilakukan. Caranya tidak harus rumit. Ada beberapa pola sederhana yang bisa membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali.
Berikut tujuh cara yang bisa diterapkan.
Salah satu cara yang cukup populer adalah rumus 50/30/20. Penghasilan dibagi menjadi tiga bagian.
Sekitar 50 persen digunakan untuk kebutuhan pokok. Misalnya, makan, sewa rumah, listrik, transportasi, dan tagihan rutin.
Kemudian 30 persen untuk kebutuhan yang sifatnya tidak wajib. Hiburan, makan di luar, hobi, atau belanja bisa masuk dalam pos ini.
Sisanya, 20 persen, disisihkan untuk tabungan atau investasi.
Pembagian tersebut tidak harus diterapkan secara kaku. Jika kebutuhan pokok menghabiskan lebih dari separuh penghasilan, pos hiburan dan gaya hidup bisa ditekan. Yang penting, tetap ada bagian gaji yang disisihkan untuk kebutuhan masa depan.
Menunggu uang tersisa untuk ditabung sering berakhir dengan satu masalah: uangnya tidak tersisa.
Karena itu, tabungan sebaiknya dipisahkan begitu gaji diterima. Tidak perlu menunggu akhir bulan.
Caranya bisa sederhana. Begitu gaji masuk, pindahkan sejumlah uang ke rekening tabungan. Jika memungkinkan, gunakan fitur transfer otomatis agar kebiasaan tersebut berjalan setiap bulan.
Besarnya tidak harus langsung 20 persen. Mulai dari jumlah yang sanggup dilakukan secara rutin jauh lebih baik daripada menetapkan target besar tetapi tidak pernah berjalan.
Gaji yang tidak punya tujuan biasanya lebih mudah habis.
Karena itu, sejak awal bulan tentukan uang tersebut akan digunakan untuk apa. Pisahkan kebutuhan rumah tangga, transportasi, makan, tagihan, cicilan, tabungan, dan hiburan.
Cara ini dikenal sebagai zero-based budgeting. Intinya, setiap bagian penghasilan sudah memiliki tujuan.
Bukan berarti rekening harus benar-benar kosong. Jika ada sisa uang, tetap bisa disimpan. Yang penting, tidak ada uang yang dibiarkan tanpa rencana karena akhirnya mudah terpakai untuk hal yang sebenarnya tidak diperlukan.
Bagi yang sulit menahan pengeluaran, sistem amplop bisa dicoba.
Misalnya, gaji dibagi menjadi beberapa pos: belanja dapur, bensin, makan di luar, dan hiburan. Masing-masing diberi batas.
Dulu cara ini dilakukan dengan memasukkan uang tunai ke amplop. Sekarang prinsipnya bisa diterapkan secara digital melalui beberapa rekening atau dompet elektronik.
Aturannya sederhana. Jika uang untuk hiburan sudah habis, jangan mengambil dari uang belanja dapur hanya karena masih ingin nongkrong.
Sistem seperti ini memang terlihat sederhana. Justru di situlah gunanya. Batas pengeluaran menjadi lebih jelas.
Uang Rp10 ribu atau Rp20 ribu mungkin terasa tidak berarti. Tetapi jika keluar berkali-kali dalam sehari, jumlahnya bisa lumayan besar ketika dihitung sebulan.
Kopi, camilan, biaya administrasi, ongkos tambahan, atau belanja kecil di marketplace sering luput dari perhatian.
Cobalah mencatat semua pengeluaran selama sebulan. Tidak perlu aplikasi khusus. Catatan di ponsel sudah cukup.
Setelah beberapa minggu, biasanya mulai terlihat pola. Dari sana bisa diketahui pengeluaran mana yang sebenarnya bisa dikurangi.
Kadang masalah bukan pada satu pengeluaran besar. Justru uang habis karena terlalu banyak pengeluaran kecil yang dianggap sepele.
Coba buka rekening atau riwayat transaksi. Bisa jadi ada beberapa pembayaran otomatis yang sudah lama tidak diperhatikan.
Langganan film, musik, aplikasi, penyimpanan data, hingga berbagai layanan digital biasanya memotong saldo setiap bulan.
Kalau masih digunakan, tentu tidak masalah. Tetapi jika sudah jarang dibuka, pertimbangkan untuk berhenti berlangganan.
Satu langganan mungkin hanya puluhan ribu rupiah. Namun, jika ada beberapa layanan sekaligus, totalnya bisa menjadi pengeluaran rutin yang cukup besar.
Mengecek langganan setiap beberapa bulan bisa menjadi cara sederhana untuk menemukan uang yang selama ini bocor tanpa disadari.
Uang untuk kebutuhan sehari-hari sebaiknya tidak bercampur dengan dana darurat.
Salah satu cara yang mudah adalah menggunakan rekening berbeda. Rekening pertama untuk menerima gaji dan membayar kebutuhan rutin. Rekening lainnya khusus untuk tabungan atau dana darurat.
Pemisahan ini membuat uang yang sudah disisihkan tidak mudah ikut terpakai.
Dana darurat memang bukan uang yang tidak boleh disentuh sama sekali. Tetapi penggunaannya sebaiknya hanya untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak dan tidak bisa ditutup dari anggaran bulanan.
Mengatur gaji pada dasarnya bukan soal seberapa besar penghasilan seseorang. Yang lebih penting adalah mengetahui ke mana uang pergi setelah gaji diterima.
Dengan membagi kebutuhan sejak awal, mencatat pengeluaran, dan menyisihkan tabungan lebih dulu, uang bulanan setidaknya punya arah yang jelas. Dengan begitu, tanggal gajian berikutnya tidak selalu terasa seperti sesuatu yang harus dikejar.
Tulis Komentar