Keterangan Gambar : ilustasi unsplash
Kota Metro, A1BOS.COM -Passive income atau pendapatan pasif semakin sering dibicarakan, terutama ketika orang mulai mencari sumber penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama.
Istilah ini terdengar sederhana: membuat uang tetap masuk tanpa harus bekerja setiap hari. Namun, passive income sebenarnya tidak berarti mendapatkan uang tanpa melakukan apa pun.
Pada umumnya, seseorang tetap perlu bekerja di awal. Bisa berupa menyiapkan modal, membeli aset, membuat produk, membangun sistem, atau menciptakan karya. Setelah sistem tersebut berjalan, keterlibatan sehari-hari bisa dibuat lebih kecil.
Secara sederhana, passive income adalah penghasilan yang diperoleh dari aset atau aktivitas yang tidak membutuhkan keterlibatan aktif secara terus-menerus.
Sumbernya bisa bermacam-macam. Mulai dari properti yang disewakan, investasi tertentu, royalti karya, hingga produk digital yang dapat dijual berulang.
Internal Revenue Service (IRS) di Amerika Serikat, misalnya, memasukkan sejumlah penghasilan seperti dividen, bunga, sewa dan royalti ke dalam kategori passive income untuk keperluan tertentu. IRS juga membedakan aktivitas bisnis pasif berdasarkan tingkat keterlibatan seseorang dalam kegiatan tersebut.
Namun, dalam penggunaan sehari-hari, istilah passive income lebih sering dipakai untuk menggambarkan penghasilan yang tetap dapat berjalan meski pemiliknya tidak terlibat secara aktif setiap saat.
Karena itu, passive income lebih tepat dipahami sebagai konsep membangun aset atau sistem terlebih dahulu, kemudian memperoleh penghasilan secara berulang dari aset tersebut.
Ini bagian yang sering disalahpahami.
Passive income bukan berarti seseorang cukup duduk dan menunggu uang masuk.
Hampir selalu ada pekerjaan di awal.
Misalnya, seseorang ingin mendapatkan penghasilan dari menyewakan rumah. Dia harus mempunyai atau membeli properti, mengeluarkan biaya perawatan, mencari penyewa, mengurus administrasi, dan memastikan properti tetap layak digunakan.
Setelah semuanya berjalan, sebagian pekerjaan tersebut dapat dialihkan kepada pengelola atau dibuat lebih sistematis.
Begitu pula dengan produk digital.
Seseorang bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuat e-book, kursus online, template, foto, musik, atau produk digital lainnya. Setelah produk selesai dan sistem penjualannya tersedia, produk tersebut bisa dijual berulang tanpa harus membuatnya kembali setiap kali ada pembeli.
Jadi, kata “pasif” lebih berkaitan dengan seberapa besar keterlibatan setelah sistem berjalan, bukan berarti tidak ada pekerjaan sama sekali.
Ada banyak model yang sering dikategorikan sebagai passive income. Namun, setiap model mempunyai kebutuhan modal, tingkat risiko, dan tingkat keterlibatan yang berbeda.
Properti merupakan salah satu contoh yang paling mudah dipahami.
Pemilik rumah, kamar, ruko, tanah, atau aset tertentu dapat memperoleh pendapatan dengan menyewakannya.
Pendapatan berasal dari pembayaran penyewa. Namun, pemilik tetap perlu memperhitungkan biaya perawatan, pajak, perbaikan, kekosongan penyewa, dan biaya pengelolaan.
Dalam aturan IRS, kegiatan penyewaan properti termasuk aktivitas yang memiliki aturan khusus dalam klasifikasi aktivitas pasif.
Bagi masyarakat Indonesia, konsepnya bisa dilihat secara sederhana. Rumah yang sebelumnya hanya menjadi aset bisa menghasilkan pemasukan rutin apabila mempunyai pasar sewa yang baik.
Saham yang membagikan dividen dapat menjadi salah satu sumber penghasilan dari aset investasi.
Investor membeli saham perusahaan dan, apabila perusahaan memutuskan membagikan dividen, investor mendapatkan bagian sesuai ketentuan yang berlaku.
Namun, dividen bukan penghasilan yang otomatis selalu dibayarkan. Besarnya bisa berbeda dan perusahaan tidak selalu membagikan dividen setiap periode.
Karena itu, investasi berbasis dividen tetap membutuhkan pemahaman mengenai perusahaan, harga aset, risiko pasar, dan tujuan investasi.
Royalti merupakan contoh lain.
Penulis dapat memperoleh royalti dari buku. Musisi dapat memperoleh royalti dari karya musik. Fotografer atau kreator visual juga dapat memperoleh penghasilan ketika karyanya digunakan atau dilisensikan.
Keunggulan model ini adalah satu karya bisa menghasilkan uang lebih dari sekali.
Namun, tetap diperlukan pekerjaan kreatif di awal. Karya juga harus mempunyai nilai dan pasar agar dapat menghasilkan pendapatan.
IRS memasukkan royalti sebagai salah satu jenis pendapatan yang dapat termasuk passive income dalam konteks tertentu.
Produk digital menjadi salah satu model yang relatif mudah dimulai dengan modal yang lebih kecil.
Contohnya:
Sekali produk dibuat, produk tersebut dapat dijual berkali-kali.
Tetapi bukan berarti setelah produk dibuat semuanya selesai. Produk perlu diperbarui, dipasarkan, dan dilayani apabila ada masalah dari pembeli.
Affiliate marketing bekerja dengan sistem komisi.
Seseorang mempromosikan produk atau layanan melalui tautan khusus. Ketika ada orang yang melakukan transaksi melalui tautan tersebut, pemilik tautan bisa memperoleh komisi sesuai program yang diikuti.
Model ini banyak digunakan oleh kreator konten, blogger, pemilik situs, maupun pengguna media sosial.
Tantangannya adalah membangun audiens dan kepercayaan. Tanpa orang yang tertarik melihat rekomendasi tersebut, peluang mendapatkan komisi juga kecil.
Tidak perlu langsung memikirkan model yang membutuhkan modal besar.
Langkah pertama justru melihat apa yang sudah dimiliki.
Apakah mempunyai modal? Keahlian? Aset? Audiens? Karya? Atau waktu untuk membangun sesuatu?
Dari situ, pilihan passive income bisa lebih realistis.
Jangan langsung berpikir ingin mendapatkan puluhan juta rupiah per bulan.
Mulailah dengan angka yang masuk akal.
Misalnya, target pertama Rp500 ribu per bulan. Setelah model terbukti berjalan, target bisa dinaikkan secara bertahap.
Target yang jelas juga membantu menentukan berapa modal dan waktu yang dibutuhkan.
Jangan memilih passive income hanya karena sedang populer.
Orang yang mempunyai aset properti mungkin lebih cocok dengan model sewa.
Orang yang mempunyai kemampuan menulis bisa membuat e-book.
Fotografer dapat memanfaatkan karya foto.
Orang yang mempunyai kemampuan mengajar bisa membuat kursus digital.
Sementara orang yang mempunyai modal dan memahami investasi dapat mempertimbangkan instrumen investasi sesuai profil risikonya.
Intinya, pilih model yang mempunyai hubungan dengan kemampuan atau aset yang sudah dimiliki.
Passive income tetap membutuhkan perhitungan.
Jangan hanya melihat potensi pemasukan. Hitung juga biaya yang harus dikeluarkan.
Misalnya, properti mempunyai biaya perawatan. Produk digital membutuhkan biaya platform atau pemasaran. Investasi memiliki risiko penurunan nilai. Bisnis affiliate membutuhkan waktu dan biaya untuk membangun konten atau audiens.
Yang penting bukan sekadar berapa uang yang masuk, tetapi berapa pendapatan bersih yang tersisa.
Inilah bagian yang membuat sebuah penghasilan bisa menjadi lebih pasif.
Semakin banyak pekerjaan yang bisa dibuat otomatis atau didelegasikan, semakin kecil keterlibatan pemilik dalam pekerjaan rutin.
Contohnya, penjualan produk digital dapat menggunakan sistem pembayaran otomatis. Pengelolaan properti dapat dibantu pengelola. Konten promosi dapat dibuat dan dijadwalkan lebih awal.
Namun, sistem tetap perlu diawasi.
Tidak semua sumber passive income akan berhasil.
Produk mungkin tidak laku. Properti bisa mengalami masa kosong. Investasi bisa turun nilainya. Program affiliate dapat berubah komisinya.
Karena itu, evaluasi tetap diperlukan.
Lihat berapa modal yang sudah keluar, berapa pemasukan yang diperoleh, berapa waktu yang dibutuhkan, dan apakah hasilnya sesuai dengan target.
Passive income tidak selalu identik dengan modal besar.
Salah satu pilihan dengan modal relatif rendah adalah membuat produk berdasarkan keahlian yang sudah dimiliki.
Misalnya, seseorang yang pandai desain dapat membuat template. Orang yang mempunyai pengalaman di bidang tertentu dapat membuat panduan digital. Fotografer dapat menjual lisensi foto.
Model seperti ini lebih banyak membutuhkan waktu dan kemampuan daripada modal besar.
Tetapi tetap ada satu persoalan: pasar.
Produk yang bagus belum tentu menghasilkan uang jika tidak ada orang yang membutuhkannya.
Karena itu, sebelum membuat produk, penting untuk melihat kebutuhan calon pembeli.
Jawabannya tergantung sumber penghasilannya.
Passive income bukan sebuah produk investasi tertentu. Istilah tersebut hanya menggambarkan model memperoleh pendapatan.
Karena itu, masyarakat tetap perlu melihat produk atau kegiatan yang berada di balik tawaran passive income tersebut.
Hal ini penting karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap tawaran yang menjanjikan keuntungan tinggi atau keuntungan tetap yang tidak masuk akal.
Satgas PASTI OJK juga mencatat adanya penawaran yang menggunakan iming-iming passive income tanpa risiko. OJK meminta masyarakat memastikan legalitas pihak yang menawarkan investasi, memahami produknya, serta menghindari skema yang tidak logis.
Jadi, kalimat seperti “modal kecil, passive income besar, tanpa risiko” justru perlu membuat calon investor waspada.
Tidak ada model penghasilan yang secara otomatis menjamin keuntungan besar tanpa risiko.
Kesalahpahaman terbesar tentang passive income adalah anggapan bahwa seseorang dapat menghasilkan banyak uang tanpa bekerja.
Faktanya, hasil biasanya membutuhkan proses.
Ada yang membutuhkan modal besar tetapi waktu pengelolaan lebih kecil. Ada yang membutuhkan modal kecil tetapi memerlukan banyak waktu untuk membangun produk dan audiens.
Ada pula model yang terlihat pasif dari luar, tetapi sebenarnya membutuhkan pemantauan rutin.
Karena itu, passive income sebaiknya dipandang sebagai strategi membangun sumber penghasilan tambahan, bukan jalan pintas menuju kaya.
Bagi pemula, tidak perlu mengejar banyak sumber sekaligus.
Pilih satu model yang paling dekat dengan kondisi saat ini.
Jika mempunyai keahlian, manfaatkan keahlian tersebut menjadi produk.
Jika mempunyai aset, lihat apakah aset tersebut dapat menghasilkan pemasukan.
Jika mempunyai modal investasi, pelajari instrumen yang sesuai dengan tujuan dan toleransi risiko.
Mulailah dari skala kecil. Setelah mengetahui bagaimana sistemnya bekerja, barulah dikembangkan.
Dengan cara tersebut, passive income tidak lagi sekadar istilah yang terdengar menarik. Ia menjadi sebuah sistem yang dibangun secara bertahap.
Pada akhirnya, tujuan passive income bukan membuat seseorang berhenti bekerja. Tujuannya adalah membuat sebagian penghasilan tidak selalu bergantung pada waktu yang ditukar dengan uang.
Semakin baik aset atau sistem yang dibangun, semakin besar peluang untuk menciptakan sumber pendapatan tambahan yang dapat berjalan dengan keterlibatan aktif yang lebih kecil.
Passive income adalah penghasilan yang dapat diperoleh dari aset atau sistem dengan keterlibatan aktif yang relatif lebih kecil setelah fondasinya dibangun.
Contohnya antara lain properti sewa, dividen, royalti, produk digital, dan affiliate marketing.
Namun, passive income tetap membutuhkan kerja di awal, modal atau keahlian, pengelolaan, serta evaluasi. Tidak ada jaminan bahwa semua model akan menghasilkan keuntungan.
Karena itu, cara paling realistis untuk memulainya adalah mengenali aset dan kemampuan yang sudah dimiliki, menentukan target, memilih model yang sesuai, menghitung risiko, lalu membangun sistem secara bertahap.(bs)
Tulis Komentar