Keterangan Gambar : Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut kedatangan rombongan penari asal Pelembang dan Lampung.foto/ist
Kedatangan rombongan tersebut disambut Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Selama perjalanan menuju Banyuwangi, mereka didampingi dan difasilitasi Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Sumatera Selatan.
“Alhamdulilah, kami sangat bersyukur para penari maupun pendamping selamat dan bisa sampai ke Banyuwangi. Kami juga berterima kasih atas dukungan dan solidaritas dari teman-teman Ikawangi,” kata Ipuk.
Ipuk mengaku salut dengan semangat para penari yang tetap memutuskan melanjutkan perjalanan untuk tampil dalam Gandrung Sewu, meski masih diliputi trauma dan mengalami cedera ringan.
“Saya sangat salut dan terharu, meski masih diliputi trauma bahkan juga ada yang cedera ringan, tapi mereka tetap bersemangat untuk tampil di Gandrung Sewu. Kami juga berterima kasih atas solidaritas Ikawangi yang turut membantu segala kebutuhan para penari hingga bisa sampai ke Banyuwangi,” kata Ipuk.
Ipuk juga menyerahkan sejumlah perlengkapan tari Gandrung Sewu kepada para penari, seperti selendang dan kipas. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi turut membantu mengurus KTP yang hilang akibat kebakaran.
“Kemarin videocall mereka sangat sedih juga karena kostum, kipas dan selendang untuk menari Gandrung turut terbakar. Kita juga bantu urus KTP yang hilang. Keperluan mereka selama di Banyuwangi hingga pulang nanti akan dibantu pemkab,” kata Ipuk.
Ketua Ikawangi Sumatera Selatan Suroso mengatakan, semula ada delapan penari asal Palembang dan Lampung yang dijadwalkan tampil dalam Gandrung Sewu. Tiga penari berangkat lebih dahulu, sedangkan lima lainnya berangkat bersama-sama.
“Ada delapan, tiga orang berangkat duluan. Lima orang ini yang berangkat bersama-sama,” kata Suroso.
Suroso menceritakan, rombongan berangkat pada Selasa pagi melalui perjalanan darat menggunakan mobil. Namun, saat kapal yang mereka tumpangi hampir berlabuh di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, KMP Batumandi terbakar.
Peristiwa tersebut terjadi Selasa (20/10/2026). Mobil yang membawa para penari beserta barang-barang mereka ikut terbakar di dalam kapal.
“Mobil yang membawa anak-anak (penari) terbakar di kapal. Bahkan barang-barang mereka juga ikut terbakar. Tapi yang penting semua selamat,” kata Suroso.
Saat berada di Pelabuhan Merak, Suroso sempat menanyakan kepada para penari apakah ingin pulang atau melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Mereka sepakat tetap berangkat karena ingin tampil dalam Gandrung Sewu.
“Ternyata mereka semua memutuskan untuk lanjut, karena ingin tampil di Gandrung Sewu,” jelas Suroso.
Dengan bantuan Ikawangi Pusat di Jakarta, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi menggunakan bus.
“Solidaritas Ikawangi memang luar biasa. Kami sangat dibantu sepanjang perjalanan,” kata Suroso.
Salah seorang penari, Fitri, mengaku bersyukur bisa selamat dari kebakaran kapal tersebut. Dia juga tetap bersemangat mengikuti pertunjukan Gandrung Sewu 2026.
“Puji Tuhan kami diberi keselamatan. Kami sangat bersemangat untuk tampil di Gandrung Sewu,” kata Fitri.
Gandrung Sewu 2026 akan digelar di Pantai Boom Marina pada Sabtu (24/10/2026), mulai pukul 18.30. Tahun ini, sebanyak 200 dari total 1.300 penari berasal dari luar Banyuwangi. Mereka datang dari sejumlah daerah, antara lain Palembang, Lampung, Jakarta, Bali, Malang, dan Pasuruan.(nanang)
Tulis Komentar