Keterangan Gambar : ilustrasi/unsplash
Kota Metro, A1BOS.COM – Berapa lama waktu yang Anda habiskan di tempat terang setiap hari? Kebiasaan yang kerap luput dari perhatian ini ternyata berkaitan dengan risiko demensia, menurut sebuah penelitian terhadap lebih dari 87 ribu orang dewasa.
Penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang terpapar cahaya terang pada siang hari kurang dari 42 menit memiliki indikator risiko demensia yang lebih kuat. Sebaliknya, paparan cahaya siang hari dengan intensitas lebih tinggi berkaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah.
Dikutip dan diadaptasi dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah General Psychiatry, temuan ini menyoroti paparan cahaya siang hari sebagai faktor yang berpotensi penting bagi kesehatan otak. Namun, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa menambah paparan cahaya secara langsung dapat mencegah demensia.
Untuk mengetahui hubungan antara paparan cahaya dan demensia, peneliti menganalisis data 87.577 orang dewasa.
Para peserta mengenakan perangkat di pergelangan tangan yang dilengkapi akselerometer. Perangkat tersebut membantu peneliti mengukur paparan cahaya yang diterima peserta pada siang maupun malam hari.
Peneliti mengikuti perkembangan peserta selama median 8,1 tahun. Dalam periode tersebut, sebanyak 741 peserta mengalami demensia.
Dari hasil pengamatan itu, peneliti menemukan pola yang menarik. Tingkat paparan cahaya pada siang hari berkaitan dengan perbedaan risiko demensia di antara peserta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan paparan cahaya siang hari dengan intensitas rata-rata lebih dari 1.000 lux memiliki risiko demensia 16 persen lebih rendah.
Lux merupakan satuan untuk mengukur intensitas pencahayaan. Tingkat 1.000 lux dapat menggambarkan kondisi dengan pencahayaan sedang, seperti di luar ruangan ketika langit mendung.
Peneliti juga menemukan hubungan serupa pada paparan cahaya yang lebih terang. Peserta yang menghabiskan lebih banyak waktu dalam cahaya dengan intensitas setidaknya 5.000 lux menunjukkan risiko demensia yang lebih rendah.
Temuan ini memperlihatkan bahwa intensitas dan durasi paparan cahaya pada siang hari berpotensi menjadi bagian penting dalam penelitian mengenai kesehatan otak.
Meski demikian, hasil tersebut menunjukkan hubungan statistik, bukan bukti bahwa cahaya terang secara langsung menurunkan risiko demensia.
Salah satu temuan paling menarik berkaitan dengan peserta yang hanya mendapatkan sedikit paparan cahaya terang pada siang hari.
Mereka yang terpapar cahaya terang kurang dari 0,7 jam atau sekitar 42 menit sehari memiliki indikator risiko demensia yang lebih kuat dibandingkan enam faktor risiko demensia yang telah dikenal sebelumnya.
Temuan tersebut membuat paparan cahaya siang hari layak mendapat perhatian lebih lanjut dalam penelitian tentang demensia.
Namun, angka 42 menit bukan batas waktu yang sudah terbukti menentukan seseorang akan mengalami demensia atau tidak. Angka tersebut menggambarkan hasil pengamatan dalam penelitian, bukan rekomendasi medis untuk mencegah penyakit.
Selain mengamati paparan cahaya pada siang hari, peneliti juga memeriksa hubungan antara cahaya malam hari dan risiko demensia.
Hasilnya, peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara paparan cahaya pada malam hari dan risiko demensia.
Dalam penelitian ini, hubungan yang lebih jelas terlihat pada paparan cahaya siang hari. Artinya, tingkat kecerahan cahaya yang diterima seseorang pada siang hari menjadi salah satu aspek yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Namun, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa paparan cahaya malam hari sama sekali tidak berkaitan dengan kesehatan otak. Penelitian ini hanya menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik dalam data yang dianalisis.
Hongliang Feng, PhD, dari Guangzhou Medical University, Tiongkok, yang menjadi penulis korespondensi penelitian, menyebut paparan cahaya pada siang hari berpotensi menjadi indikator baru untuk menilai risiko demensia.
Menurut Feng, paparan cahaya siang hari dapat memberikan petunjuk tambahan dalam memahami risiko penyakit tersebut.
Meski demikian, temuan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Peneliti belum memastikan apakah orang yang meningkatkan paparan cahaya siang hari benar-benar dapat mengurangi risiko demensia.
Dengan kata lain, paparan cahaya terang belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung dari perbedaan risiko yang ditemukan dalam penelitian.
Penelitian terhadap 87.577 orang dewasa tersebut menemukan hubungan antara paparan cahaya siang hari dan risiko demensia. Peserta yang mendapatkan paparan cahaya dengan intensitas rata-rata lebih dari 1.000 lux memiliki risiko 16 persen lebih rendah. Sementara itu, paparan cahaya terang kurang dari 42 menit sehari menjadi indikator risiko yang menonjol.
Namun, temuan tersebut belum membuktikan bahwa memperpanjang waktu berada di tempat terang dapat mencegah demensia.
Karena itu, durasi 42 menit tidak perlu dipahami sebagai patokan pasti untuk menjaga kesehatan otak. Hal yang lebih penting dari penelitian ini adalah munculnya petunjuk baru mengenai hubungan paparan cahaya siang hari dan risiko demensia yang masih perlu diteliti lebih mendalam.
Tulis Komentar