08117992581

Muskot PMI Metro 2026, Profesionalisme Hingga Regenerasi Kepemimpinan Jadi Perhatian

$rows[judul]

Kota Metro, A1BOS.COM - Musyawarah Kota (Muskot) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Metro Tahun 2026 resmi digelar di Aula SMK Muhammadiyah 3 Kota Metro, Rabu (21/01/2026).

Forum pengambilan keputusan tertinggi organisasi kemanusiaan ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan melainkan momentum penting untuk menyebarkan kinerja, menentukan arah masa depan, sekaligus menentukan kepemimpinan baru PMI Metro.

Walikota Metro Bambang Iman Santoso yang hadir membuka Muskot menegaskan bahwa PMI bukan sekadar organisasi sosial melainkan mitra strategis pemerintah dalam urusan kemanusiaan dan pelayanan publik.

“Palang Merah Indonesia adalah mitra strategis pemerintah dalam bidang sosial dan kemanusiaan. Kiprah PMI Kota Metro selama ini telah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, baik melalui pelayanan donor darah, penanggulangan bencana, pelayanan kesehatan, maupun berbagai kegiatan sosial kemanusiaan lainnya,” kata Bambang dalam berbagainya.

Tekanan terhadap keberadaan PMI tidak dapat dianggap sebagai pelengkap tetapi merupakan garda terdepan dalam situasi darurat dan pelayanan kemanusiaan.

“Selama ini PMI Kota Metro telah menunjukkan kontribusi yang nyata dan konsisten, mulai dari pelayanan darah, penanggulangan bencana, pertolongan pertama, hingga aksi-aksi sosial. Ini adalah kerja yang sunyi, namun dampaknya nyata,” tegasnya.

Namun demikian, Bambang juga mengingatkan agar PMI tidak terjebak pada romantisme masa lalu. Ia mendorong agar Muskot ini melahirkan kepengurusan yang lebih profesional, berintegritas, dan adaptif terhadap tantangan zaman.

“Saya berharap Muskot PMI 2026 ini menghasilkan keputusan yang bijaksana, program kerja yang realistis dan berkelanjutan, serta kepengurusan yang solid, berintegritas, dan memiliki semangat pengabdian yang tinggi. PMI harus semakin profesional, mandiri, dan dicintai masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Organisasi PMI Provinsi Lampung Ir. Achmad Krisna Putra memberikan penekanan khusus pada pentingnya menjaga nilai-nilai dasar organisasi. Ia mengingatkan bahwa PMI bukanlah ruang politik praktis, melainkan rumah besar kemanusiaan yang harus menjaga marwahnya.

“Kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada pengurus yang telah mengabdikan diri selama lima tahun dengan tulus dan ikhlas. Taatlah pada asas dan aturan organisasi. Pastikan proses pemilu berjalan demokratis,” ujarnya.

Menurutnya, kepemimpinan PMI ke depan harus benar-benar lahir dari proses yang sehat bukan hasil yang merugikan kepentingan.

“PMI adalah rumah besar bagi kemanusiaan. Pilih pemimpin yang siap, karena Kota Metro adalah wilayah yang dinamis. Tantangannya tidak kecil mulai dari bencana, pelayanan darah, hingga masalah sosial,” tegasnya.

Pernyataan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa Muskot bukan hanya soal siapa yang akan menang, tetapi bagaimana prosesnya dijalankan secara transparan, jujur, dan pejabat.

Ketua PMI Kota Metro periode 2021-2026 dr. Silfia Naharani ikut menyampaikan pesan reflektif. Ia menegaskan bahwa regenerasi adalah keniscayaan, dan kepemimpinan baru harus melanjutkan hal-hal baik sekaligus memperbaiki kekurangan.

"Apa saja yang menjadi PR harus diteruskan oleh pengganti saya. Saatnya regenerasi. Semoga PMI tetap mandiri dan netral, serta terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat," ujarnya.

Ia juga mematok target ambisius yang harus menjadi perhatian kepengurusan baru, yaitu 2000 kantong darah per bulan dapat dikumpulkan untuk kesejahteraan.

“Target 2026 bisa mencapai 2.000 kantong darah per bulan. Ini bukan mimpi tapi harus diupayakan dengan sistem yang kuat, relawan yang solid, dan manajemen yang profesional,” terangnya.

Target ini sekaligus menjadi tantangan besar, mengingat kebutuhan darah di Kota Metro terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan fasilitas kesehatan. Muskot PMI 2026 ini tidak hanya menjadi forum seremonial, tetapi juga ujian integritas bagi seluruh peserta.

Di tengah meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap transparansi dan profesionalisme lembaga sosial, PMI dituntut untuk tidak hanya hadir saat bencana, tetapi juga membangun sistem yang kuat, akuntabel, dan bebas dari konflik kepentingan. Harapan masyarakat pun tidak kecil. PMI diharapkan tidak hanya aktif dalam aksi-aksi darurat, namun juga inovatif dalam pelayanan, edukasi, serta penguatan kapasitas relawan.

Dengan digelarnya Muskot ini publik menunggu apakah PMI Metro mampu melahirkan kepemimpinan yang benar-benar berfungsi untuk kesejahteraan, atau justru terjebak dalam rutinitas tanpa perubahan.

Satu hal yang pasti keputusan yang dihasilkan dalam Muskot ini akan menentukan wajah PMI Kota Metro lima tahun ke depan, apakah semakin kuat, profesional, dan dicintai masyarakat, atau justru stagnan di tengah tantangan yang kian kompleks. 

(Taklika)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)