08117992581

Mengurangi Makanan Ultra-Proses Mungkin Membantu Meredakan Gejala Depresi

$rows[judul] Keterangan Gambar : ilustrasi/unsplash

Kota Metro, A1BOS.COM - Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses mungkin tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Sebuah penelitian awal menemukan adanya perbaikan gejala depresi setelah peserta mengurangi konsumsi makanan jenis tersebut secara drastis.

Makanan ultra-proses mencakup berbagai produk yang mudah ditemui sehari-hari, seperti camilan kemasan, makanan cepat saji, minuman manis, dan makanan yang dibuat melalui proses industri dengan tambahan bahan tertentu.

Dikutip dan diadaptasi dari penelitian yang dipublikasikan pada 23 September di JAMA Psychiatry, studi dari University of California, San Francisco (UCSF) ini didanai National Institutes of Health. Peneliti membandingkan gejala depresi pada peserta yang sama sebelum dan sesudah mereka beralih dari pola makan tinggi makanan ultra-proses ke pola makan yang lebih sehat.

Gejala depresi membaik setelah pola makan berubah

Penelitian ini hanya melibatkan 20 orang sehingga hasilnya masih bersifat awal. Rata-rata usia peserta 44 tahun dan 70 persen di antaranya perempuan.

Peserta mengurangi konsumsi makanan ultra-proses lebih dari 85 persen. Setelah perubahan tersebut, mereka menunjukkan perbaikan sedang hingga besar pada tiga ukuran gejala depresi yang digunakan dalam penelitian.

Gejala kecemasan juga membaik, meski perubahan yang terlihat lebih kecil.

Andrew Krystal, MD, profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku serta Neurologi UCSF, mengatakan penelitian awal tersebut berhasil menunjukkan bahwa penelitian serupa dapat dilakukan dalam skala yang lebih besar.

Makanan ultra-proses yang diteliti antara lain camilan kemasan, makanan cepat saji, minuman manis, serta berbagai produk makanan yang dibuat secara industri. Produk tersebut dapat mengandung bahan seperti pengawet, pewarna buatan, penguat rasa, dan pengemulsi.

Mengapa makanan ultra-proses sulit dikurangi?

Mengurangi makanan ultra-proses bukan hal mudah. Makanan jenis ini biasanya mudah didapat, murah, praktis, dan memiliki rasa yang sangat menarik.

Nyasha Chagwedera, MD, PhD, asisten profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku UCSF, mengatakan makanan ultra-proses dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia otak yang berkaitan dengan rasa senang dan keinginan untuk mengonsumsi makanan tersebut kembali.

Menurut Chagwedera, industri makanan juga menggunakan penelitian untuk menentukan kombinasi gula, garam, dan lemak yang membuat produk terasa semakin menarik dan mendorong orang untuk terus memakannya.

Peneliti melihat kemungkinan hubungan usus dan otak

Para peserta memiliki kondisi kesehatan yang cukup beragam. Selain depresi, 14 peserta juga mengalami kecemasan.

Seluruh peserta memiliki BMI tinggi dan setidaknya satu gangguan metabolisme, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau kadar kolesterol LDL yang tinggi.

Peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok. Satu kelompok tetap menjalani pola makan seperti biasa selama empat minggu. Kelompok lainnya beralih ke pola makan dengan konsumsi makanan ultra-proses yang jauh lebih rendah.

Peserta tetap memilih dan membeli makanan mereka sendiri, tetapi mendapat panduan dari tim peneliti. Setelah empat minggu, kedua kelompok bertukar pola makan.

Chagwedera, yang mendirikan UCSF Metabolic and Mental Health Program, melihat kondisi usus sebagai salah satu kemungkinan yang dapat menjelaskan hubungan antara makanan ultra-proses dan depresi.

Menurut hipotesis tersebut, makanan ultra-proses mungkin dapat mengganggu lapisan pelindung usus. Gangguan ini kemudian dapat memicu peradangan ringan dan berlangsung dalam waktu lama di seluruh tubuh.

Peradangan tersebut, menurut Chagwedera, mungkin secara langsung berhubungan dengan depresi atau membuat seseorang lebih rentan mengalami gejalanya.

Sederhananya, terlalu banyak mengonsumsi makanan ultra-proses mungkin dapat mengganggu kesehatan usus, yang kemudian berdampak pada otak.

Penelitian lebih besar akan dilakukan

Meski hasilnya menunjukkan perubahan positif, penelitian ini belum cukup untuk membuktikan bahwa mengurangi makanan ultra-proses dapat mengatasi depresi.

Jumlah peserta yang hanya 20 orang membuat temuan tersebut masih perlu diuji melalui penelitian dengan jumlah peserta yang lebih besar.

Peneliti berencana melanjutkan studi tersebut ke tahap berikutnya. Pendaftaran peserta untuk penelitian fase kedua diperkirakan dimulai pada 2028.

Untuk saat ini, hasil penelitian lebih tepat dipandang sebagai temuan awal mengenai kemungkinan hubungan antara pola makan, kesehatan usus, dan gejala depresi. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui seberapa kuat hubungan tersebut.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)