08117992581

Google Uji Cip AI di Luar Angkasa, Seberapa Jauh Data Center di Orbit?

$rows[judul] Keterangan Gambar : foto/dok.yahoo finance

Kota Metro, A1BOS.COM - Google mulai menguji cip kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa. Empat Tensor Processing Unit (TPU) milik perusahaan tersebut kini berada di orbit Bumi dalam satelit prototipe Project Suncatcher.

Satelit berukuran sekitar kulkas itu diluncurkan pada 1 Oktober 2026 menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX dalam misi rideshare Transporter-18 dari Vandenberg, California. Satelit tersebut dibuat Google bersama perusahaan teknologi antariksa Planet.

Dikutip dan diadaptasi dari laporan Reuters serta publikasi resmi Google mengenai Project Suncatcher. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa misi ini merupakan uji pertama Google di orbit untuk mengetahui apakah luar angkasa berpotensi menjadi tempat infrastruktur komputasi AI berskala besar. Setelah peluncuran, Google mengonfirmasi telah berhasil menghubungi satelit dan sistem beroperasi sesuai harapan.

Bukan data center yang sudah siap beroperasi

Project Suncatcher bukanlah pembangunan data center AI di luar angkasa yang sudah selesai. Ini merupakan eksperimen awal untuk mengetahui apakah perangkat keras AI dapat bertahan dan bekerja dalam kondisi ekstrem di orbit.

Reuters melaporkan, satelit tersebut dirancang untuk menguji kemampuan TPU menghadapi gaya saat peluncuran, radiasi, suhu ekstrem, serta persoalan pendinginan di ruang hampa. Google juga menyebut misi ini akan mengumpulkan data mengenai bagaimana TPU menghadapi tekanan fisik penerbangan luar angkasa dan kondisi radiasi serta termal di orbit.  

Dengan demikian, keberhasilan peluncuran belum berarti konsep data center AI di orbit sudah terbukti secara teknis maupun ekonomis.

Mengapa Google tertarik membawa AI ke orbit?

Salah satu alasan utama Project Suncatcher adalah energi Matahari.

Google membayangkan satelit yang ditempatkan pada orbit tertentu dapat memperoleh paparan Matahari hampir terus-menerus. Menurut Google, satelit di orbit rendah Bumi berpotensi memperoleh hingga delapan kali lebih banyak energi surya dibandingkan panel surya di permukaan Bumi.  

Dalam visi jangka panjang Google, sejumlah satelit dapat dilengkapi TPU dan saling terhubung menggunakan komunikasi laser. Sistem tersebut nantinya diharapkan mampu menangani beban kerja AI dalam skala besar.

Tetapi, untuk saat ini, konsep tersebut masih berada pada tahap penelitian.

Empat TPU menjadi objek pengujian

Satelit prototipe Project Suncatcher membawa empat TPU Google.

Cip tersebut akan digunakan untuk melihat bagaimana perangkat keras AI bekerja di lingkungan luar angkasa. Salah satu tantangan yang harus dihadapi adalah radiasi yang dapat menyebabkan kesalahan pada perangkat elektronik.

Google sebelumnya melakukan pengujian radiasi terhadap TPU di laboratorium. Namun, pengujian di orbit tetap diperlukan karena kondisi sebenarnya di luar angkasa tidak sepenuhnya bisa direplikasi di Bumi.  

Google juga harus menguji sistem pendinginan. Di Bumi, perangkat elektronik dapat mengandalkan udara untuk membantu membuang panas. Di ruang hampa, cara tersebut tidak dapat digunakan.

Karena itu, Project Suncatcher menggunakan heat pipe dan radiator untuk memindahkan panas dari cip.

TPU belum bisa bekerja terus-menerus

Persoalan panas membuat kemampuan komputasi pada tahap awal masih terbatas.

Menurut laporan NPR, TPU dalam satelit tersebut akan menjalankan versi model AI Gemma dalam sesi sekitar 15 menit. Durasi tersebut berkaitan dengan keterbatasan pengelolaan panas.  

Artinya, angka 15 menit tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pengujian awal, bukan batas kemampuan permanen sistem Google di luar angkasa.

Data yang diperoleh dari eksperimen ini nantinya dapat digunakan untuk memperbaiki rancangan sistem berikutnya.

Radiasi dan kondisi peluncuran ikut diuji

Perjalanan menuju orbit juga menjadi bagian dari eksperimen.

TPU harus menghadapi getaran dan gaya besar selama peluncuran. Setelah berada di orbit, cip menghadapi lingkungan dengan radiasi dan perubahan kondisi termal yang berbeda jauh dari data center di Bumi.

Google memang telah melakukan pengujian di laboratorium. Namun, tujuan utama misi ini adalah memperoleh data langsung dari lingkungan luar angkasa.

Google mengatakan beberapa hal memang hanya bisa diuji di luar angkasa. Hasil eksperimen tersebut akan digunakan untuk menentukan apa yang berhasil dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.  

Bagaimana dengan rencana dua satelit pada 2027?

Google memiliki rencana pengembangan berikutnya.

Reuters melaporkan Google berencana mengirim dua satelit pada 2027 untuk menguji komunikasi laser berbandwidth tinggi. Teknologi tersebut diperlukan jika nantinya beberapa satelit komputasi harus saling berkomunikasi dalam satu jaringan.  

Namun, rencana tersebut belum merupakan sesuatu yang sudah terjadi.

Tahap sekarang masih berfokus pada pengujian prototipe dan pengumpulan data dari orbit.

Data center luar angkasa masih jauh dari tahap komersial

Gagasan data center di orbit memang menjadi tujuan jangka panjang Project Suncatcher. Namun, Google sendiri tidak menyatakan bahwa teknologi tersebut sudah siap menggantikan data center di Bumi.

Reuters mencatat konsep tersebut masih menghadapi biaya peluncuran yang tinggi, persoalan teknis, serta tantangan produksi satelit dalam jumlah besar. Laporan tersebut juga menyebut tahap awal Suncatcher dirancang untuk menemukan potensi masalah, bukan untuk menunjukkan bahwa data center orbital sudah dapat beroperasi secara komersial.  

Karena itu, berbagai angka mengenai biaya peluncuran dan skala satelit pada masa depan sebaiknya dipahami sebagai proyeksi atau asumsi dalam penelitian, bukan kepastian bahwa kondisi tersebut akan benar-benar terjadi.

Langkah pertama menuju eksperimen yang lebih besar

Project Suncatcher saat ini baru berada di tahap awal.

Empat TPU yang mengorbit Bumi harus membuktikan bahwa perangkat keras AI dapat bertahan terhadap radiasi, panas, kondisi ruang hampa, serta tekanan selama peluncuran.

Jika hasilnya sesuai harapan, Google masih harus menjawab persoalan lain. Termasuk bagaimana mendinginkan cip dalam skala lebih besar, menghubungkan banyak satelit, menekan biaya peluncuran, dan membuat sistem tersebut layak secara ekonomi.

Jadi, peluncuran Project Suncatcher bukan berarti Google sudah memiliki data center AI di luar angkasa. Ini adalah langkah eksperimental untuk mencari tahu apakah gagasan tersebut secara teknis dan ekonomi layak dikembangkan lebih jauh.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)