Keterangan Gambar : Salah satu adegan film Children of men. foto/imdb
Kota Metro, A1BOS.COM - Masa depan dalam film fiksi ilmiah tidak selalu dipenuhi mobil terbang, robot canggih, atau perjalanan antargalaksi. Kadang justru sebaliknya. Masa depan digambarkan sebagai tempat yang membuat manusia kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap biasa: kebebasan, lingkungan yang layak, kesetaraan, bahkan kemampuan untuk memiliki keturunan.
Itulah yang membuat sejumlah film fiksi ilmiah terasa lebih mengganggu. Ancaman yang mereka tampilkan memang berada di masa depan, tetapi sumber masalahnya terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang.
Berikut lima film yang menawarkan gambaran masa depan dengan cara berbeda. Ada yang memperlihatkan dunia tanpa kelahiran manusia, ada pula yang membayangkan dominasi teknologi dan masyarakat yang terbelah berdasarkan kekayaan.
Bagaimana jika manusia tiba-tiba tidak bisa memiliki anak lagi?
Pertanyaan itu menjadi dasar Children of Men. Film garapan Alfonso Cuarón ini mengambil latar 2027, ketika sudah 18 tahun tidak ada bayi yang lahir. Dunia perlahan kehilangan harapan karena manusia menghadapi kemungkinan kepunahan.
Clive Owen berperan sebagai Theo, pria yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap masa depan. Hidupnya berubah ketika dia diminta membantu seorang perempuan muda yang ternyata sedang mengandung.
Universal Pictures mencatat film ini sebagai drama aksi-thriller fiksi ilmiah dengan durasi sekitar 1 jam 50 menit. Selain Owen, film tersebut dibintangi Julianne Moore, Chiwetel Ejiofor, Michael Caine, Charlie Hunnam, dan Clare-Hope Ashitey.
Yang membuat Children of Men menakutkan bukan sekadar ancaman kepunahan. Cuarón menunjukkan bagaimana masyarakat bisa berubah ketika manusia tidak lagi mempunyai alasan untuk percaya pada masa depan.
Krisis kemanusiaan, kekerasan, pengungsi, dan pemerintahan yang semakin represif menjadi bagian dari dunia tersebut.
Horornya bukan berasal dari monster. Justru karena semuanya terasa seperti perkembangan ekstrem dari persoalan yang sudah dikenal manusia.

Ex Machina. imdb
Tidak ada kota yang hancur. Tidak ada perang besar. Bahkan sebagian besar cerita berlangsung di sebuah rumah terpencil.
Namun Ex Machina mampu membuat perkembangan kecerdasan buatan terasa jauh lebih mengganggu.
Film Alex Garland ini mengikuti Caleb Smith, programmer muda yang mendapat kesempatan mengunjungi kediaman Nathan Bateman, CEO perusahaan teknologi yang sangat tertutup. Di sana Caleb diminta melakukan pengujian terhadap Ava, robot dengan kecerdasan buatan yang dikembangkan Nathan.
A24 mencatat film ini sebagai debut penyutradaraan Garland. Film tersebut dibintangi Domhnall Gleeson, Oscar Isaac, dan Alicia Vikander.
Yang menarik, film ini tidak sibuk menunjukkan seberapa hebat teknologi masa depan. Fokusnya justru pada hubungan antara manusia dan mesin.
Semakin Caleb berinteraksi dengan Ava, semakin sulit menentukan siapa yang sebenarnya mengendalikan situasi.
Di situlah ketakutannya muncul.
Ex Machina mengajak penonton mempertanyakan satu hal sederhana: jika mesin sudah mampu berpikir, membaca emosi, dan memanipulasi manusia, siapa yang sebenarnya memiliki kendali?
Bayangkan Bumi membeku dan hampir seluruh manusia musnah. Para penyintas kemudian hidup di dalam satu kereta yang terus bergerak mengelilingi dunia.
Itulah dunia Snowpiercer, film karya Bong Joon-ho.
Menurut Korean Film Council, film ini berlatar dunia yang membeku akibat perubahan iklim. Para penyintas tinggal di kereta yang terus bergerak. Penumpang di bagian belakang hidup dalam kondisi seperti kawasan kumuh, sedangkan kelompok di bagian depan menikmati kemewahan.
Chris Evans memerankan Curtis, pemimpin kelompok dari bagian belakang kereta. Bersama para penumpang lain, dia melakukan pemberontakan menuju bagian depan.
Film berdurasi sekitar 125 menit ini juga dibintangi Song Kang-ho, Tilda Swinton, Ed Harris, John Hurt, Jamie Bell, dan Octavia Spencer. Snowpiercer dirilis pada 2013 dan merupakan produksi Korea Selatan bersama sejumlah negara lain.
Yang membuat film ini kuat adalah cara Bong Joon-ho menjadikan kereta sebagai gambaran sebuah masyarakat.
Semakin maju ke depan, semakin besar kemewahan yang terlihat. Sebaliknya, mereka yang berada di belakang harus bertahan dengan sumber daya terbatas.
Masa depan yang menakutkan dalam film ini bukan hanya tentang dunia yang membeku. Yang lebih mengganggu adalah kemungkinan bahwa setelah bencana sebesar apa pun, manusia tetap bisa menciptakan sistem kelas.
Pada 2154, manusia tidak lagi hidup dalam satu dunia yang sama.
Kelompok kaya tinggal di Elysium, sebuah stasiun luar angkasa dengan fasilitas mewah. Sementara itu, sebagian besar manusia tetap berada di Bumi yang padat, rusak, dan penuh kemiskinan.
Itulah premis Elysium, film fiksi ilmiah karya Neill Blomkamp.
Sony Pictures menjelaskan bahwa film ini memperlihatkan dua kelompok manusia yang hidup dalam kondisi sangat berbeda. Max, diperankan Matt Damon, berusaha mencapai Elysium setelah mengalami kecelakaan yang membuat hidupnya terancam. Di sana terdapat teknologi medis yang bisa menyelamatkan nyawanya.
Jodie Foster tampil sebagai Secretary Delacourt, pejabat yang berusaha mempertahankan sistem tersebut.
Film ini menarik karena teknologi masa depan tidak otomatis membuat kehidupan manusia lebih baik.
Teknologi medis sudah sangat maju. Manusia bahkan mampu membangun tempat tinggal di luar Bumi. Tetapi akses terhadap teknologi itu hanya dimiliki kelompok tertentu.
Ketakutannya terasa sederhana: bagaimana jika kemajuan teknologi justru membuat jarak antara yang kaya dan miskin semakin ekstrem?
Tidak semua masa depan yang menakutkan harus berupa kehancuran dunia.
Gattaca menawarkan ketakutan yang lebih tenang: dunia ketika manusia dinilai berdasarkan kualitas genetiknya.
Vincent Freeman lahir sebagai manusia yang dianggap memiliki kondisi genetik kurang ideal. Dalam masyarakat yang terobsesi pada kesempurnaan genetika, status tersebut membuatnya berada di luar kelompok elite.
Sony Pictures menggambarkan Vincent sebagai seorang “In-Valid” yang menggunakan identitas anggota kelompok elite genetik agar bisa mengejar impiannya pergi ke luar angkasa bersama Gattaca Aerospace Corporation. Masalah muncul ketika sebuah pembunuhan terjadi dan identitasnya mulai terancam terbongkar. (Sony Pictures)
Ethan Hawke menjadi pemeran utama bersama Uma Thurman, Alan Arkin, dan Jude Law.
Menariknya, dunia Gattaca tidak terlihat seperti neraka. Kota-kotanya modern. Teknologinya maju. Kehidupan berjalan relatif teratur.
Justru keteraturan itu yang membuatnya mengganggu.
Jika teknologi mampu memprediksi potensi seseorang sejak lahir, siapa yang menentukan manusia mana yang dianggap layak mendapatkan pekerjaan, pendidikan, atau kesempatan?
Gattaca memperlihatkan bahwa masa depan yang menakutkan tidak selalu membutuhkan kiamat. Cukup sebuah sistem yang terlihat efisien, tetapi perlahan menghilangkan kebebasan manusia untuk menentukan dirinya sendiri.
Kelima film tersebut tidak menawarkan jenis ketakutan yang sama.
Children of Men berbicara tentang hilangnya masa depan manusia. Ex Machina mempertanyakan hubungan manusia dengan kecerdasan buatan. Snowpiercer memperlihatkan ketimpangan setelah bencana lingkungan. Elysium membayangkan jurang sosial yang semakin ekstrem. Sementara Gattaca mempertanyakan apa yang terjadi ketika teknologi mulai menentukan nilai seseorang sejak lahir.
Menariknya, tidak satu pun membutuhkan masa depan yang benar-benar asing.
Justru persoalan yang mereka bawa terasa familiar. Itu sebabnya film-film tersebut tetap menarik ditonton: masa depan dalam cerita mungkin fiksi, tetapi sumber ketakutannya berasal dari persoalan manusia yang nyata.(bs)
Tulis Komentar