08117992581

Walt Disney, Pernah Gagal dan Diremehkan, tetapi Tak Berhenti Mengejar Mimpi

$rows[judul] Keterangan Gambar : Walt Disney. foto/wikimedia commons.

Tidak semua orang sukses langsung menemukan jalan yang tepat. Ada yang harus jatuh bangun, kehilangan usaha, bahkan memulai lagi dari awal sebelum akhirnya berhasil. Walt Disney mengalami hal serupa.

Kini, namanya dikenal di seluruh dunia. Mickey Mouse, film animasi, dan Disneyland menjadi bagian dari industri hiburan yang besar. Namun, perjalanan Disney menuju kesuksesan tidak selalu menyenangkan. Ia pernah mengalami kebangkrutan, kehilangan hak atas karakter yang diciptakannya, dan mempertaruhkan banyak hal untuk mewujudkan gagasan yang belum tentu berhasil.

Dari perjalanan hidupnya, ada pelajaran yang menarik. Kegagalan memang bisa membuat seseorang kehilangan arah. Namun, kegagalan tidak harus menjadi akhir dari segalanya.

Berawal dari Kegemaran Menggambar

Walt Disney lahir di Chicago, Amerika Serikat, pada 5 Desember 1901. Sejak muda, ia tertarik pada gambar dan cerita visual.

Keluarganya kemudian pindah ke Marceline, Missouri. Kehidupan di lingkungan pedesaan itu ikut membentuk imajinasinya. Pengalaman masa kecilnya kelak memengaruhi suasana dan gagasan dalam sejumlah karyanya.

Saat remaja, Disney mulai serius mengembangkan kemampuan menggambar. Ia belajar membuat ilustrasi dan mencari pekerjaan yang berhubungan dengan seni. Ketertarikannya pada animasi juga tumbuh ketika bidang tersebut mulai berkembang sebagai bentuk hiburan baru.

Namun, punya minat dan kemampuan saja belum cukup. Disney harus mencari cara agar kegemarannya bisa menjadi pekerjaan yang menghasilkan uang.

Ia pun mencoba terjun ke bisnis animasi.

Usahanya Bangkrut, tetapi Tidak Berhenti

Pada awal 1920-an, Disney bekerja di Kansas City dan mulai membuat film animasi pendek. Ia kemudian mendirikan Laugh-O-Gram Films bersama sejumlah rekan.

Studio itu menghasilkan beberapa karya, termasuk film yang menggabungkan animasi dengan cerita Alice in Wonderland. Sayangnya, pekerjaan yang mereka hasilkan belum mampu menutup biaya operasional.

Usaha tersebut akhirnya bangkrut pada 1923.

Bagi Disney, kegagalan itu bukan perkara kecil. Usaha yang dirintisnya harus berhenti, sementara ia masih harus memikirkan kelanjutan kariernya.

Namun, ia tidak meninggalkan dunia animasi. Disney memilih pindah ke Hollywood, California, untuk mencoba peruntungan baru.

Di sana, ia bekerja bersama kakaknya, Roy O. Disney. Keduanya mendirikan Disney Brothers Studio pada 1923. Studio inilah yang kemudian berkembang menjadi The Walt Disney Company.

Memulai lagi tentu bukan jaminan bahwa semuanya akan berjalan lancar. Disney pun masih harus menghadapi banyak tantangan. Namun, pengalaman di Kansas City memberinya pelajaran tentang produksi, biaya, distribusi, dan pentingnya bekerja bersama orang lain.

Kebangkrutan itu tidak serta-merta membuatnya sukses. Setidaknya, ia masih memiliki keterampilan dan pengalaman untuk mencoba kembali.

Kehilangan Oswald, Lalu Menciptakan Mickey Mouse

Perjalanan Disney kembali menghadapi masalah pada 1928. Saat itu, ia kehilangan kendali atas Oswald the Lucky Rabbit, karakter animasi yang sebelumnya dikembangkan bersama timnya.

Oswald cukup populer. Namun, Disney tidak memegang kendali penuh atas hak karakter dan distribusinya.

Masalah tersebut menjadi pukulan besar. Karakter yang telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk dikembangkan itu tidak bisa begitu saja dibawa ke proyek berikutnya. Sejumlah animator yang sebelumnya bekerja bersamanya juga direkrut untuk melanjutkan produksi Oswald tanpa dirinya.

Disney menghadapi pilihan sulit. Ia bisa terus meratapi kehilangan tersebut atau mencari jalan lain.

Bersama Ub Iwerks, ia kemudian mengembangkan karakter baru. Dari proses itulah lahir Mickey Mouse.

Mickey pertama kali tampil dalam film pendek Steamboat Willie, yang dirilis pada November 1928. Film ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan animasi bersuara dan membantu mengangkat nama Disney di industri hiburan.

Kehilangan Oswald memang merugikan Disney. Namun, peristiwa itu juga mendorongnya mengembangkan karakter yang kelak jauh lebih dikenal.

Dalam kehidupan, ada hal-hal yang memang tidak bisa dipertahankan, sekeras apa pun kita menginginkannya. Ketika itu terjadi, pilihan berikutnya adalah menerima keadaan dan memikirkan apa yang masih bisa dilakukan.

Tentu, tidak setiap kehilangan akan berakhir dengan keberhasilan besar. Namun, pengalaman tersebut tetap bisa menjadi bekal untuk melangkah ke arah yang berbeda.

Mempertaruhkan Banyak Hal demi Snow White

Setelah memperoleh perhatian melalui film-film pendek, Disney tidak berhenti pada keberhasilan Mickey Mouse.

Ia ingin membuat film animasi panjang yang mampu menghadirkan cerita, musik, karakter, dan emosi seperti film yang diperankan manusia. Gagasan itu dianggap berisiko karena film animasi panjang belum menjadi bentuk hiburan yang umum di industri perfilman Amerika.

Salah satu proyek terbesarnya adalah Snow White and the Seven Dwarfs.

Produksi film ini membutuhkan biaya besar dan waktu yang tidak sebentar. Disney harus mengembangkan teknik animasi, mengoordinasikan banyak seniman, dan memastikan ceritanya mampu menarik perhatian penonton.

Risikonya cukup tinggi. Jika film itu gagal, studio bisa menghadapi masalah keuangan yang serius.

Namun, Disney tetap melanjutkan proyek tersebut.

Snow White and the Seven Dwarfs tayang perdana pada 21 Desember 1937. Film itu mendapat sambutan positif dan menjadi tonggak penting dalam sejarah film animasi panjang.

Keberhasilan tersebut ikut memperkuat posisi studio Disney.

Dari sini, terlihat bahwa gagasan besar sering kali datang bersama risiko. Namun, keberanian saja tidak cukup. Disney juga membutuhkan tim, pengalaman, perencanaan, dan kerja keras untuk mewujudkannya.

Mimpi boleh besar. Cara mewujudkannya tetap harus dipikirkan dengan matang.

Setelah Sukses, Masalah Tetap Datang

Keberhasilan Snow White and the Seven Dwarfs tidak membuat perjalanan Disney selanjutnya selalu mudah.

Produksi film-film berikutnya membutuhkan biaya besar. Studio juga menghadapi persoalan tenaga kerja dan perubahan kondisi industri film.

Pada 1941, terjadi pemogokan pekerja di studio Disney. Peristiwa itu memengaruhi hubungan antara perusahaan dan sebagian karyawannya. Perang Dunia II juga berdampak pada produksi dan distribusi film.

Bagian ini kerap luput ketika orang membicarakan kesuksesan Disney. Perhatian biasanya tertuju pada Mickey Mouse, film-film terkenal, dan Disneyland. Padahal, di balik perusahaan besar itu, ada persoalan yang harus diselesaikan.

Kesuksesan tidak membuat seseorang kebal terhadap masalah. Bahkan ketika usaha mulai berkembang, tantangan yang datang bisa semakin rumit.

Karena itu, perjalanan Disney tidak tepat jika hanya dilihat sebagai kisah seseorang yang bermimpi, bekerja keras, lalu langsung berhasil. Ada banyak persoalan di sepanjang jalan yang harus ia hadapi.

Mewujudkan Gagasan tentang Disneyland

Setelah sukses di dunia animasi dan film, Disney memiliki keinginan lain. Ia ingin membangun tempat hiburan yang bisa dinikmati anak-anak dan orang dewasa.

Ia membayangkan sebuah taman yang bukan sekadar berisi wahana permainan. Pengunjung juga bisa menikmati cerita, karakter, pertunjukan, dan suasana yang saling terhubung.

Gagasan itu kemudian diwujudkan melalui Disneyland di Anaheim, California.

Membangun taman hiburan tersebut bukan pekerjaan mudah. Disney membutuhkan dana, perencanaan, tenaga ahli, dan kerja sama banyak pihak. Ada pula persoalan teknis yang harus diselesaikan sebelum taman itu bisa dibuka.

Disneyland akhirnya dibuka untuk umum pada 17 Juli 1955.

Hari pembukaannya tidak berjalan sempurna. Sejumlah persoalan teknis dan operasional muncul, tetapi taman hiburan itu kemudian berkembang menjadi salah satu destinasi terkenal di dunia.

Kisah Disneyland memperlihatkan bahwa karya besar tidak selalu lahir dalam keadaan serba siap. Ada masalah yang baru terlihat ketika gagasan mulai diwujudkan.

Yang penting bukan berpura-pura bahwa semuanya berjalan lancar, melainkan bersedia menghadapi persoalan dan mencari jalan keluarnya.

Kesuksesan Tidak Datang Sekaligus

Jika melihat perjalanan Disney dari awal, kesuksesannya tidak muncul dalam satu malam.

Ia memulai dari kegemaran menggambar. Kemudian, ia mencari pekerjaan di bidang ilustrasi, mencoba membuat animasi, mendirikan studio, menciptakan karakter, memproduksi film panjang, hingga membangun taman hiburan.

Tidak semua langkahnya berhasil. Laugh-O-Gram Films bangkrut. Oswald lepas dari kendalinya. Proyek-proyek besar juga membawa risiko tersendiri.

Namun, ia terus mengembangkan kemampuannya dan mencari peluang baru.

Perjalanan seperti ini sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Orang yang ingin membangun usaha tidak harus langsung memiliki perusahaan besar. Mereka bisa memulainya dengan usaha kecil sambil belajar memahami pelanggan dan mengelola keuangan.

Begitu pula dengan karier. Seseorang tidak harus menguasai semuanya sejak awal. Pengalaman, keterampilan, dan keberanian mengambil keputusan bisa berkembang seiring waktu.

Langkah kecil memang tidak menjamin keberhasilan. Namun, tanpa memulai, sebuah rencana akan tetap menjadi angan-angan.

Lima Pelajaran dari Kisah Walt Disney

Perjalanan Disney memberikan sejumlah pelajaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan atau berusaha memulai sesuatu.

1. Kegagalan Bukan Akhir Segalanya

Laugh-O-Gram Films bangkrut pada 1923. Jika Disney berhenti saat itu, perjalanan kariernya mungkin akan berbeda.

Kegagalan usaha memang bisa membawa kerugian, baik secara finansial maupun mental. Namun, satu kegagalan tidak otomatis menentukan seluruh masa depan seseorang.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat penyebabnya. Apakah perencanaannya kurang matang? Apakah biaya terlalu besar? Atau ada faktor di luar kendali?

Jawaban atas pertanyaan itu bisa membantu menentukan langkah berikutnya.

2. Memulai Kembali Tidak Berarti Kembali ke Nol

Setelah usahanya bangkrut, Disney pindah ke Hollywood dan mencoba lagi.

Ia memang harus membangun usaha baru, tetapi tidak kehilangan semua yang telah dipelajarinya. Pengalaman membuat animasi, mengelola produksi, dan bekerja bersama tim tetap menjadi modal.

Hal serupa berlaku bagi siapa pun yang pernah mengalami kegagalan. Ketika memulai kembali, seseorang tetap membawa pengalaman dan pengetahuan dari masa lalu.

Karena itu, jangan hanya menghitung apa yang hilang. Perhatikan juga apa yang masih dimiliki dan bisa dikembangkan.

3. Ketika Satu Jalan Tertutup, Cari Jalan Lain

Kehilangan Oswald membuat Disney tidak bisa melanjutkan semuanya seperti semula. Ia kemudian mengembangkan karakter baru bersama Ub Iwerks.

Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya.

Dalam kehidupan, rencana yang sudah disusun terkadang memang tidak bisa dilanjutkan. Usaha bisa kehilangan pelanggan, pekerjaan bisa berakhir, atau kesempatan yang diharapkan ternyata tidak datang.

Bertahan pada tujuan memang baik, tetapi bukan berarti harus memaksakan satu cara. Ada kalanya strategi perlu diubah agar tetap sesuai dengan keadaan.

4. Mimpi Besar Perlu Kerja Nyata

Disney tidak cukup hanya membayangkan film animasi panjang atau taman hiburan. Ia harus mengumpulkan sumber daya, membangun tim, dan mengatasi persoalan teknis.

Ini menjadi pengingat bahwa ide bagus baru akan berarti jika mulai dikerjakan.

Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Seseorang bisa memulai dari apa yang tersedia, menguji gagasannya, lalu memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

Tentu, langkah yang diambil tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan risiko yang sanggup ditanggung.

5. Terus Belajar dan Bersedia Berubah

Dunia hiburan terus berkembang. Disney pun mengembangkan karyanya dari film animasi pendek menjadi film panjang dan taman hiburan.

Perubahan itu membutuhkan kemampuan untuk melihat peluang di luar pekerjaan yang sudah dikuasai.

Dalam dunia kerja dan usaha, keterampilan yang berguna hari ini belum tentu cukup untuk menghadapi tantangan beberapa tahun mendatang. Karena itu, belajar dan menyesuaikan diri tetap penting.

Tidak semua perubahan akan menghasilkan kesuksesan. Namun, menolak berubah juga bisa membuat seseorang kehilangan kesempatan.

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Mencoba Lagi

Kisah Walt Disney bukan jaminan bahwa setiap orang yang pantang menyerah akan menjadi sukses besar. Keadaan ekonomi, kesempatan, kesehatan, dukungan, dan banyak faktor lain ikut menentukan hasil.

Namun, ada satu hal yang bisa dipetik dari perjalanannya: kegagalan tidak harus membuat seseorang berhenti mencari jalan keluar.

Bagi yang sedang merintis usaha, mungkin ada cara kerja yang perlu diperbaiki. Bagi yang sedang membangun karier, bisa jadi ada keterampilan yang perlu dipelajari. Sementara bagi mereka yang memiliki mimpi lama, mungkin sekarang saatnya memikirkan langkah kecil yang selama ini tertunda.

Tidak semua rencana harus dipertahankan. Ada yang perlu diperbaiki, ada yang harus diubah, dan ada pula yang memang sebaiknya ditinggalkan.

Yang penting, keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan keadaan, bukan semata-mata karena takut gagal lagi.

Walt Disney pernah kehilangan usaha yang dirintisnya. Ia juga kehilangan kendali atas karakter yang telah dikembangkannya. Namun, ia terus berkarya dan mencari peluang baru hingga berhasil membangun perusahaan hiburan yang dikenal luas.

Perjalanannya panjang dan penuh persoalan. Kesuksesan yang kemudian diraih tidak menghapus kegagalan yang pernah dialaminya.

Justru dari perjalanan itulah kita bisa melihat bahwa memulai kembali merupakan bagian dari proses. Sebab, terkadang yang dibutuhkan bukan keberanian untuk melakukan sesuatu yang luar biasa, melainkan kemauan untuk bangkit, belajar dari kesalahan, dan mencoba sekali lagi.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)