Keterangan Gambar : ilustrasi/unsplash
Kota Metro, A1BOS.COM - Melihat teman sebaya mendapat promosi, membangun bisnis, atau memiliki penghasilan lebih besar bisa menimbulkan perasaan campur aduk. Kita ikut senang atas keberhasilan mereka, tetapi diam-diam mungkin bertanya: mengapa karier saya belum sejauh itu?
Perasaan tersebut bisa semakin kuat ketika kabar keberhasilan teman terus bermunculan di media sosial. Teman yang dahulu duduk di bangku kuliah yang sama kini memimpin perusahaan. Sementara itu, kita merasa masih berada di tempat yang sama.
Membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang wajar. Namun, pencapaian teman tidak selalu menjadi ukuran yang tepat untuk menilai perjalanan karier sendiri. Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, tanggung jawab, dan tujuan yang berbeda.
Lantas, bagaimana menghadapi perasaan tertinggal tanpa kehilangan semangat untuk berkembang?
Psikolog sosial Leon Festinger memperkenalkan teori perbandingan sosial pada 1954. Teori ini menjelaskan kecenderungan manusia mengevaluasi kemampuan dan pendapatnya dengan membandingkan diri dengan orang lain.
Dalam dunia kerja, perbandingan itu bisa muncul ketika rekan memperoleh promosi, mendapatkan pekerjaan baru, atau berhasil membangun usaha.
Sebenarnya, kita bisa belajar dari pencapaian orang lain. Masalahnya, perbandingan terkadang berubah menjadi penilaian negatif terhadap diri sendiri.
Melihat teman mendapat jabatan baru, misalnya, bisa membuat kita merasa karier sendiri gagal. Bisnis orang lain yang berkembang pesat juga bisa memunculkan anggapan bahwa kita tidak memiliki kemampuan serupa.
Padahal, yang terlihat biasanya hanya hasil akhirnya. Kita belum tentu mengetahui berapa lama mereka berjuang, risiko yang dihadapi, atau dukungan yang membantu mereka berkembang.
Perasaan tertinggal juga tidak selalu disebabkan oleh kebiasaan membandingkan diri. Kondisi ekonomi, akses pendidikan, kesempatan kerja, tanggung jawab keluarga, dan lingkungan profesional turut memengaruhi perjalanan karier.
Karena itu, memahami perasaan sendiri perlu disertai kesadaran bahwa kesempatan setiap orang memang tidak selalu sama.
Melihat teman berhasil terkadang memunculkan rasa iri. Perasaan ini tidak selalu perlu disangkal. Bisa jadi, ada sesuatu dari pencapaian mereka yang sebenarnya kita inginkan.
Ketika seorang teman mendapat promosi, misalnya, apa yang paling menarik perhatian kita? Jabatannya, penghasilannya, atau kesempatan untuk mengembangkan kemampuan?
Pertanyaan sederhana itu bisa membantu kita memahami keinginan sendiri. Barangkali kita memang ingin memperoleh penghasilan lebih baik. Bisa juga kita merasa pekerjaan sekarang tidak lagi memberikan tantangan.
Nihar Chhaya, pelatih eksekutif dan pengembangan kepemimpinan, membahas persoalan ini dalam artikel The Upside of Career Envy yang diterbitkan Harvard Business Review pada 2020.
Ia mengulas bagaimana kecemburuan terhadap pencapaian profesional dapat digunakan sebagai bahan refleksi dan pembelajaran.
Gagasan tersebut bisa diterapkan dalam situasi sehari-hari. Jika teman berhasil membangun bisnis, kita bisa mempelajari cara ia menemukan pelanggan atau mengelola usahanya. Jika rekan kerja mendapat promosi, pengalamannya mungkin memberi gambaran tentang keterampilan yang dibutuhkan untuk berkembang.
Tentu, tidak semua hal harus ditiru. Kondisi dan tujuan kita bisa berbeda.
Hubungan pertemanan juga tidak harus berubah menjadi persaingan. Kita tetap bisa ikut merayakan keberhasilan teman, meminta saran, dan belajar dari pengalamannya tanpa merasa harus mencapai hal yang sama pada waktu bersamaan.
Ketika karier belum sesuai harapan, kita kadang menjadi terlalu keras terhadap diri sendiri.
Promosi yang belum datang dianggap sebagai bukti ketidakmampuan. Kegagalan memperoleh pekerjaan tertentu membuat kita meragukan masa depan profesional.
Padahal, satu hasil tidak selalu menggambarkan seluruh kemampuan seseorang.
Psikolog Kristin Neff dikenal melalui penelitiannya tentang self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan pengertian ketika menghadapi kesulitan, kekurangan, atau kegagalan.
Dalam penelitian bersama Roos Vonk yang diterbitkan pada 2009, Neff membahas hubungan self-compassion dengan harga diri dan berbagai aspek fungsi psikologis.
Konsep ini bukan berarti kita harus menerima semua keadaan tanpa berusaha mengubahnya. Sebaliknya, kita belajar menghadapi kekurangan tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Bayangkan seorang karyawan yang sudah beberapa kali mengajukan diri untuk promosi, tetapi belum berhasil. Ia tentu boleh kecewa. Namun, daripada langsung menyimpulkan dirinya tidak kompeten, ada baiknya ia mencari tahu apa yang masih perlu ditingkatkan.
Bisa jadi ada keterampilan yang belum dikuasai. Namun, mungkin juga kesempatan promosi di tempat kerjanya memang terbatas.
Membedakan kedua hal tersebut membantu kita melihat persoalan secara lebih jernih. Tidak semua hambatan harus dibebankan pada kekurangan pribadi.
Sebagian orang mengejar target karier karena benar-benar menginginkannya. Sebagian lainnya mungkin merasa harus mencapainya karena teman sebaya sudah lebih dahulu berhasil.
Perbedaannya tidak selalu mudah dikenali.
Keinginan memiliki penghasilan lebih besar, memperoleh jabatan tinggi, atau membangun bisnis merupakan tujuan yang wajar. Namun, semuanya perlu dipertimbangkan bersama kebutuhan dan kondisi kehidupan masing-masing.
Bagi seseorang, karier yang baik berarti memiliki kesempatan memimpin tim. Bagi orang lain, pekerjaan yang stabil dengan waktu cukup untuk keluarga mungkin lebih sesuai.
Ada pula yang ingin berganti bidang pekerjaan karena merasa tidak lagi berkembang di tempat sekarang.
Coba lihat kembali apa yang sebenarnya diharapkan dari pekerjaan. Apakah penghasilan menjadi prioritas utama? Apakah kita membutuhkan tantangan baru, kesempatan belajar, atau lingkungan kerja yang lebih sehat?
Jawabannya bisa berubah seiring waktu. Kebutuhan seseorang pada awal karier tentu belum tentu sama ketika sudah memiliki tanggung jawab keluarga.
Ukuran keberhasilan pribadi juga bukan berarti mengabaikan kenyataan. Kondisi keuangan, kebutuhan keluarga, dan peluang di pasar kerja tetap perlu diperhitungkan.
Namun, memahami prioritas sendiri bisa membantu kita menentukan langkah tanpa terus-menerus merasa harus menyamai pencapaian orang lain.
Ketika terlalu sering melihat pencapaian orang lain, perkembangan pribadi mudah terlewatkan.
Kita mungkin lupa bahwa beberapa tahun lalu belum menguasai keterampilan yang sekarang digunakan setiap hari. Tanggung jawab pekerjaan juga bisa bertambah, meskipun jabatan belum berubah.
Mengevaluasi perjalanan sendiri dapat memberikan gambaran yang lebih utuh.
Periode enam bulan atau satu tahun bisa menjadi bahan refleksi. Dalam rentang waktu tersebut, apakah ada kemampuan baru yang dikuasai? Apakah pekerjaan menjadi lebih baik? Apakah pengalaman bertambah atau masalah yang dahulu sulit kini lebih mudah diselesaikan?
Kemajuan tidak selalu terlihat dari promosi dan kenaikan penghasilan. Pengalaman, kompetensi, jaringan profesional, dan kemampuan mengambil keputusan juga bisa menjadi modal untuk kesempatan berikutnya.
Namun, evaluasi diri perlu melihat hambatan yang dihadapi. Jika perkembangan karier terhenti karena minimnya kesempatan, lingkungan kerja yang tidak mendukung, atau akses pelatihan yang terbatas, persoalan tersebut juga perlu diperhitungkan.
Dengan begitu, kita tidak hanya bertanya apa yang kurang dari diri sendiri, tetapi juga memahami apa yang sebenarnya menghambat perkembangan karier.
Perasaan tertinggal terkadang membuat kita ingin mengubah banyak hal sekaligus. Ingin berganti pekerjaan, meningkatkan penghasilan, mengikuti pelatihan, sekaligus memulai bisnis.
Ketika terlalu banyak target muncul bersamaan, menentukan langkah pertama justru terasa sulit.
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah memilih satu atau dua prioritas untuk tiga bulan ke depan.
Jika ingin meningkatkan peluang promosi, misalnya, kita bisa membicarakan keterampilan yang dibutuhkan dengan atasan. Jika ingin berganti karier, langkah awalnya mungkin mencari informasi tentang bidang yang diminati dan kompetensi yang diperlukan.
Target tersebut tidak menjamin hasil dalam waktu singkat. Namun, rencana yang konkret bisa membantu mengubah kecemasan menjadi tindakan yang lebih terarah.
Pengejaran karier juga perlu dipertimbangkan bersama kebutuhan hidup lainnya. Ada orang yang sedang berada pada fase penting dalam pekerjaan sehingga membutuhkan usaha ekstra. Ada pula yang harus membagi waktu dengan keluarga atau menghadapi keadaan yang membatasi ruang geraknya.
Kecepatan setiap orang tidak selalu sama. Target karier pun perlu disesuaikan dengan kemampuan, sumber daya, dan tanggung jawab masing-masing.
Hal serupa berlaku ketika menggunakan media sosial.
Penelitian Nao Fukubayashi dan Kei Fuji yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 2021 menemukan hubungan antara paparan unggahan karier positif, perbandingan sosial, dan frustrasi karier.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap responden di Jepang. Karena itu, hasilnya tidak otomatis mewakili pengalaman semua orang, termasuk pekerja di Indonesia yang memiliki kondisi ekonomi, budaya kerja, dan kebiasaan bermedia sosial yang beragam.
Meski demikian, penelitian itu memberi gambaran tentang bagaimana paparan pencapaian orang lain dapat berkaitan dengan frustrasi karier.
Jika media sosial justru membuat kita terus merasa tertinggal, mengurangi waktu mengakses konten tertentu bisa menjadi pilihan. Di sisi lain, platform yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk mencari informasi pekerjaan, mengikuti perkembangan industri, dan belajar dari pengalaman profesional orang lain.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah penggunaannya membantu kita berkembang atau justru membuat penilaian terhadap diri sendiri semakin negatif.
Melihat teman lebih dahulu mendapat promosi atau berhasil membangun bisnis memang bisa memunculkan pertanyaan tentang perjalanan sendiri. Perasaan itu manusiawi, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya dasar untuk menilai masa depan.
Teori perbandingan sosial Leon Festinger membantu menjelaskan kecenderungan kita membandingkan diri dengan orang lain. Kajian Kristin Neff menawarkan perspektif tentang cara menghadapi kekurangan dengan lebih berimbang, sedangkan pandangan Nihar Chhaya memberikan sudut pandang tentang bagaimana rasa iri terhadap karier dapat menjadi bahan pembelajaran.
Pada akhirnya, perjalanan karier dipengaruhi oleh usaha pribadi sekaligus keadaan di luar kendali kita. Ada hal yang bisa diperbaiki melalui pembelajaran, tetapi ada pula hambatan yang membutuhkan dukungan, waktu, atau perubahan lingkungan.
Ketika teman mendapat promosi, sementara kita masih berusaha menyelesaikan persoalan di pekerjaan sendiri, tidak ada salahnya berhenti sejenak untuk melihat keadaan secara lebih utuh.
Mungkin memang ada kemampuan yang perlu ditingkatkan. Mungkin pula kita perlu mencari lingkungan kerja yang menawarkan kesempatan lebih baik.
Yang jelas, memahami posisi sendiri akan lebih berguna daripada terus-menerus mengukur jarak dengan pencapaian orang lain.
Tulis Komentar