Kota Metro, A1BOS.COM - Mendampingi anak belajar di rumah bukan sekadar membantu mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Cara orang tua mengelola emosi dan berkomunikasi dengan anak turut menentukan terciptanya suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Parenting Fase A yang ditujukan bagi wali murid kelas 1 dan 2 UPTD SD Negeri 7 Metro Utara. Kegiatan mengangkat tema “Peran Ayah dan Bunda Dalam Mengelola Emosi & Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak” dan berlangsung di aula UPTD SD Negeri 7 Metro Utara, 26 September 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala SDN 7 Metro Utara Susilowati, S.Pd., Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kota Metro Asrori Mangku Alam, S.H., M.H., narasumber parenting Gatot Subroto, S.H., wali kelas 1 dan 2, serta orang tua/wali murid.

Dalam pemaparannya, Gatot Subroto mengajak para orang tua untuk terlebih dahulu mengelola emosi sebelum mendampingi anak belajar. Menurutnya, anak sedang berada dalam proses belajar sehingga perilaku yang dianggap sebagai “malas” atau “membangkang” perlu dipahami terlebih dahulu.
“Ketika mulai emosi, orang tua perlu mengambil jeda. Berhenti sejenak, tarik napas, kemudian lihat kembali posisi anak. Anak sedang belajar, bukan sedang melawan orang tua,” kata Gatot.
Ia menjelaskan, pola pendampingan yang reaktif, seperti menggunakan nada tinggi, ancaman, maupun membandingkan anak dengan teman-temannya, justru dapat membuat anak merasa takut dan tidak nyaman untuk belajar.
Sebaliknya, orang tua dapat menerapkan pola responsif dengan mencari tahu hambatan yang sedang dialami anak dan mengajak anak menemukan solusi bersama.
Gatot juga memberikan contoh perubahan kalimat dalam mendampingi anak. Kalimat seperti “Soal semudah ini saja tidak bisa?” dapat diganti dengan pertanyaan yang lebih membangun seperti, “Bagian mana yang paling membingungkan? Yuk kita urai.”
“Tujuannya bukan sekadar membuat anak menyelesaikan tugas, tetapi membangun hubungan yang membuat anak merasa didukung, dihargai, dan aman ketika belajar,” ujarnya.
Menurut Gatot, orang tua juga perlu memahami bahwa motivasi anak tidak selalu muncul karena hadiah atau takut mendapat hukuman. Motivasi intrinsik dapat tumbuh ketika anak memiliki rasa ingin tahu dan merasa bangga karena mampu menyelesaikan tantangan.
Karena itu, ia mendorong orang tua untuk memberikan apresiasi terhadap proses dan kegigihan anak, bukan semata-mata berorientasi pada angka di rapor.
Kepala SDN 7 Metro Utara, Susilowati, S.Pd., mengatakan kegiatan parenting tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesamaan pemahaman antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

“Anak-anak kelas 1 dan 2 sedang berada pada fase awal pendidikan dasar. Karena itu, kami ingin orang tua dan sekolah memiliki pemahaman yang sama bahwa mendidik anak bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang karakter, emosi, kebiasaan, dan rasa percaya diri anak,” ujar Susilowati.
Ia berharap materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dapat diterapkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
“Harapan kami, setelah kegiatan ini komunikasi antara orang tua dan anak semakin baik. Ketika ada persoalan belajar, mari kita hadapi bersama dengan komunikasi yang positif, sehingga anak merasa rumah dan sekolah adalah tempat yang aman untuk tumbuh dan belajar,” katanya.
Sementara itu, Ketua LPAI Kota Metro, Asrori Mangku Alam, S.H., M.H., menegaskan bahwa perlindungan anak tidak hanya dilakukan ketika terjadi persoalan, tetapi juga dimulai dari lingkungan keluarga.
“Rumah merupakan lingkungan pertama bagi anak. Karena itu, perlindungan dan pemenuhan hak anak harus dimulai dari cara orang tua berkomunikasi, mendampingi, memberikan kasih sayang, serta menghargai proses tumbuh kembang anak,” kata Asrori.

Ia menambahkan, kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan lembaga perlindungan anak diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara utuh.
Dalam materi parenting, orang tua juga diajak membangun psychological safety dalam proses belajar, yakni menciptakan suasana ketika anak tidak takut dimarahi saat jawabannya salah, berani bertanya, serta mendapatkan dukungan keluarga dalam proses belajarnya.
Selain itu, keterlibatan ayah dan ibu dinilai penting. Pengasuhan tidak semestinya menjadi tanggung jawab salah satu pihak saja. Ayah dan bunda dapat saling menggantikan ketika salah satu sedang lelah sehingga pendampingan terhadap anak tetap berlangsung dalam suasana yang positif.
Pesan utama yang ditekankan dalam kegiatan tersebut adalah **“Koneksi Dulu, Koreksi Nanti.”** Orang tua diajak mendekati hati anak sebelum membimbing pikirannya, menjadikan rumah sebagai tempat yang aman, serta terus belajar memperbaiki pola pengasuhan.
Melalui kegiatan Parenting Fase A ini, SDN 7 Metro Utara bersama LPAI Kota Metro mendorong terbangunnya sinergi antara sekolah dan keluarga untuk mendukung anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, percaya diri, dan memiliki motivasi belajar. (Red)
Tulis Komentar