Keterangan Gambar : Howard Schultz-Starbucks. foto/pexexs
Kota Metro, A1BOS.COM - Howard Schultz tidak langsung menjadi sosok yang identik dengan Starbucks. Sebelum memimpin perusahaan itu, ia justru pernah meninggalkannya dan membangun bisnis kopi sendiri.
Pada 1982, Schultz bergabung dengan Starbucks sebagai direktur operasi ritel dan pemasaran. Saat itu, Starbucks baru memiliki beberapa toko di Seattle dan bisnis utamanya masih berfokus pada penjualan biji kopi.
Pada 1983, Schultz pergi ke Milan, Italia. Di sana, ia melihat budaya minum kopi yang berbeda dari kebiasaan di Amerika Serikat.
Orang-orang tidak sekadar membeli kopi untuk dibawa pulang. Mereka duduk, berbincang, membaca, dan menjadikan kedai kopi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pengalaman itu membuat Schultz melihat peluang. Ia membayangkan Starbucks bukan hanya sebagai toko penjual biji kopi, tetapi juga sebagai tempat orang menikmati minuman dan menghabiskan waktu.
Sekembalinya ke Seattle, ia mencoba memperkenalkan gagasan tersebut kepada para pendiri Starbucks. Schultz kemudian meyakinkan perusahaan untuk menguji penjualan minuman espresso. Percobaan itu menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Namun, para pendiri Starbucks belum tertarik mengubah arah bisnis perusahaan.
Mereka ingin Starbucks tetap berfokus pada penjualan biji kopi. Perbedaan pandangan itu akhirnya membuat Schultz mengambil keputusan.
Pada 1985, ia meninggalkan Starbucks dan mendirikan perusahaan sendiri bernama Il Giornale.
Il Giornale terinspirasi dari kedai-kedai kopi Italia yang dilihat Schultz di Milan. Konsepnya menggabungkan kopi, minuman espresso, dan suasana yang membuat pelanggan bisa duduk lebih lama. Namun, mengubah gagasan menjadi bisnis membutuhkan modal.
Dalam bukunya, Schultz mengatakan bahwa ia berbicara dengan 242 calon investor ketika mencari pendanaan. Sebanyak 217 orang menolak tawarannya.
Dengan dukungan investor, Il Giornale akhirnya membuka kedai pertamanya dan kemudian berkembang menjadi tiga lokasi.
Saat itu, Starbucks masih memiliki hubungan dengan Il Giornale. Starbucks menjadi salah satu investor awal, sementara Il Giornale menggunakan biji kopi Starbucks untuk minuman yang dijualnya.
Dua tahun setelah Schultz meninggalkan Starbucks, perusahaan lamanya kembali masuk ke dalam ceritanya.
Pada Maret 1987, para pendiri Starbucks memutuskan menjual nama perusahaan, fasilitas pemanggangan kopi, dan enam toko di Seattle. Schultz melihat kesempatan tersebut.
Il Giornale kemudian mengumpulkan dana sebesar 3,8 juta dolar AS dengan dukungan investor lokal. Pada Agustus 1987, perusahaan itu berhasil membeli aset Starbucks.
Setelah transaksi selesai, Il Giornale mengadopsi nama Starbucks dan berubah menjadi Starbucks Corporation. Schultz pun kembali ke Starbucks.
Kali ini posisinya berbeda. Ia bukan lagi karyawan yang berusaha meyakinkan pendiri perusahaan tentang gagasan kedai kopi. Ia datang sebagai pemimpin perusahaan yang baru saja membeli Starbucks.
Setelah berada di bawah kepemimpinan Schultz, Starbucks mulai memperluas jaringan gerainya.
Pada 1987, perusahaan membuka gerai di Chicago dan toko pertamanya di luar Amerika Serikat, yaitu di Vancouver, Kanada. Starbucks mencatat total 17 toko pada tahun tersebut.
Pada 1992, Starbucks menyelesaikan penawaran saham perdana atau IPO dengan 165 toko.
Perusahaan itu kemudian tumbuh jauh melampaui enam toko di Seattle yang dibeli Schultz pada 1987.
Tetapi sebelum semua itu terjadi, Schultz pernah menjadi karyawan Starbucks, berbeda pandangan dengan pendirinya, lalu memilih pergi.
Ia membangun Il Giornale, mencari investor, mendapat 217 penolakan, dan akhirnya kembali ke Starbucks melalui perusahaan yang dibangunnya sendiri.
Tulis Komentar