Lampung Timur, A1BOS.COM - Selama 5 hari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur menggelar kegiatan workshop pendidikan layanan khusus inklusi di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur, Rabu (04/12/2024).
Dikatakan Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Lampung Timur, Wahyuni, S.IP., mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Timur, H. Marsan, M.Pd, bahwa kegiatan tersebut wajib dilaksanakan oleh satuan pendidikan yang ada di Lampung Timur.
"Dengan maksud memperlancar kegiatan belajar mengajar secara maksimal sesuai kemampuan aspek jasmani dan rohani," ujarnya.

Ia menuturkan, dalam giat tersebut dihadiri 420 guru SMP dan 480 guru SD se-Kabupaten Lampung Timur.
"Saya berharap guru-guru yang hadir dalam kegiatan ini dapat menerima dan melaksanakan program inklusi ini di seluruh satuan pendidikan dan tidak membeda-bedakan antara anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak yang normal," kata Wahyuni.
Sementara itu hal senada juga disampaikan narasumber Workshop Pendidikan Layanan Khusus Inklusi, Prof. Dr. Sowiyah, M.Pd. bahwa dirinya memberikan pemahaman pendidikan inklusi kepada Guru dan Kepala Sekolah se-Kabupaten Lampung Timur.

"Diinklusifnya itu ada dua, yang pertama itu adalah PKLK yaitu pendidikan khusus yang mana dari lahir itu sudah ada keistimewaan, beda dengan yang lain," terangnya.
Adapun untuk LK pada pendidikan inklusif adalah khusus untuk anak yang kurang beruntung.
"Secara ekonomi, karena perceraian orang tua yang memang daerah terpencil itu perlu layanan khusus, dan harapan saya kedepan workshop dan sosialisasi ini di Kabupaten Lampung Timur harus ada tindak lanjut, harus ada file project atau roll model pada SD dan SMP yang betul-betul melaksanakan inklusif agar semua warga sekolah itu dapat memahami program inklusif," ungkapnya.
Menurutnya, Kabupaten Lampung Timur harus memiliki roll model pada pendidikan inklusif pada SD dan SMP.
"Karena setelah saya sampaikan tadi masih banyak yang belum paham, tentunya di sekolah ini harus ada pelatihan-pelatihan, minimal satu sekolah itu dua guru sebagai guru pendamping khusus atau Sidu Teacher," pungkasnya. (Aliando)
Tulis Komentar