A1BOS.COM - Dikisahkan, setelah memakamkan seorang panglima perang yang gugur dalam perang melawan musuh, sang raja memanggil dua orang prajurit yang sebelumnya menjadi asisten panglima perang tersebut. Raja berkata, “Bersediakah kalian berdua untuk mengantarkan surat permohonan dukungan kepada Raja Macan agar mereka membantu kita dalam melawan musuh karena kita telah kehilangan panglima perang kita?”
“Kami bersedia, Raja,” jawab kedua prajurit sambil menundukkan kepala sebagai rasa hormat mereka kepada sang raja. “Dalam perjalanan kalian harus berhati-hati karena di luar sana banyak sekali musuh yang sedang mengintai kita. Jangan sampai terjadi hal buruk pada kalian.”
“Baik, Raja,” jawab keduanya lagi. “Raja tidak perlu mengkhawatirkan kami karena kami telah terbiasa di medan perang. Kami bisa mengatasi apa pun yang akan terjadi,” sambung seorang prajurit.
“Saya tahu bahwa kalian sering berada di medan perang, tetapi kalian harus selalu berhati-hati,” sambung raja mengingatkan.
“Siap, Raja,” jawab kedua prajurit.
“Dua surat ini isinya sama. Masing-masing dari kalian membawa satu surat. Terserah kalian mau berjalan bersama atau sendiri-sendiri. “Saya beri kalian waktu sampai besok sore. Saya harap besok malam saya sudah menerima balasan surat dari Raja Macan,” perintah sang raja.
Kedua prajurit tersebut menyanggupi perintah sang raja. Mereka pun segera menjalankan perintah sang raja begitu menerima surat yang akan dikirim. Mereka mengatur rencana untuk mengirimkan surat raja tersebut. Keduanya sepakat untuk berjalan terpisah agar tidak diketahui oleh musuh.
Saat malam tiba, asisten kedua memutuskan untuk pergi mengantarkan surat dari rajanya kepada Raja Macan. Ia memilih pergi saat malam hari agar tidak ketahuan oleh musuh. Ia yakin bahwa saat malam, tidak semua musuh berjaga. Jadi, ia bisa lolos sampai di istana Raja Macan lalu kembali dengan selamat.
Sementara itu, asisten satu panglima menunggu hingga esok hari baru berangkat. Malam hari itu ia ingin beristirahat terlebih dahulu.
Keesokan sorenya, asisten dua panglima telah kembali dan membawa serta surat balasan dari Raja Macan. Ia segera menghadap raja untuk menyerahkan surat balasan tersebut. “Salam, Yang Mulia. Saya telah kembali dan membawa serta surat dari Raja Macan.”
“Terima kasih. Bagaimana kamu mampu kembali tepat waktu?” tanya sang raja sambil membaca surat balasan dari Raja Macan. “Saya pergi ke istana Raja Macan semalam, saat semua orang, dan musuh, sedang tidur pulas,” jawab prajurit. Raja pun mengucapkan terima kasih kepada prajurit dan menyuruhnya kembali ke tempatnya berjaga.
Menjelang malam, asisten satu panglima menghadap. “Maafkan saya yang mulia, karena saya tidak bisa mengantarkan surat dari Yang Mulia kepada Raja Macan karena di luar sana banyak sekali musuh. Saya tidak mampu mencapai istana Raja Macan,” kata prajurit sambil menundukkan kepala, siap menghadapi kemarahan raja. Sang raja tidak berkata apa pun dan hanya menyuruhnya kembali ke tempatnya berjaga.
Dua hari kemudian, lonceng istana berbunyi, pertanda semua prajurit diperintahkan untuk berkumpul di dalam ruang rapat istana untuk bertemu dengan raja. Semua prajurit pun segera menuju ruang rapat istana untuk menghadiri pertemuan tersebut.
Setelah semua prajurit berkumpul di dalam ruang rapat istana, sang raja segera memulai pertemuan, “Saudara-saudara, hari ini saya akan memilih dan menunjuk seseorang yang saya anggap sebagai orang yang paling pantas untuk menggantikan mendiang panglima perang kita.”
Seketika, seluruh prajurit saling bertanya tentang siapakah yang akan ditunjuk sebagai pengganti panglima. “Melalui pertimbangan yang sangat matang, saya mempercayakan jabatan panglima perang kepada prajurit yang sebelumnya menjabat sebagai asisten dua panglima. Ia telah berhasil menyelesaikan tugas untuk mengirimkan surat permohonan dukungan dari saya kepada Raja Macan untuk membantu kita dalam berperang melawan musuh,” jelas sang raja.
Cerita di atas mengingatkan kita bahwa orang yang sukses adalah mereka yang selalu bertindak lebih cepat. Mereka bukan tipe orang yang hanya bisa berbicara. Mereka juga bukan hanya membuat rencana. Mereka berani untuk bertindak. Tindakan adalah awal dari kesuksesan. Tindakan nyata diperlukan untuk meraih keberhasilan. Mereka yang gagal biasanya hanya bisa berbicara dan berencana tanpa disertai tindakan nyata.
Orang yang sukses umumnya adalah orang yang berani menerima segala konsekuensi, yang baik maupun yang paling pahit. Mereka berani bertindak. Mereka berani mencoba.
Mereka juga berani gagal. Orang yang gagal sering diliputi rasa takut. Takut bertindak. Takut memulai. Takut mencoba, dan takut menemui kegagalan.
Oleh karena itu, jadilah pribadi yang selalu berani. Berani bertindak. Berani sukses. Berani mencoba. Berani memulai dan berani menerima segala konsekuensi. Untuk meraih kesuksesan kita harus berani bertindak dan menerima semua akibat yang mungkin terjadi.
Sesungguhnya, tindakan kita lebih penting dari apa pun. Jika kita memiliki pengetahuan yang luas tetapi tidak berani untuk bertindak, sampai kapan pun kita tidak akan mencapai kesuksesan. Jika kita memiliki kepekaan dalam melihat peluang, tetapi tidak ada tindakan untuk memulai atau mencobanya, maka semuanya akan sia-sia pula.
Apa pun yang kita inginkan pasti terwujud jika ada tindakan nyata, bukan hanya sebatas rencana atau kata-kata. Bertindaklah lebih cepat untuk melakukan apa pun dengan sebaik mungkin.
Sumber : https://titikdua.net/cerita-inspiratif/
Tulis Komentar